Rudal PrSM dan Dark Eagle Jadi Sorotan dalam Eskalasi Militer AS di Timur Tengah

Sistem rudal LRHW Amerika Serikat.
Sistem rudal LRHW Amerika Serikat.

JakartaKomando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) dilaporkan meminta agar rudal hipersonik Dark Eagle yang selama ini mengalami penundaan segera ditempatkan di kawasan Timur Tengah. Informasi ini muncul dari laporan Bloomberg pekan ini, di tengah meningkatnya spekulasi bahwa AS berpotensi kembali terlibat ketegangan dengan Iran, meski saat ini masih berlaku gencatan senjata.

Dark Eagle, atau yang dikenal juga sebagai Long-Range Hypersonic Weapon (LRHW), merupakan proyek pengembangan senjata hipersonik yang dirancang untuk mengejar kemampuan Rusia dan China yang lebih dulu menguasai teknologi tersebut. Meski pengembangannya sudah dimulai sejak 2018 dengan biaya sekitar 12 miliar dolar AS, sistem ini dilaporkan belum sepenuhnya siap operasional dan mengalami keterlambatan dari jadwal awal.

Permintaan pengerahan LRHW disebut berkaitan dengan laporan intelijen yang menyebutkan bahwa Iran telah memindahkan peluncur rudal balistiknya ke posisi yang berada di luar jangkauan Rudal Serangan Presisi (PrSM). Seorang sumber yang mengetahui situasi tersebut menyampaikan informasi ini kepada Bloomberg, namun hingga kini belum ada keputusan resmi terkait permintaan itu.

Baca Juga  AS dan Perancis Izinkan Ukraina Serang Sasaran Militer di Rusia

Sementara itu, RT melaporkan bahwa PrSM—rudal balistik jarak pendek hingga menengah yang disiapkan untuk menggantikan ATACMS—pernah digunakan dalam operasi terhadap Iran tanpa melalui proses uji coba penuh. Senjata ini juga disebut telah digunakan secara luas selama konflik berlangsung. Bahkan, ada laporan bahwa salah satu unit militer AS telah menghabiskan seluruh stok PrSM yang dimilikinya.

Meski demikian, militer AS masih memiliki persediaan PrSM lainnya, namun kekhawatiran muncul bahwa jumlah tersebut tidak akan mencukupi jika eskalasi konflik dengan Iran kembali terjadi. Pentagon sebelumnya telah memesan 130 unit sebelum tahun fiskal 2024 dan tambahan 250 unit untuk 2025, tetapi jumlah yang sudah benar-benar diterima di lapangan belum diketahui secara pasti.

Rudal ini juga menjadi sorotan dalam operasi gabungan AS–Israel terhadap Iran, karena diduga digunakan dalam insiden yang menimbulkan korban jiwa. The New York Times melaporkan bahwa PrSM kemungkinan terlibat dalam serangan pada 28 Februari di sebuah sekolah dan gedung olahraga di Lamerd, Iran selatan, yang menewaskan sedikitnya 21 orang.

Baca Juga  Kucing Berat 17 Kg di Rusia Berjuang Turunkan Berat Badan

Namun, Pentagon membantah tuduhan tersebut dan menegaskan bahwa tidak ada target di Lamerd yang diserang pada tanggal itu. Mereka juga menyatakan bahwa amunisi yang terekam dalam peristiwa tersebut merupakan rudal jelajah Hoveyzeh buatan Iran. Meski begitu, The New York Times tetap mempertahankan laporannya dengan mengutip para ahli yang menilai bahwa proyektil yang digunakan lebih mirip PrSM dan tidak menunjukkan karakteristik senjata buatan Iran.(BY)