Kenali Risiko Penyakit Akibat Gigitan Kucing

Meski terlihat sehat dan tidak menunjukkan gejala tertentu, kucing liar tetap berpotensi membawa kuman penyebab penyakit.
Meski terlihat sehat dan tidak menunjukkan gejala tertentu, kucing liar tetap berpotensi membawa kuman penyebab penyakit.

Jakarta – Keberadaan kucing liar di lingkungan permukiman, pasar, maupun tempat makan sering dianggap biasa. Namun, masyarakat tetap perlu berhati-hati saat berinteraksi dengan hewan tersebut. Kucing yang terlihat sehat sekalipun berpotensi membawa mikroorganisme penyebab penyakit yang dapat menular kepada manusia.

Penularan tidak selalu terjadi hanya karena seseorang menyentuh tubuh kucing. Risiko infeksi bergantung pada jenis patogen dan bentuk kontak yang terjadi, termasuk melalui gigitan, cakaran, kotoran, serta parasit yang menempel pada tubuh hewan. Lingkungan yang tercemar kotoran kucing juga dapat menjadi sumber penularan penyakit tertentu.

Informasi dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menjelaskan bahwa hewan peliharaan maupun hewan yang hidup di luar rumah dapat membawa kuman tanpa memperlihatkan tanda-tanda sakit. Oleh sebab itu, memahami jalur penularan dan menerapkan kebiasaan hidup bersih menjadi langkah penting untuk melindungi kesehatan.

Lima penyakit yang perlu diwaspadai

Berikut beberapa penyakit yang berpotensi berkaitan dengan kontak bersama kucing liar.

1. Cat scratch disease

Penyakit cakaran kucing disebabkan oleh bakteri Bartonella henselae. Infeksi dapat terjadi ketika cakaran atau gigitan kucing menyebabkan bakteri masuk ke dalam tubuh. Gejalanya antara lain benjolan di sekitar luka, demam, serta pembesaran kelenjar getah bening.

2. Rabies

Rabies merupakan penyakit akibat virus yang menyerang sistem saraf dan dapat berakibat fatal setelah gejala muncul. Penularan dapat terjadi melalui gigitan hewan yang terinfeksi atau air liurnya yang masuk ke luka terbuka maupun selaput lendir.

Jika digigit kucing liar yang status kesehatannya tidak diketahui, segera cuci luka dengan sabun dan air mengalir selama 15 menit, kemudian cari pertolongan medis untuk menilai kebutuhan vaksin dan serum antirabies. Jangan menunggu munculnya gejala.

Baca Juga  Risiko Kesehatan Akibat Penggunaan Headset yang Berlebihan

3. Toksoplasmosis

Toksoplasmosis disebabkan oleh parasit Toxoplasma gondii. Parasit ini dapat menyebar melalui kotoran kucing yang terinfeksi dan mencemari tanah, air, atau makanan. Seseorang dapat terpapar ketika tanpa sengaja menelan parasit tersebut melalui tangan atau bahan makanan yang terkontaminasi.

Risiko penyakit ini perlu diperhatikan secara khusus oleh ibu hamil karena infeksi yang terjadi selama kehamilan dapat berdampak pada janin.

4. Kurap atau ringworm

Kurap merupakan infeksi jamur yang bisa menular melalui kontak dengan kucing yang terinfeksi. Penularan juga dapat terjadi melalui benda atau permukaan yang telah terkontaminasi jamur.

Tanda yang umum ditemukan adalah ruam berbentuk melingkar, kulit bersisik, dan rasa gatal. Jika mengalami gejala tersebut, sebaiknya periksakan diri agar memperoleh penanganan yang tepat.

5. Infeksi saluran pencernaan

Bakteri seperti Salmonella dan Campylobacter dapat menyebabkan gangguan pencernaan. Penularan dapat berlangsung melalui kotoran hewan yang mencemari tangan, makanan, atau air.

Gejala yang mungkin timbul meliputi diare, sakit perut, mual, muntah, dan demam. Menjaga kebersihan tangan serta memastikan makanan dan air tetap higienis dapat membantu mengurangi risiko infeksi.

Langkah melindungi diri saat berada di sekitar kucing liar

Masyarakat tidak perlu menyakiti atau mengusir hewan secara kasar untuk menghindari penyakit. Sejumlah tindakan sederhana dapat membantu menekan risiko penularan.

Batasi kontak langsung. Hindari menggendong, memegang, atau menangkap kucing yang tidak dikenal, terutama jika hewan menunjukkan perilaku agresif atau tampak sakit.

Biasakan mencuci tangan. Gunakan sabun dan air mengalir setelah menyentuh kucing, perlengkapannya, atau benda yang berpotensi tercemar.

Baca Juga  7 Masjid Megah di Indonesia dengan Desain Unik dan Menawan

Kenakan sarung tangan saat berkebun. Tanah bisa saja terkontaminasi kotoran kucing. Setelah selesai, bersihkan tangan dan peralatan yang digunakan.

Jaga kebersihan makanan. Tutup makanan dan minuman agar tidak terkontaminasi, serta hindari makan sebelum tangan dibersihkan.

Tangani luka dengan segera. Apabila terkena gigitan atau cakaran, cuci bagian yang terluka menggunakan sabun dan air mengalir. Segera dapatkan pemeriksaan medis, khususnya jika kulit terluka akibat kontak dengan kucing yang tidak diketahui status vaksinasinya.

Siapa yang perlu lebih berhati-hati?

Ibu hamil, anak-anak, lansia, serta orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah perlu memberi perhatian lebih terhadap potensi infeksi. Beberapa penyakit dapat menimbulkan komplikasi lebih berat pada kelompok tersebut.

Apabila luka gigitan atau cakaran mengalami kemerahan, pembengkakan, nyeri yang bertambah, atau disertai demam, segera konsultasikan dengan tenaga kesehatan. Penanganan dini sangat penting, terutama jika terdapat kemungkinan paparan rabies.

Pada dasarnya, keberadaan kucing liar tidak selalu berarti ancaman bagi manusia. Dengan memahami cara penularan penyakit, menjaga kebersihan, dan menghindari kontak berisiko, masyarakat dapat melindungi kesehatan sekaligus tetap memperlakukan hewan dengan baik.(YU)