Makan Terlalu Cepat Bisa Tingkatkan Risiko Sindrom Metabolik

Kebiasaan makan terburu-buru mungkin dianggap remeh. Namun, apa yang sebenarnya terjadi pada tubuh ketika seseorang makan terlalu cepat?
Kebiasaan makan terburu-buru mungkin dianggap remeh. Namun, apa yang sebenarnya terjadi pada tubuh ketika seseorang makan terlalu cepat?

Fativa.id – Di tengah rutinitas harian yang padat, banyak orang tidak lagi menjadikan waktu makan sebagai prioritas. Sarapan kerap dilakukan dengan tergesa-gesa sebelum berangkat bekerja, makan siang diselingi menyelesaikan tugas, sementara makan malam sering disantap dalam waktu singkat karena tubuh sudah kelelahan.

Sekilas, kebiasaan tersebut mungkin terlihat biasa saja. Namun, pola makan yang terlalu cepat ternyata dapat memberikan pengaruh terhadap kesehatan, terutama berkaitan dengan pengaturan nafsu makan dan metabolisme tubuh.

Kecepatan seseorang saat mengonsumsi makanan bukan sekadar persoalan kebiasaan. Cara makan dan proses mengunyah juga berperan dalam membantu tubuh mengatur jumlah asupan yang dibutuhkan.

Salah satu penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Frontiers in Nutrition menemukan adanya hubungan antara kebiasaan makan cepat dan meningkatnya kemungkinan seseorang mengalami sindrom metabolik.

Sindrom metabolik merupakan gabungan sejumlah gangguan kesehatan yang dapat meningkatkan risiko penyakit jantung dan diabetes tipe 2. Beberapa indikatornya meliputi penumpukan lemak di sekitar perut, tekanan darah tinggi, peningkatan gula darah, serta ketidakseimbangan kadar lemak dalam darah.

Salah satu faktor yang diduga menjelaskan hubungan tersebut adalah keterlambatan tubuh dalam menerima dan merespons tanda-tanda kenyang.

Tubuh membutuhkan waktu untuk mengirimkan sinyal bahwa kebutuhan makanan telah terpenuhi. Jika seseorang makan terlalu cepat, jumlah makanan yang masuk bisa bertambah sebelum sinyal kenyang tersebut muncul.

Kondisi ini berpotensi membuat seseorang mengonsumsi kalori melebihi kebutuhan tubuhnya.

Mengunyah Berpengaruh terhadap Rasa Kenyang

Selain kecepatan makan, aktivitas mengunyah juga memiliki peran dalam proses pengaturan asupan makanan.

Baca Juga  Mengenal Sup Terbaik Dunia, Termasuk Soto Ayam dari Indonesia

Mengunyah bukan hanya bertujuan menghancurkan makanan agar mudah ditelan. Aktivitas otot rahang dan rangsangan sensorik di dalam mulut turut terlibat dalam mekanisme pencernaan serta pengendalian nafsu makan.

Hal tersebut turut dibahas dalam penelitian berjudul Effects of Chewing on Appetite, Food Intake and Gut Hormones: A Systematic Review and Meta-analysis.

Hasil sejumlah eksperimen yang dianalisis menunjukkan bahwa aktivitas mengunyah berpotensi membantu mengurangi jumlah makanan yang dikonsumsi. Penelitian tersebut juga menemukan bahwa peningkatan jumlah kunyahan dalam beberapa percobaan berkaitan dengan perubahan hormon pencernaan yang berperan dalam munculnya rasa kenyang.

Temuan ini memperlihatkan bahwa kebiasaan mengunyah secara cukup dapat membantu tubuh mengenali asupan makanan dengan lebih baik.

Dampak Jika Makanan Tidak Dikunyah Secara Optimal

Proses pencernaan sebenarnya sudah dimulai sejak makanan masuk ke dalam mulut. Pada tahap awal ini, gigi dan air liur bekerja sama untuk mempersiapkan makanan sebelum diteruskan menuju lambung.

Gigi bertugas memotong, merobek, serta menghaluskan makanan menjadi bagian yang lebih kecil. Proses tersebut dikenal sebagai pencernaan mekanis.

Selanjutnya, makanan bercampur dengan air liur hingga membentuk bolus, yakni gumpalan makanan yang lebih lunak dan siap ditelan.

Air liur juga memiliki kandungan enzim, termasuk amilase saliva, yang berfungsi memulai pemecahan pati atau karbohidrat kompleks. Artinya, proses penguraian makanan sudah berlangsung bahkan sebelum makanan mencapai lambung.

Apabila makanan ditelan dalam kondisi masih terlalu kasar atau belum cukup dikunyah, proses menelan dapat terasa kurang nyaman. Ukuran dan tekstur makanan yang belum sesuai juga dapat membuat tahapan awal pencernaan berlangsung kurang optimal.

Baca Juga  Oleh-Oleh Semarang, Sajian Tradisional dan Kerajinan Unik untuk Keluarga

Meski demikian, bukti penelitian mengenai hubungan langsung antara kurang mengunyah dan gangguan pencernaan masih terbatas. Karena itu, dampaknya tidak bisa disamaratakan pada setiap individu.

Biasakan Makan dengan Lebih Tenang

Untuk mendapatkan manfaat dari proses mengunyah, seseorang tidak harus terpaku pada jumlah kunyahan tertentu dalam setiap suapan.

Hal yang lebih penting adalah memastikan makanan sudah cukup lembut sebelum ditelan. Dengan begitu, makanan lebih mudah melewati proses menelan dan dapat diteruskan ke tahapan pencernaan berikutnya.

Mengatur kecepatan makan juga memberikan kesempatan bagi tubuh untuk merespons asupan yang masuk, termasuk memunculkan sinyal kenyang sebelum seseorang mengonsumsi makanan secara berlebihan.

Karena itu, sesibuk apa pun aktivitas sehari-hari, sebaiknya jangan menjadikan waktu makan sebagai kegiatan yang harus diselesaikan secepat mungkin.

Luangkan waktu untuk menikmati makanan, kunyah hingga teksturnya cukup halus, dan hindari kebiasaan menelan makanan secara terburu-buru. Kebiasaan sederhana ini dapat menjadi salah satu langkah untuk mendukung pola makan yang lebih sehat.(YU)