Status Siaga, Aktivitas Gunung Semeru Meningkat

Aktivitas vulkanik Gunung Semeru
Aktivitas vulkanik Gunung Semeru

Jakarta – Aktivitas vulkanik Gunung Semeru kembali meningkat. Pada Jumat (6/11/2026) sore, gunung tertinggi di Pulau Jawa tersebut mengalami awan panas guguran (APG) yang meluncur hingga lima kilometer ke arah tenggara, tepatnya menuju Besuk Kobokan.

Peristiwa tersebut terjadi sekitar pukul 15.48 WIB. Berdasarkan laporan Pos Pengamatan Gunung Api Semeru, aktivitas awan panas berlangsung selama 12 menit 24 detik.

Dalam rentang 12 jam terakhir, tercatat sebanyak empat kali awan panas guguran terjadi di Gunung Semeru. Kondisi ini mengakibatkan material vulkanik semakin menumpuk di bagian hulu jalur aliran lahar.

Menanggapi situasi tersebut, petugas mengingatkan masyarakat agar tidak beraktivitas di kawasan daerah aliran sungai (DAS), khususnya di sepanjang jalur Besuk Kobokan. Material vulkanik yang menumpuk berisiko terbawa arus apabila hujan mengguyur kawasan puncak Semeru sehingga dapat mengancam keselamatan warga.

Baca Juga  Covid-19 Semakin Menggila di Riau, Ketersediaan Ruang Isolasi Menipis

Koordinator Pos Pantau Curah Kobokan, Sugiono, meminta masyarakat untuk menjauhi wilayah berbahaya dan senantiasa mematuhi instruksi petugas di lapangan.

Ia menjelaskan bahwa aktivitas Gunung Semeru hingga kini masih mengalami fluktuasi. Sementara itu, interval waktu ant letusan semakin panjang.

“Sampai saat ini masih flutuatif, sedangkan jeda letusan makin panjang sehingga bisa dipastikan ada pengumpulan tenaga atau pun daya,” ujar Sugiono.

Sementara itu, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) tetap merekomendasikan agar masyarakat tidak melakukan aktivitas dalam radius 13 kilometer dari kawasan gunung. Imbauan tersebut diberlakukan karena status Gunung Semeru masih berada pada Level III atau Siaga.

Baca Juga  Israel Terus Serang Gaza, Kecaman Internasional Meningkat dan Tuduhan Genosida Mengemuka

Warga juga diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman awan panas guguran, guguran lava, serta aliran lahar. Risiko bencana tersebut perlu menjadi perhatian khusus, terutama ketika hujan turun di sekitar kawasan puncak Gunung Semeru.(yu)