BRIN Siapkan Strategi Pengendalian Begomovirus

Begomovirus bisa jadi ancaman serius buat komoditas sayuran. Apa itu Begomovirus?
Begomovirus bisa jadi ancaman serius buat komoditas sayuran. Apa itu Begomovirus?

Jakarta – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengajak berbagai pihak memperkuat upaya pengendalian Begomovirus yang berpotensi menimbulkan kerugian besar bagi sektor pertanian, khususnya budidaya tanaman sayuran.

Virus tanaman tersebut menjadi salah satu ancaman serius karena dapat mengganggu pertumbuhan hingga menurunkan hasil produksi berbagai komoditas hortikultura. Cabai dan tomat termasuk tanaman yang rentan mengalami serangan.

Persoalan tersebut menjadi perhatian BRIN dalam sebuah kegiatan webinar yang membahas ancaman Begomovirus sekaligus strategi penanganannya agar dampak terhadap produktivitas pertanian dapat diminimalkan.

Kepala Organisasi Riset Pertanian dan Pangan (ORPP) BRIN, Puji Lestari, menyampaikan bahwa sektor sayuran mempunyai peranan penting dalam menjaga ketahanan pangan nasional. Selain menjadi sumber pangan, komoditas tersebut juga berkontribusi terhadap pemenuhan kebutuhan gizi masyarakat.

Karena itu, berbagai ancaman penyakit tanaman perlu ditangani secara serius agar ketersediaan dan produktivitas sayuran tetap terjaga.

Mengenal Begomovirus dan Dampaknya

Begomovirus merupakan kelompok virus yang menyerang tanaman, terutama berbagai jenis komoditas hortikultura. Virus ini termasuk dalam famili Geminiviridae dan memiliki sedikitnya 466 spesies yang telah teridentifikasi.

Penularannya umumnya melibatkan kutu kebul (Bemisia tabaci) yang berperan sebagai serangga pembawa virus atau vektor.

Mengacu pada informasi BRIN, tanaman yang terinfeksi Begomovirus dapat memperlihatkan sejumlah perubahan fisik. Gejalanya antara lain daun berubah menjadi kuning, muncul pola bercak menyerupai mosaik, serta permukaan daun mengalami pengeritingan.

Baca Juga  Oarfish Sepanjang 2,7 Meter Terdampar di California, Sering Dikaitkan dengan Gempa

Infeksi tersebut juga dapat menghambat perkembangan tanaman sehingga pertumbuhannya tidak optimal. Jika serangan terjadi dalam skala luas, dampaknya bisa berujung pada penurunan produksi dan kerugian ekonomi bagi petani.

Ancaman Begomovirus telah ditemukan di berbagai kawasan dunia. Virus ini diketahui menyerang tanaman dikotil dan menjadi salah satu persoalan penting dalam kegiatan pertanian, terutama pada wilayah penghasil sayuran.

Pada tanaman tomat, misalnya, terdapat beberapa spesies yang menjadi perhatian, di antaranya Tomato yellow leaf curl virus (TYLCV) dan Tomato yellow mosaic virus (ToYMV). Kedua jenis virus tersebut telah dikenali sejak dekade 1980-an dan dilaporkan menimbulkan kerugian pada produksi tomat di berbagai negara.

Penyebaran Begomovirus juga telah menjangkau sejumlah wilayah, mulai dari kawasan Amerika Tengah, Trinidad, Dominika, dan Meksiko hingga berbagai negara di Asia Tenggara, termasuk Indonesia.

Dampak serangannya terhadap pertanian tidak dapat dipandang ringan. Pada sejumlah wilayah, serangan virus ini diperkirakan menyebabkan kehilangan hasil produksi tomat, cabai, dan terong sekitar 50 hingga 60 persen.

Di kawasan Asia, termasuk Thailand, Kamboja, Indonesia, Sri Lanka, dan India, Begomovirus juga dilaporkan menyerang berbagai komoditas lain. Tanaman yang rentan di antaranya cabai, tomat, mentimun, labu, melon, serta terong.

Baca Juga  Waspadai! Konsumsi Rutin Makanan Ini Bisa Singkatkan Usia

Besarnya dampak serangan tersebut diperkirakan dapat mengakibatkan kehilangan hasil panen mencapai 40 hingga 70 persen di sejumlah wilayah terdampak.

Pengendalian Harus Dilakukan Secara Terpadu

Melihat besarnya risiko terhadap produksi pertanian, Puji Lestari menekankan pentingnya menerapkan langkah pengendalian Begomovirus secara menyeluruh dan berkesinambungan.

Penanganan tidak cukup hanya dilakukan ketika tanaman mulai memperlihatkan tanda-tanda terinfeksi. Petani juga perlu melakukan langkah pencegahan sejak tahap awal budidaya.

Beberapa upaya yang perlu diperhatikan meliputi pemeriksaan dan deteksi dini penyakit, pengawasan terhadap perkembangan populasi kutu kebul sebagai pembawa virus, serta penggunaan benih yang berkualitas.

Selain itu, kebersihan lahan atau sanitasi area pertanaman juga harus dijaga untuk mengurangi potensi penyebaran penyakit.

Melalui penerapan strategi terpadu tersebut, BRIN berharap risiko penularan Begomovirus dapat ditekan sehingga produktivitas tanaman sayuran tetap terpelihara.

Pengendalian yang konsisten juga menjadi bagian penting dalam melindungi hasil usaha petani sekaligus menjaga keberlanjutan produksi hortikultura dan ketahanan pangan nasional.(YU)