Bukan Sekadar Diet, Pola Makan Tumbuhan Ini Bantu Balikkan Kondisi Kronis

Dokter menyarankan diet whole food plant-based buat mereka yang memiliki penyakit kronis. Apa manfaatnya?
Dokter menyarankan diet whole food plant-based buat mereka yang memiliki penyakit kronis. Apa manfaatnya?

Jakarta – Dalam dunia medis saat ini, pendekatan berbasis pola makan nabati utuh atau whole food plant-based diet semakin dikenal sebagai metode yang efektif untuk mengatasi berbagai penyakit kronis. Alih-alih hanya mengandalkan obat-obatan, sejumlah dokter kini merekomendasikan perubahan gaya hidup dan pola makan sebagai bagian dari pemulihan.

Salah satu yang menegaskan hal ini adalah dr. Dasaad Mulijono, spesialis jantung dan pembuluh darah sekaligus konsultan intervensi dari Heart and Vascular Center, Bethsaida Hospital, Gading Serpong. Ia mengatakan, pola makan berbasis tumbuhan yang minim proses bukan hanya mampu meringankan gejala, tetapi juga bisa memperbaiki akar penyebab dari penyakit seperti hipertensi, gangguan jantung, hingga gagal ginjal tahap awal.

“Tujuannya bukan hanya mengurangi rasa sakit atau menstabilkan kondisi, tetapi mengubah sumber masalahnya langsung dari pola makan,” ujar Dasaad saat ditemui di Tangerang, Kamis (17/7/2025).

Apa Itu Whole Food Plant-Based Diet?
Pendekatan ini menitikberatkan pada konsumsi makanan nabati yang masih dalam bentuk utuh dan alami, seperti sayur-mayur, buah-buahan, biji-bijian, kacang-kacangan, serta umbi-umbian. Diet ini tidak menyertakan produk hewani, makanan olahan, kemasan, serta bahan tambahan seperti gula rafinasi.

Menurut Dasaad, pola makan ini sangat cocok diterapkan di Indonesia karena kelimpahan sumber pangan nabati lokal, seperti tahu, tempe, dan berbagai jenis kacang. Bahkan, makanan tradisional seperti rujak pun dapat dikategorikan sebagai menu sehat berbasis tumbuhan.

Baca Juga  Jangan Asal Padukan Durian, 6 Bahan Makanan Ini Wajib Dihindari

“Di luar negeri, sayur dan buah itu mahal. Tapi di sini, kita punya sumber nabati yang melimpah. Bahkan bisa panen sendiri lewat hidroponik,” katanya.

Bukti Klinis dan Perbaikan Kondisi Pasien
Dasaad mengaku telah melihat perubahan besar pada pasien-pasiennya yang menerapkan pola makan ini. Beberapa di antaranya bahkan bisa mengurangi konsumsi obat atau berhenti sepenuhnya karena kondisinya membaik.

Beberapa hasil yang ia temui di lapangan antara lain:

Tekanan darah kembali normal pada penderita hipertensi ringan hingga sedang, tanpa obat harian

Fungsi ginjal meningkat pada pasien dengan gagal ginjal tahap awal

Penyempitan pembuluh darah berkurang, terutama pada pasien dengan plak ringan akibat aterosklerosis

Ia juga menjelaskan bahwa diet ini berperan dalam menekan peradangan (inflamasi) dalam tubuh — yang diyakini menjadi pemicu utama dari banyak penyakit kronis.

Bagaimana dengan Nasi?
Meski nasi berasal dari tanaman, Dasaad mengingatkan bahwa nasi putih tidak ideal untuk pola makan nabati utuh. Proses penggilingan membuatnya kehilangan lapisan kulit luar yang kaya nutrisi, sehingga yang tersisa hanyalah karbohidrat sederhana.

“Nasi putih cepat meningkatkan gula darah dan kadar insulin. Itu bisa memperparah peradangan dan mempercepat penyumbatan pembuluh darah,” tegasnya.

Sebagai gantinya, ia menyarankan beras merah, cokelat, atau hitam, yang masih memiliki lapisan bekatul dan kandungan serat tinggi. Olahan seperti bubur nasi juga sebaiknya dihindari karena indeks glikemiknya tinggi.

Baca Juga  Superfood dari Air, Selada Air Kaya Nutrisi dan Lawan Penyakit Kronis

Untuk sumber karbohidrat kompleks yang lebih aman dan menyehatkan, Dasaad menyarankan mengonsumsi umbi-umbian, seperti ubi ungu, kentang, jali-jali, dan ubi kuning. Bahan-bahan ini lebih lambat dicerna sehingga tidak menyebabkan lonjakan kadar gula dalam darah.

Lebih dari Sekadar Diet: Ini Gaya Hidup
Berbeda dari diet tren atau program penurunan berat badan jangka pendek, pola makan berbasis nabati utuh merupakan gaya hidup jangka panjang. Fokusnya bukan hanya pada angka timbangan, tetapi pada kualitas hidup dan pencegahan penyakit jangka panjang.

“Indonesia sebenarnya punya semua modal untuk hidup sehat. Tinggal kemauan kita saja untuk mengubah cara makan,” ungkap Dasaad.

Ia menutup dengan pesan reflektif, “Kesehatan adalah soal pilihan, bukan sekadar larangan. Dan pilihan terbaik sering kali sudah ada di dapur rumah Anda.”(BY)