Iran Ingatkan AS, Kapal Perang Asing Bisa Jadi Target di Selat Hormuz

Selat Hormuz.
Selat Hormuz.

JakartaIran mengeluarkan peringatan keras kepada seluruh kapal perang asing, termasuk Amerika Serikat, yang dianggap mengganggu aktivitas di Selat Hormuz. Iran menegaskan bahwa kapal-kapal tersebut dapat menjadi sasaran jika melakukan tindakan yang dianggap mengancam keamanan di jalur perairan strategis itu.

Pernyataan tersebut disampaikan oleh Markas Besar Khatam Al Anbiya, komando militer gabungan tertinggi Iran yang mengoordinasikan operasi angkatan bersenjata serta Korps Garda Revolusi Islam (IRGC). Iran menanggapi klaim Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth yang sebelumnya menyebut Amerika Serikat memiliki kendali atas Selat Hormuz.

Dalam keterangannya yang dikutip dari kantor berita IRIB pada Minggu (31/5/2026), Iran menegaskan bahwa setiap upaya kapal militer yang mengganggu pengaturan atau aktivitas pelayaran di Selat Hormuz akan dihadapi oleh angkatan bersenjata mereka.

Baca Juga  Klaim Rusia Bohong, AS Sebut Putin Tambah 7.000 Pasukan Dekat Ukraina

“Setiap tindakan kapal militer yang mengganggu pengelolaan Selat Hormuz atau mengganggu navigasi akan menjadi target angkatan bersenjata Republik Islam Iran,” demikian pernyataan tersebut.

Iran juga menegaskan bahwa pengelolaan Selat Hormuz sepenuhnya berada di bawah kewenangan angkatan bersenjata negara itu. Selain kapal militer, kapal dagang seperti kargo dan tanker minyak juga diwajibkan mendapatkan izin dari Angkatan Laut IRGC serta mengikuti jalur pelayaran yang telah ditentukan.

Pihak Iran memperingatkan bahwa pelanggaran terhadap aturan tersebut dapat membahayakan keselamatan kapal yang melintas di wilayah tersebut.

Sebelumnya, Menhan AS Pete Hegseth membantah klaim Iran mengenai penguasaan Selat Hormuz. Ia menyatakan bahwa Amerika Serikat tetap memiliki pengaruh kuat di kawasan itu.

Baca Juga  Korsel Beri Respons Serius terhadap Provokasi Korut, Ancaman Tindakan

“Mereka ingin mengendalikan selat tersebut, tetapi kamilah yang mengendalikannya,” ujar Hegseth.

Ia juga menambahkan bahwa dinamika di balik layar serta proses negosiasi menunjukkan Amerika Serikat masih memegang kendali atas jalur perairan penting tersebut.(des*)