Baju Tetap Bau Keringat Meski Dicuci, Ini Penyebabnya

Meski sudah dicuci, baju jersey tetap terasa bau keringat.
Meski sudah dicuci, baju jersey tetap terasa bau keringat.

Jakarta – Pakaian yang sudah dicuci menggunakan deterjen dan pewangi belum tentu terbebas sepenuhnya dari bau keringat. Dalam beberapa kasus, aroma tidak sedap justru kembali tercium ketika baju dipakai, terutama pada pakaian olahraga berbahan sintetis seperti polyester.

Masalah ini kerap dialami pemilik jersey atau pakaian yang digunakan untuk aktivitas fisik. Walaupun proses pencucian dilakukan berulang kali, bau keringat masih bisa melekat pada kain. Kondisi tersebut tidak selalu menandakan bahwa deterjen yang digunakan kurang efektif, karena ada sejumlah faktor lain yang memengaruhi kebersihan pakaian.

1. Bakteri dan Minyak Kulit Bisa Memicu Bau

Keringat bukan satu-satunya penyebab munculnya aroma tidak sedap pada pakaian. Bakteri yang hidup di permukaan kulit dapat menguraikan komponen keringat dan minyak alami kulit, yang dikenal sebagai sebum, sehingga menghasilkan senyawa berbau.

Ketika seseorang beraktivitas, keringat, sebum, dan mikroorganisme dapat berpindah ke serat pakaian. Jika sebagian residu tersebut tidak terangkat saat dicuci, bau berpotensi bertahan meskipun baju telah dibersihkan.

Penelitian yang dimuat dalam jurnal Microbiology Spectrum menemukan bahwa jenis bahan pakaian memengaruhi interaksinya dengan bakteri. Polyester cenderung menahan lebih banyak sebum dan bakteri dibandingkan kain katun.

Sisa minyak kulit yang menempel pada serat sintetis dapat menjadi sumber nutrisi bagi mikroorganisme tertentu. Aktivitas mikroorganisme tersebut kemudian dapat menghasilkan senyawa yang menimbulkan aroma kurang sedap.

Karakteristik bahan inilah yang membuat sebagian pakaian olahraga lebih rentan menyimpan bau dibandingkan jenis kain lainnya.

2. Proses Pencucian Belum Tentu Menghilangkan Semua Bau

Mencuci pakaian memang membantu mengurangi kotoran, mikroorganisme, dan senyawa penyebab bau. Namun, hasilnya tidak selalu sama untuk setiap jenis kain maupun senyawa yang menempel.

Baca Juga  Penyebab Bau Apek di Kabin Mobil dan Solusinya

Penelitian dalam jurnal BMC Biology mempelajari perubahan mikroorganisme dan senyawa penyebab bau pada kaus berbahan sintetis setelah digunakan, dicuci, dan dikeringkan.

Hasil pengamatan memperlihatkan bahwa pencucian mampu mengurangi sejumlah senyawa volatil yang berkaitan dengan bau. Meski begitu, proses tersebut juga mengubah komposisi mikroorganisme pada kain. Penelitian itu turut menemukan peningkatan jumlah bakteri dengan membran sel yang masih utuh setelah pencucian.

Artinya, pakaian yang sudah melewati proses pencucian belum tentu sepenuhnya bebas dari mikroorganisme atau residu yang berpotensi menimbulkan bau.

Faktor lain juga ditemukan dalam penelitian yang diterbitkan di jurnal Textile Research Journal. Dalam penelitian tersebut, para peneliti membandingkan kemampuan kain katun dan polyester dalam melepaskan tiga senyawa berbau setelah melalui satu, lima, hingga sepuluh siklus pemberian senyawa dan pencucian.

Hasilnya menunjukkan bahwa kain katun lebih efektif melepaskan senyawa penyebab bau dibandingkan polyester. Sejumlah residu masih ditemukan setelah pencucian, bahkan jumlahnya meningkat pada beberapa kondisi seiring bertambahnya siklus pengotoran dan pencucian.

Temuan tersebut memperlihatkan bahwa frekuensi mencuci bukan satu-satunya faktor penentu hilangnya bau. Struktur serat dan kemampuan bahan melepaskan residu juga berpengaruh terhadap hasil akhir.

3. Tips Merawat Pakaian agar Tidak Mudah Bau

Agar aroma keringat tidak terus menempel pada pakaian, ada beberapa kebiasaan perawatan yang bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Segera cuci pakaian setelah digunakan. Baju yang basah akibat keringat sebaiknya tidak dibiarkan menumpuk terlalu lama, terutama setelah berolahraga. Jika belum sempat dicuci, gantung pakaian terlebih dahulu agar tidak terus berada dalam kondisi lembap.

Pastikan pakaian kering sempurna. Setelah dicuci, jemur atau keringkan baju hingga tidak menyisakan kelembapan sebelum disimpan di lemari. Pakaian yang lembap lebih berisiko mengalami masalah bau selama penyimpanan.

Baca Juga  Sering Kambuh? Hindari 3 Jenis Sayuran Ini Jika Punya Asam Lambung

Bersihkan mesin cuci secara berkala. Sisa deterjen, kotoran, dan mikroorganisme yang menumpuk di mesin dapat memengaruhi kebersihan cucian. Ikuti petunjuk perawatan mesin untuk menjaga kondisinya tetap bersih.

Gunakan deterjen sesuai takaran. Pemakaian deterjen berlebihan tidak otomatis membuat pakaian lebih bersih. Ikuti petunjuk pada kemasan dan sesuaikan metode pencucian dengan bahan pakaian.

Perhatikan label perawatan kain. Setiap bahan memiliki ketentuan pencucian yang berbeda. Hindari penggunaan suhu air atau metode pengeringan yang tidak sesuai dengan petunjuk produsen.

Jangan hanya mengandalkan pewangi. Pewangi pakaian dapat memberikan aroma segar, tetapi belum tentu menghilangkan residu penyebab bau. Karena itu, proses pencucian yang tepat dan pengeringan menyeluruh tetap penting.

Pada akhirnya, bau keringat yang masih tertinggal setelah pakaian dicuci dapat dipengaruhi oleh berbagai hal, mulai dari aktivitas bakteri, sisa minyak kulit, karakteristik serat kain, hingga proses pengeringan.

Memahami penyebab tersebut dapat membantu menentukan cara perawatan yang lebih tepat, khususnya untuk pakaian polyester dan jersey olahraga yang sering digunakan dalam aktivitas berat.(YU)