Benarkah Nasi Goreng dari Nasi Dingin Lebih Rendah Gula?

Ilustrasi nasi goreng.
Ilustrasi nasi goreng.

Jakarta – Nasi yang tersisa dari makan malam kerap disimpan di lemari pendingin untuk dikonsumsi pada hari berikutnya. Selain dipanaskan kembali, nasi tersebut juga sering dimanfaatkan sebagai bahan utama nasi goreng.

Nasi yang telah melalui proses pendinginan diketahui dapat membentuk pati resisten, yaitu jenis pati yang tidak mudah dicerna di usus halus. Keberadaan pati ini dikaitkan dengan potensi memperlambat penyerapan karbohidrat sehingga kenaikan gula darah dapat berlangsung lebih lambat.

Namun, muncul pertanyaan apakah manfaat tersebut masih bisa diperoleh ketika nasi dingin dimasak kembali menjadi nasi goreng.

Ahli gizi Adisty Pavitasari menjelaskan bahwa proses pendinginan nasi dapat meningkatkan pembentukan pati resisten. Zat tersebut juga relatif tahan terhadap panas sehingga tidak seluruhnya hilang ketika nasi dipanaskan kembali dengan cara biasa.

Menurut Adisty, pemanasan ulang menggunakan suhu penghangatan normal tanpa penambahan air tidak serta-merta menghilangkan pati resisten yang terbentuk selama pendinginan.

Dengan demikian, nasi yang telah didinginkan lalu dipanaskan kembali masih berpotensi memiliki indeks glikemik lebih rendah dibandingkan nasi yang baru matang.

Indeks glikemik (IG) merupakan indikator yang menunjukkan seberapa cepat karbohidrat dalam makanan meningkatkan kadar gula darah setelah dikonsumsi.

Kandungan Kalori Nasi Goreng Tidak Hanya Ditentukan oleh Jenis Nasi

Meski nasi dingin memiliki potensi manfaat dari sisi pati resisten, bukan berarti nasi goreng yang dibuat menggunakan bahan tersebut otomatis lebih sehat atau rendah kalori.

Baca Juga  Pria Berisiko Nyawa Gantungkan Diri di Kereta, Selamat Setelah 30 km

Adisty menerangkan bahwa kandungan kalori dan karbohidrat nasi pada dasarnya relatif serupa, baik nasi yang baru matang maupun nasi yang telah didinginkan. Perbedaan nilai gizi nasi goreng justru banyak dipengaruhi oleh bahan tambahan dan cara pengolahannya.

Penggunaan minyak goreng, mentega, serta bahan pelengkap lainnya dapat meningkatkan kepadatan kalori dalam makanan. Karena itu, nasi dingin tidak bisa dijadikan satu-satunya patokan untuk menentukan apakah nasi goreng termasuk menu rendah kalori.

Jumlah minyak yang digunakan serta jenis lauk dan bumbu yang ditambahkan perlu menjadi perhatian apabila ingin memperoleh hidangan dengan komposisi gizi yang lebih baik.

Tips Membuat Nasi Goreng Lebih Seimbang

Agar nasi goreng tetap nikmat sekaligus memiliki kandungan gizi yang lebih seimbang, Adisty menyarankan penggunaan minyak secara terbatas, yakni sekitar satu hingga dua sendok teh.

Penggunaan garam, kecap, MSG, dan bumbu lain yang mengandung natrium juga sebaiknya dikontrol. Untuk memperkuat cita rasa, bumbu alami seperti bawang, cabai, dan merica dapat dimanfaatkan.

Selain itu, nasi goreng sebaiknya dilengkapi sumber protein rendah lemak. Beberapa pilihan yang bisa digunakan antara lain telur, ayam suwir, udang, tahu, dan tempe.

Penambahan sayuran juga penting untuk meningkatkan asupan serat dan zat gizi lainnya. Sawi, wortel, serta kubis dapat menjadi pilihan pelengkap yang mudah ditemukan dan diolah bersama nasi.

Baca Juga  Dianggap Sehat, Nyatanya Jenis Ikan Ini Bisa Berisiko bagi Kesehatan

Kombinasi karbohidrat, protein, dan sayuran dapat membantu membuat sajian nasi goreng lebih bervariasi dari segi zat gizi.

Perhatikan Penyimpanan Nasi Sisa

Nasi dingin memang dapat dimanfaatkan kembali untuk membuat nasi goreng, tetapi cara penyimpanannya tidak boleh diabaikan. Nasi matang yang dibiarkan terlalu lama pada suhu ruang berisiko menjadi tempat berkembangnya bakteri, termasuk Bacillus cereus, yang dapat menyebabkan keracunan makanan.

Karena itu, nasi sisa sebaiknya segera didinginkan dan disimpan dalam lemari pendingin, bukan dibiarkan semalaman di meja makan. Saat akan dikonsumsi, nasi perlu dipanaskan hingga benar-benar panas secara merata.

Pada akhirnya, nasi dingin yang diolah menjadi nasi goreng masih berpotensi mempertahankan sebagian pati resistennya. Namun, manfaat tersebut tetap perlu diimbangi dengan pengaturan porsi, pemilihan bahan tambahan, penggunaan minyak secukupnya, serta penyimpanan makanan yang aman.(BY)