Teknologi Real-Time Jadi Kunci Sukses Belanja Live Streaming

Transaksi Video Commerce Melonjak 90 Persen, Intip Potensi RI.
Transaksi Video Commerce Melonjak 90 Persen, Intip Potensi RI.

Jakarta – Aktivitas jual beli melalui siaran langsung atau live streaming semakin berkembang di Indonesia. Selain menjadi sarana hiburan, fitur ini kini dimanfaatkan sebagai media pemasaran yang memungkinkan penjual berkomunikasi langsung dengan calon konsumen. Seiring meningkatnya popularitasnya, pengguna juga menuntut layanan yang lebih cepat, stabil, dan interaktif.

Kecepatan komunikasi menjadi salah satu faktor penting dalam menentukan keberhasilan transaksi. Ketika penonton dapat mengajukan pertanyaan, melakukan penawaran harga, hingga mengikuti proses lelang secara langsung, keterlambatan respons berpotensi membuat calon pembeli kehilangan minat dan meninggalkan siaran.

CEO Agora, Tony Zhao, menilai masih terdapat sejumlah platform yang belum mampu menghadirkan pengalaman interaksi secara langsung. Menurutnya, sebagian layanan masih menggunakan konsep siaran konvensional, yakni pembawa acara menyampaikan informasi sementara penonton hanya menyaksikan tanpa komunikasi yang berlangsung secara spontan.

Ia menjelaskan, pola tersebut mungkin masih sesuai untuk kebutuhan hiburan. Namun, dalam aktivitas perdagangan digital, kecepatan memberikan jawaban menjadi hal yang sangat menentukan. Sebagai contoh, pertanyaan mengenai ukuran atau spesifikasi barang harus dijawab segera agar calon konsumen tetap tertarik melakukan pembelian.

Pernyataan tersebut disampaikan Zhao dalam keterangan tertulis di Jakarta, Kamis (5/11/2026).
Indonesia Jadi Pasar Potensial Video Commerce
Meningkatnya aktivitas perdagangan melalui video turut mendorong kebutuhan terhadap teknologi komunikasi berlatensi rendah. Indonesia bahkan menjadi salah satu pasar video commerce paling besar sekaligus berkembang paling cepat di kawasan Asia Tenggara.

Laporan e-Conomy SEA 2025 yang diterbitkan Google, Temasek, dan Bain & Company mencatat jumlah transaksi video commerce di Indonesia mencapai 2,6 miliar. Angka tersebut mengalami peningkatan sekitar 90 persen dibandingkan periode sebelumnya.

Pertumbuhan juga terlihat dari jumlah pedagang yang memanfaatkan platform digital. Jumlah penjual aktif dan toko daring tercatat meningkat 75 persen hingga menyentuh sekitar 800 ribu pelaku usaha.

Perkembangan tersebut memberikan kesempatan lebih besar bagi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk memperluas pasar. Dengan dukungan telepon pintar dan akses internet, pelaku usaha dapat memasarkan produknya kepada konsumen di berbagai wilayah tanpa harus memiliki toko fisik.

Baca Juga  Bimbingan Teknis Penggunaan Perairan Dorong Peningkatan PNBP

Tidak hanya mendorong kegiatan perdagangan, industri siaran langsung juga membuka lapangan pekerjaan baru. Profesi seperti host, kreator konten, operator, hingga tenaga produksi semakin dibutuhkan untuk mendukung aktivitas tersebut.

Dalam laporan yang sama, nilai ekonomi digital Indonesia diperkirakan berpotensi mencapai sekitar 180 miliar dolar AS pada 2030 berdasarkan skenario pertumbuhan menengah.

Zhao menyebut kekuatan pasar Indonesia tidak hanya terletak pada tingginya jumlah penonton siaran langsung. Kebiasaan masyarakat yang gemar berkomunikasi, berdiskusi, dan melakukan tawar-menawar dengan penjual juga menjadi faktor pendukung berkembangnya perdagangan berbasis video.

Menurutnya, keberhasilan sebuah platform tidak cukup hanya dengan menyediakan fasilitas siaran langsung. Teknologi yang digunakan harus mampu menghadirkan komunikasi tanpa jeda berarti sehingga interaksi antara penjual dan pembeli terasa lebih alami.

Kebutuhan terhadap teknologi tersebut, lanjutnya, juga berpotensi berkembang di luar sektor perdagangan. Bidang pendidikan, kesehatan, serta berbagai layanan berbasis komunitas turut membutuhkan sistem komunikasi digital yang responsif.
Empat Faktor Penentu Kualitas Live Streaming
Untuk memberikan pengalaman siaran langsung yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat, terdapat empat komponen teknologi yang dinilai perlu menjadi perhatian pengembang platform.

Pertama, kecepatan transmisi atau latensi rendah. Teknologi ini diperlukan agar komunikasi antara host dan penonton dapat berlangsung hampir seketika. Dengan demikian, pertanyaan, jawaban, maupun aktivitas penawaran harga tidak terganggu keterlambatan.

Kedua, kestabilan layanan pada jaringan seluler. Mengingat sebagian besar pengguna mengakses internet melalui perangkat ponsel, platform harus mampu mempertahankan kualitas siaran meskipun kondisi jaringan berubah-ubah.

Ketiga, kemampuan mengakomodasi peningkatan jumlah pengguna secara bersamaan. Lonjakan trafik biasanya terjadi ketika berlangsung kampanye belanja seperti 11.11 dan 12.12 atau saat kreator dengan jumlah pengikut besar mengadakan siaran langsung. Infrastruktur teknologi harus mampu menangani peningkatan aktivitas tersebut tanpa mengurangi kualitas layanan.

Baca Juga  Chery C5 2025 Hadir Lebih Murah, Teknologi Tetap Meningkat

Keempat, ketersediaan fitur interaktif. Fasilitas seperti percakapan langsung, siaran bersama atau co-hosting, penawaran harga, serta tanya jawab menjadi bagian penting dalam membangun keterlibatan pengguna.

Zhao mengungkapkan, pengembangan seluruh infrastruktur tersebut secara mandiri membutuhkan investasi, tenaga ahli, serta waktu yang tidak sedikit. Bagi perusahaan yang fokus utamanya bukan pada pengembangan teknologi komunikasi, proses tersebut dapat menyita banyak sumber daya.

Karena itu, Agora menawarkan dukungan teknologi real-time agar pengembang aplikasi di dalam negeri dapat lebih berkonsentrasi menciptakan layanan dan fitur yang menjadi keunggulan bisnis masing-masing.
Transaksi Video Commerce Indonesia Tembus 2,6 Miliar
Besarnya perkembangan perdagangan berbasis video sebelumnya juga disampaikan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto.

Dalam keterangannya di Kantor Kementerian Perdagangan, Jakarta, Kamis (27/8/2026), Airlangga mengungkapkan bahwa transaksi video commerce di Indonesia telah mencapai 2,6 miliar transaksi atau mengalami pertumbuhan hampir 90 persen.

Ia juga menyebutkan jumlah pedagang yang menjalankan usaha secara daring di Indonesia telah mencapai sekitar 800 ribu pelaku usaha.

Menurut Airlangga, video commerce merupakan model perdagangan yang menggabungkan tayangan video dengan aktivitas jual beli secara online. Melalui pendekatan ini, konsumen dapat melihat produk sekaligus berinteraksi dengan penjual sebelum memutuskan melakukan transaksi.

Pertumbuhan tersebut memperlihatkan bahwa perdagangan melalui siaran langsung memiliki prospek besar di Indonesia. Dukungan infrastruktur digital dan teknologi komunikasi yang semakin baik dinilai penting untuk menjaga kenyamanan pengguna sekaligus memperkuat daya saing industri perdagangan digital nasional.(YU)