Jakarta – Penggunaan pendingin ruangan atau AC menjadi pilihan banyak orang untuk menjaga kenyamanan rumah, terutama ketika suhu udara sedang tinggi. Agar hawa dingin bertahan lebih lama, pintu dan jendela biasanya ditutup rapat selama AC beroperasi.
Meski efektif membuat ruangan terasa sejuk, penggunaan AC dalam waktu panjang juga menimbulkan pertanyaan mengenai kualitas udara yang dihirup penghuni rumah. Pasalnya, ruangan yang terasa nyaman belum tentu memiliki sirkulasi udara yang baik.
Kemampuan AC dalam menjaga kebersihan udara bergantung pada sejumlah faktor, mulai dari kualitas filter hingga ketersediaan ventilasi untuk pertukaran udara.
Kemampuan AC Menyaring Polutan Bergantung pada Filter
Penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of Physics: Conference Series mengulas hubungan antara penggunaan AC dan kualitas udara di dalam rumah di Inggris.
Dalam penelitian tersebut, para peneliti menggunakan simulasi komputer untuk memperkirakan tingkat paparan polutan di dalam ruangan. Sebanyak 14 skenario dianalisis dengan membandingkan penggunaan ventilasi alami, AC, serta kombinasi kedua sistem tersebut dengan tingkat kemampuan penyaringan filter yang berbeda.
Salah satu zat pencemar yang menjadi perhatian adalah PM2.5, yaitu partikel halus dengan diameter 2,5 mikrometer atau lebih kecil. Karena ukurannya sangat kecil, partikel ini dapat masuk jauh ke dalam sistem pernapasan ketika terhirup.
Hasil simulasi memperlihatkan bahwa penggunaan AC dengan filter yang memiliki efisiensi penyaringan 30 persen dapat menurunkan paparan PM2.5 hingga 4,5 persen dibandingkan ventilasi alami. Namun, ketika efisiensi filter hanya mencapai 10 persen, paparan partikel tersebut justru berpotensi meningkat hingga 5,8 persen.
Temuan ini memperlihatkan bahwa penggunaan AC tidak selalu menjamin udara dalam ruangan menjadi lebih bersih. Kinerja filter berperan penting dalam menentukan seberapa efektif partikel tertentu dapat ditangkap.
Selain itu, sistem AC yang umum digunakan di rumah, khususnya tipe split, pada dasarnya mendinginkan dan mengedarkan kembali udara dari dalam ruangan. Sistem tersebut umumnya tidak memasukkan udara luar secara langsung.
Akibatnya, ketika pintu dan jendela terus tertutup, polutan yang berasal dari kegiatan sehari-hari berpotensi bertahan dan terakumulasi di dalam rumah. Filter AC biasa juga memiliki keterbatasan karena tidak mampu menghilangkan seluruh jenis pencemar udara.
Sirkulasi Udara Berpengaruh terhadap Kesehatan
Kualitas udara dalam rumah turut dipengaruhi oleh berbagai aktivitas penghuninya. Kegiatan memasak dapat menghasilkan partikel halus, sedangkan sejumlah produk rumah tangga berpotensi melepaskan senyawa tertentu ke udara.
Apabila pertukaran udara berlangsung kurang optimal, polutan dari berbagai sumber tersebut dapat bertahan lebih lama di dalam ruangan. Oleh sebab itu, ventilasi diperlukan untuk membantu mengganti udara di dalam rumah dengan udara dari luar.
Sebuah kajian yang dimuat dalam jurnal Indoor Environments juga menemukan kecenderungan bahwa peningkatan pertukaran udara berkaitan dengan lebih sedikitnya masalah kesehatan pada enam dari tujuh kelompok gejala yang dianalisis.
Kelompok tersebut meliputi asma, gangguan kulit, masalah pada selaput lendir, infeksi, keluhan pernapasan, serta berbagai gejala umum lainnya.
Temuan itu menegaskan bahwa kualitas udara dalam ruangan tidak cukup dinilai hanya dari suhu atau tingkat kesejukannya. Ketersediaan udara segar dan kemampuan mengurangi penumpukan polutan juga perlu menjadi perhatian.
Meski demikian, membuka jendela tidak selalu menjadi solusi yang tepat dalam setiap kondisi. Ketika udara di luar rumah sedang tercemar, masuknya udara dari luar justru dapat membawa polutan tambahan ke dalam ruangan.
Karena itu, pengaturan ventilasi sebaiknya mempertimbangkan kondisi udara di lingkungan sekitar, sumber pencemaran di dalam rumah, serta sistem sirkulasi yang tersedia.
Bolehkah AC Digunakan Sepanjang Hari?
AC dapat digunakan untuk menjaga suhu ruangan tetap nyaman. Namun, pengoperasiannya selama berjam-jam perlu disertai perhatian terhadap kebersihan filter dan kecukupan pertukaran udara.
Ada beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk membantu menjaga kualitas udara di rumah.
Pertama, bersihkan filter AC secara berkala. Perawatan sesuai petunjuk produsen membantu menjaga kinerja perangkat. Meski begitu, filter standar tidak dapat menyaring semua jenis polutan sehingga kebersihan filter saja belum cukup.
Kedua, kendalikan sumber pencemaran dari aktivitas rumah tangga. Saat memasak, gunakan ventilasi atau penyedot udara yang sesuai untuk membantu mengurangi penyebaran partikel dan asap ke ruangan lain.
Ketiga, perhatikan waktu untuk membuka jendela. Ketika kualitas udara luar tergolong baik, membuka jendela dapat membantu memasukkan udara segar. Sebaliknya, jika udara luar sedang tercemar, waktu dan metode ventilasi perlu disesuaikan dengan kondisi lingkungan.
Pada akhirnya, menjaga rumah tetap sejuk dan mempertahankan kualitas udara yang baik merupakan dua hal yang perlu diperhatikan secara bersamaan. AC dapat membantu menciptakan kenyamanan termal, tetapi pengelolaan sumber polutan dan pertukaran udara tetap diperlukan agar lingkungan dalam rumah lebih sehat.(BY)












