Jakarta – Cranberry selama ini dikenal sebagai buah yang memiliki potensi membantu mengurangi risiko infeksi saluran kemih (ISK). Namun, manfaat buah berwarna merah tersebut ternyata tidak terbatas pada kesehatan saluran kemih. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa cranberry juga berpeluang membantu menjaga kesehatan gigi dengan menghambat pembentukan plak.
Temuan yang dipublikasikan dalam jurnal Scientific Reports mengungkapkan bahwa jus cranberry memiliki potensi menekan perkembangan bakteri penyebab plak pada gigi.
Christine Wu, seorang dokter gigi yang turut terlibat dalam penelitian tersebut, menyebutkan bahwa cranberry kerap dipandang kurang baik bagi kesehatan mulut karena karakteristik rasanya yang asam dan cenderung manis. Padahal, hasil penelitian justru memperlihatkan adanya kemungkinan manfaat dari buah tersebut.
Menurut laporan Science Alert, Wu menjelaskan bahwa kandungan alami dalam cranberry dapat memberikan efek positif terhadap aktivitas bakteri di dalam rongga mulut.
Salah satu senyawa yang menjadi perhatian para peneliti adalah proantosianidin atau proanthocyanidins (PAC). Senyawa ini diketahui memiliki kemampuan menghambat bakteri agar tidak mudah melekat pada permukaan sel tubuh.
Dalam kaitannya dengan infeksi saluran kemih, PAC dapat mengurangi kemampuan bakteri Escherichia coli untuk menempel pada lapisan sel yang terdapat di kandung kemih. Mekanisme serupa kemudian diduga memberikan manfaat bagi kesehatan gigi dan mulut.
Di dalam rongga mulut, senyawa tersebut berpotensi menghambat aktivitas Streptococcus mutans, yakni bakteri yang berperan dalam pembentukan plak. Bakteri ini dapat berkembang dalam lapisan biofilm pada permukaan gigi dan menghasilkan asam yang berisiko merusak enamel atau lapisan pelindung gigi.
Untuk mengetahui pengaruh cranberry terhadap bakteri plak, Wu bersama sejumlah peneliti melakukan pengujian berskala kecil. Penelitian tersebut melibatkan 22 partisipan yang terdiri atas delapan orang dewasa dan 14 anak-anak.
Hasil pengamatan menunjukkan adanya penurunan pertumbuhan kembali bakteri plak setelah sampel terpapar jus cranberry yang telah ditambahkan pemanis. Jumlah pertumbuhan bakteri tercatat sekitar 27 persen lebih rendah dibandingkan kondisi sebelum paparan.
Meski demikian, perbedaan tersebut belum mencapai tingkat signifikansi statistik. Artinya, hasil ini masih membutuhkan penelitian lanjutan dengan cakupan partisipan yang lebih besar untuk memastikan efektivitasnya.
Temuan lain yang cukup menarik berkaitan dengan kemampuan jus cranberry tanpa tambahan pemanis. Jenis jus ini diketahui dapat mengurangi produksi asam oleh bakteri plak pada peserta penelitian.
Penurunan aktivitas produksi asam tersebut berpotensi membantu mengurangi paparan zat asam yang dapat mengikis enamel gigi. Dengan demikian, cranberry dinilai memiliki peluang untuk dikembangkan sebagai salah satu bahan pendukung dalam menjaga kesehatan rongga mulut.
Para peneliti juga menduga bahwa jus cranberry murni berpotensi memberikan hasil lebih baik dibandingkan produk yang telah ditambahkan pemanis. Namun, perbandingan tersebut belum dibuktikan melalui pengujian khusus sehingga masih diperlukan kajian lebih mendalam.
Meski hasil awal penelitian menunjukkan potensi yang menjanjikan, cranberry belum dapat dianggap sebagai pengganti sikat gigi, penggunaan benang gigi, maupun pemeriksaan rutin ke dokter gigi. Penelitian lebih lanjut tetap diperlukan untuk memastikan manfaatnya dalam pencegahan plak dan kerusakan gigi.(YU)













