Rupiah Makin Melemah Terhadap Dolar AS

Rupiah makin melemah terhadap dolar AS.
Rupiah makin melemah terhadap dolar AS.
Jakarta, fativa.id – Pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) diminta mengambil langkah strategis untuk mempertahankan bisnis di tengah pelemahan rupiah yang menembus Rp18.000 per dolar AS.

Salah satu opsi yang disarankan adalah menekan margin keuntungan agar harga produk tidak mengalami kenaikan terlalu tinggi. Strategi ini dinilai penting untuk menjaga minat beli masyarakat sekaligus mempertahankan keberlangsungan usaha.

Sekretaris Jenderal Asosiasi UMKM Indonesia (Akumindo), Edy Misero, mengatakan kondisi ekonomi saat ini memberikan tekanan terhadap pelaku UMKM, khususnya usaha yang masih menggunakan bahan baku impor.

Melemahnya rupiah membuat biaya pengadaan bahan baku meningkat. Namun, menaikkan harga jual bukan perkara mudah karena kemampuan belanja masyarakat juga berpotensi menurun.

Baca Juga  Yuan China Melemah, Rupiah Stabil di Posisi Rp16.271 per Dolar AS

Edy menilai, pelaku usaha perlu menyesuaikan strategi bisnis agar tidak kehilangan konsumen di tengah situasi tersebut.

“Yang tadinya misalnya profit-nya bisa 15%, kenapa dengan kita mengurangi profit menjadi 8% atau 9%? Tidak apa-apa. Tapi 8% atau 9% itu masih mampu membuat kita bertahan,” ujar Edy kepada Liputan6.com, Rabu (4/11/2026).

Menurutnya, mengurangi keuntungan untuk sementara waktu dapat menjadi pilihan dibandingkan menaikkan harga secara signifikan yang berisiko mengurangi penjualan.

Edy juga mengingatkan pentingnya menjaga ketahanan UMKM karena sektor tersebut memiliki kontribusi besar terhadap perekonomian nasional.

Ia menegaskan, jika banyak UMKM mengalami kegagalan usaha, dampaknya dapat merembet ke kondisi ekonomi Indonesia secara keseluruhan.

Baca Juga  Ekspansi Jaringan Tri di Sumbar Dorong Pertumbuhan Ekonomi Kreatif

“Kalau UMKM-nya ambruk, UMKM-nya collapse, ekonomi Indonesia akan collapse. Dan itu kita tidak mau. Kita tidak mau Indonesia collapse,” tegasnya.

Karena itu, pelaku UMKM diharapkan mampu menyesuaikan pengelolaan usaha, termasuk mengatur keuntungan secara lebih fleksibel, demi menjaga bisnis tetap bertahan di tengah tekanan ekonomi.(Fth)