Jakarta – Anggaran operasi militer Amerika Serikat terhadap Iran dilaporkan berpotensi melonjak hampir dua kali lipat dari estimasi awal Pentagon yang mencapai 25 miliar dolar AS atau sekitar Rp433 triliun.
Sejumlah pejabat Departemen Pertahanan AS yang dikutip CNN menyebutkan, angka tersebut belum memasukkan biaya perbaikan dan pembangunan kembali sejumlah pangkalan militer Amerika di kawasan Timur Tengah yang mengalami kerusakan akibat serangan balasan dari Iran.
Sebelumnya, pengawas keuangan Pentagon, Jules Hurst III, menyampaikan bahwa total pengeluaran untuk operasi terkait konflik tersebut berada di kisaran 25 miliar dolar AS. Namun, tiga sumber internal menilai angka itu masih terlalu rendah.
Menurut mereka, jika mencakup biaya perbaikan fasilitas militer serta penggantian peralatan yang rusak, totalnya bisa meningkat menjadi sekitar 40–50 miliar dolar AS atau setara Rp693–Rp866 triliun.
Laporan tersebut juga menyebutkan bahwa estimasi resmi dari Pentagon belum memasukkan biaya signifikan untuk pemulihan kerusakan di pangkalan-pangkalan militer di wilayah tersebut.
Hurst menjelaskan, sebagian besar dana 25 miliar dolar AS itu digunakan untuk kebutuhan amunisi dan persenjataan.
Sementara itu, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth belum memberikan penjelasan rinci apakah estimasi anggaran tersebut sudah termasuk biaya rehabilitasi fasilitas yang terdampak.
Serangan balasan Iran dilaporkan merusak sedikitnya sembilan instalasi militer AS yang berada di Bahrain, Kuwait, Irak, Uni Emirat Arab, dan Qatar.
Kerusakan juga terjadi pada sejumlah peralatan militer canggih, termasuk sistem radar THAAD di Yordania serta fasilitas serupa di beberapa lokasi di UEA. Selain itu, pesawat pengintai E-3 Sentry milik Angkatan Udara AS dilaporkan rusak di salah satu pangkalan udara di Arab Saudi.
Di sisi lain, usulan anggaran Pentagon sebesar 1,5 triliun dolar AS untuk tahun fiskal 2027 juga disebut belum mencerminkan biaya akhir untuk pemulihan seluruh fasilitas militer AS di luar negeri.
Hurst menambahkan, hingga saat ini Pentagon masih melakukan penilaian lanjutan terhadap tingkat kerusakan dan menentukan kebutuhan rekonstruksi yang sebenarnya.(des*)












