Jakarta – Persaingan industri kendaraan komersial listrik di Indonesia semakin ramai dengan masuknya produsen otomotif asal China, Forland. Untuk mengembangkan bisnisnya di Tanah Air, perusahaan tersebut menggandeng PT Tangguh Utama Sejahtera (TUS) sebagai distributor utama sekaligus mitra strategis.
Dalam debutnya di pasar Indonesia, Forland langsung memperkenalkan dua kendaraan niaga berbasis listrik, yakni Forland ET5 dan EL5e. Kehadiran kedua model tersebut ditujukan untuk memenuhi kebutuhan transportasi bisnis yang lebih efisien sekaligus mendukung pengurangan emisi kendaraan.
Forland dikenal sebagai salah satu perusahaan besar di industri kendaraan komersial China. Hingga saat ini, produsen tersebut telah mencatatkan total produksi lebih dari 7 juta unit kendaraan dengan jangkauan pemasaran di sekitar 50 negara.
Berbekal pengalaman panjang dalam produksi kendaraan niaga dan standar manufaktur internasional, Forland melihat Indonesia sebagai pasar potensial untuk memperluas bisnis kendaraan listrik komersial.
CEO Forland International, Dong YongSheng, menyampaikan bahwa kondisi ekonomi Indonesia serta perkembangan pasar otomotif menjadi alasan perusahaan memperkuat kehadirannya di Asia Tenggara.
Menurutnya, kerja sama dengan TUS merupakan bagian dari strategi jangka panjang untuk menghadirkan solusi kendaraan niaga listrik yang mampu menunjang kebutuhan dunia usaha di Indonesia.
“Indonesia memiliki fundamental ekonomi yang kuat dan merupakan salah satu pasar paling dinamis di Asia Tenggara. Pengalaman manufaktur global Forland selama dekade terakhir menjadi fondasi utama kami, dan kolaborasi strategis dengan TUS adalah langkah nyata untuk mendukung transformasi mobilitas listrik komersial yang efisien dan berkelanjutan di Indonesia,” ujarnya saat peluncuran Forland Indonesia di Jakarta, 3 November 2026.
Sementara itu, Presiden Direktur PT Tangguh Utama Sejahtera, JinHong Lin Darwin, menegaskan bahwa kehadiran Forland tidak hanya ditujukan untuk memasarkan produk kendaraan listrik. Pihaknya juga ingin berperan dalam membangun industri dan ekosistem transportasi listrik nasional.
Ia menekankan pentingnya investasi yang memberikan manfaat berkelanjutan bagi Indonesia, termasuk melalui penguatan industri lokal.
JinHong menyebutkan bahwa prinsip perusahaan adalah tidak sekadar menanamkan modal, tetapi juga membangun bisnis yang tumbuh bersama masyarakat dan perekonomian Indonesia.
Untuk mewujudkan komitmen tersebut, TUS berencana memperkuat kegiatan perakitan kendaraan di dalam negeri, meningkatkan pemanfaatan komponen lokal, serta memperluas jaringan pelayanan dan purna jual.
Upaya tersebut diharapkan mampu menciptakan nilai tambah bagi industri otomotif nasional sekaligus membuka peluang pertumbuhan ekonomi.
Dengan dukungan teknologi Forland dan pengalaman bisnis TUS, perusahaan optimistis dapat menjalin kerja sama jangka panjang dengan berbagai pihak di Indonesia.
ET5 dan EL5e Tawarkan Spesifikasi Berbeda
Pada tahap awal ekspansinya, Forland menghadirkan dua model kendaraan listrik yang memiliki karakteristik dan kemampuan angkut berbeda. ET5 dipersiapkan untuk kebutuhan distribusi barang, sedangkan EL5e menyasar sektor usaha yang membutuhkan kapasitas muatan lebih besar, termasuk perkebunan dan konstruksi.
Forland ET5 merupakan truk listrik dengan Gross Vehicle Weight (GVW) sebesar 2,5 ton. Kendaraan ini diklaim mampu menempuh perjalanan hingga 357 kilometer dalam kondisi baterai penuh.
Keunggulan lainnya terletak pada teknologi pengisian cepat. Pengguna diklaim hanya membutuhkan waktu sekitar 25 menit untuk meningkatkan kapasitas baterai dari 20 persen menjadi 80 persen.
Dari sisi pengeluaran operasional, Forland menyebut ET5 berpotensi menghemat biaya hingga 80 persen dibandingkan kendaraan niaga bermesin konvensional.
Sementara itu, Forland EL5e dirancang untuk kebutuhan pengangkutan dengan beban yang lebih berat. Kendaraan ini memiliki kapasitas muatan atau payload hingga 10 ton dan kemampuan perjalanan mencapai 210 kilometer dalam sekali pengisian daya.
EL5e menggunakan baterai berteknologi Lithium Iron Phosphate (LFP) dari CATL dengan kapasitas 103 kWh. Sistem baterainya telah dilengkapi perlindungan IP68 untuk menghadapi paparan air dan debu, serta teknologi pendingin cair guna menjaga temperatur baterai.
Untuk mendukung mobilitas di berbagai kondisi jalan, kendaraan ini dilengkapi fitur rear differential lock. Teknologi tersebut membantu menjaga traksi roda ketika truk melewati permukaan jalan licin maupun medan yang tidak rata.
Kemampuan melewati jalur menanjak juga menjadi salah satu keunggulan EL5e. Kendaraan ini memiliki tingkat kemampuan tanjakan atau gradeability minimal 25 persen, sehingga dapat menunjang aktivitas pengangkutan di kawasan perkebunan dan proyek konstruksi.
Tidak hanya difungsikan sebagai kendaraan pengangkut barang, EL5e juga memiliki Power Take-Off (PTO) dan sistem hidraulis. Dukungan tersebut memungkinkan kendaraan dikembangkan untuk berbagai kebutuhan operasional, seperti dump truck, arm-roll, maupun kendaraan penarik.
Dari aspek kenyamanan, Forland menyematkan kursi dengan sistem peredam guncangan untuk membantu mengurangi getaran yang diterima pengemudi ketika melintasi jalan dengan kondisi kurang baik.
Sistem pengeremannya turut mengandalkan teknologi regenerative braking yang dapat mengembalikan sebagian energi ke baterai ketika kendaraan melakukan perlambatan. Selain itu, tersedia sistem rem angin atau air brakes dan Electronic Parking Brake (EPB).
Untuk pengisian baterai, EL5e diklaim membutuhkan waktu sekitar 35 menit dari kapasitas 20 persen hingga mencapai 80 persen.
Perluas Jaringan Dealer di Indonesia
Selain memperkenalkan produk, Forland bersama TUS juga mulai menyiapkan infrastruktur pendukung untuk menjangkau konsumen di berbagai wilayah.
Saat ini, perusahaan telah memiliki tujuh dealer yang beroperasi. Jumlah tersebut direncanakan terus bertambah pada 2027 melalui pembangunan jaringan dealer baru.
Perluasan jaringan itu ditujukan untuk memperkuat layanan penjualan, perawatan kendaraan, serta dukungan purna jual bagi pelanggan.
Dengan hadirnya ET5 dan EL5e, Forland berupaya menawarkan alternatif kendaraan niaga listrik untuk berbagai sektor usaha. Kombinasi kapasitas angkut, jangkauan perjalanan, teknologi baterai, dan fitur pendukung diharapkan dapat menjadi pertimbangan bagi pelaku bisnis yang ingin beralih ke transportasi listrik.(YU)













