Tren Feng Shui Harian, dari Warna Pakaian hingga Makanan

Ilustrasi. Feng shui baju sedang tren di media sosial.
Ilustrasi. Feng shui baju sedang tren di media sosial.

Jakarta – Memilih pakaian sebelum memulai aktivitas sehari-hari kini menjadi perhatian sebagian pengguna media sosial. Bukan hanya mempertimbangkan model dan kecocokan warna, sejumlah orang juga menjadikan feng shui sebagai acuan untuk menentukan busana yang diyakini dapat mendukung keberuntungan.

Tren tersebut salah satunya terlihat melalui akun Fengshui Kemakmuran di platform Threads. Akun yang diikuti sekitar 98,5 ribu pengguna itu secara rutin membagikan panduan mengenai warna pakaian, aksesori, serta makanan yang disesuaikan dengan penanggalan Tiongkok dan kepercayaan terhadap energi pada hari tertentu.

Rekomendasi tersebut mendapat perhatian dari para pengikutnya. Bahkan, ketika unggahan terbaru belum tersedia, sejumlah pengguna mengaku kesulitan menentukan warna pakaian yang akan dikenakan.

Salah satu pengguna dengan akun brigertouns menuliskan keinginannya agar akun tersebut segera memperbarui panduan harian karena ia ingin menentukan pilihan busana. Keluhan serupa disampaikan akun adhanjo yang juga menantikan rekomendasi warna untuk aktivitas hari itu.

Di sisi lain, ada pengguna yang menyatakan merasa cocok dengan panduan yang dibagikan. Akun sherevenvc, misalnya, mengungkapkan bahwa rekomendasi Fengshui Kemakmuran dirasakannya memberikan manfaat.

Setelah sempat mengalami kendala di Threads, akun tersebut kemudian mengalihkan publikasi rekomendasinya ke WhatsApp Channel. Kanal itu tercatat memiliki sekitar 63 ribu pengikut.

Salah satu panduan yang dibagikan menyarankan penggunaan pakaian berwarna putih bersih, vanila, atau krem muda. Warna tersebut dapat dipadukan dengan bawahan cokelat atau khaki, sementara aksesori yang direkomendasikan berupa jam tangan dengan tali berbahan kulit.

Panduan yang diberikan tidak terbatas pada busana. Akun tersebut juga menyertakan pilihan makanan dan minuman, seperti ayam goreng kremes, lontong sayur, pepes tahu jamur tiram, teh chamomile, serta jus alpukat.

Pilihan tersebut dikaitkan dengan interpretasi energi harian dalam feng shui. Energi yang dimaksud dipercaya dapat mendukung munculnya solusi, meskipun pada saat bersamaan juga dikaitkan dengan kemungkinan timbulnya pola pikir yang kaku dan ketegangan.

Baca Juga  Viral Turis China Bawa Motor ke Atas Batu Vulkanik di Pulau Ly Son

Feng shui sebagai pedoman dalam kehidupan sehari-hari

Feng shui merupakan tradisi yang berasal dari kebudayaan Tiongkok dan selama ini dikenal dalam penerapan tata ruang serta penataan lingkungan. Namun, dalam perkembangannya, sebagian orang juga menggunakannya sebagai pertimbangan untuk menentukan pilihan dalam kehidupan sehari-hari.

Ketertarikan masyarakat terhadap praktik ini dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari latar belakang budaya, keyakinan pribadi, hingga harapan untuk memperoleh keberuntungan.

Sebuah penelitian dalam jurnal Psychology & Marketing berjudul Consumers’ Views of Feng Shui: Antecedents and Behavioral Consequences membahas cara konsumen memandang feng shui. Penelitian tersebut mengelompokkan pandangan konsumen ke dalam tiga kategori.

Pertama, pandangan instrumental, yaitu kepercayaan bahwa feng shui dapat membantu mendatangkan keberuntungan dan kemakmuran. Kedua, pandangan spiritual, ketika feng shui dipandang sebagai bagian dari keyakinan spiritual sekaligus identitas budaya. Ketiga, pandangan minimalis, yakni anggapan bahwa feng shui merupakan takhayul atau sesuatu yang tidak memiliki peran penting dalam kehidupan.

Studi tersebut melibatkan responden dari kalangan mahasiswa dan pekerja. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa pandangan instrumental memiliki keterkaitan paling kuat dengan niat membeli produk yang berhubungan dengan feng shui.

Temuan itu memberikan gambaran bahwa kepercayaan terhadap feng shui dapat berhubungan dengan perilaku konsumen. Bagi mereka yang meyakininya, praktik tersebut bukan hanya berkaitan dengan tradisi, tetapi juga dapat menjadi salah satu pertimbangan ketika mengambil keputusan pembelian.

Warna keberuntungan dan pengaruhnya terhadap keputusan membeli

Kepercayaan terhadap warna tertentu juga menjadi perhatian dalam kajian perilaku konsumen. Sebagian orang menghubungkan warna dengan simbol, perasaan, maupun harapan tertentu, termasuk keinginan memperoleh keberuntungan.

Baca Juga  Bukan Makanan Olahan, Sayuran Ini Paling Banyak Mengandung Mikroplastik

Penelitian yang diterbitkan dalam Academic and Research Journal of Liberal Arts mengkaji hubungan antara keyakinan terhadap warna keberuntungan dan perilaku pembelian produk pada konsumen Generasi Y dan Generasi Z.

Hasil kajian tersebut menunjukkan adanya hubungan antara kepercayaan terhadap warna keberuntungan dan motivasi membeli. Konsumen yang memiliki keyakinan tersebut dapat terdorong memilih produk dengan warna tertentu karena berharap memperoleh keberuntungan.

Meski penelitian itu tidak secara spesifik membahas rekomendasi warna pakaian berdasarkan feng shui harian, hasilnya menunjukkan bahwa persepsi terhadap warna dapat menjadi salah satu faktor yang berkaitan dengan keputusan konsumsi.

Dalam kehidupan sehari-hari, pemilihan warna pakaian pada akhirnya memiliki makna yang berbeda bagi setiap orang. Sebagian orang mengutamakan kenyamanan dan penampilan, sedangkan yang lain turut mempertimbangkan simbolisme warna atau kepercayaan yang dianut.

Mengikuti panduan warna harian pun dapat menjadi bagian dari kebiasaan pribadi. Ada yang menjadikannya inspirasi untuk memadukan busana, sementara sebagian lainnya menganggapnya sebagai ritual sederhana sebelum menjalani aktivitas.

Meski demikian, anggapan bahwa warna tertentu dapat mendatangkan keberuntungan tetap merupakan bagian dari kepercayaan. Rekomendasi tersebut dapat digunakan sebagai referensi sesuai preferensi masing-masing, tanpa harus mengesampingkan kenyamanan, kebutuhan, dan pertimbangan praktis dalam memilih pakaian.(BY)