Hasil CKG 2026 Mengejutkan, Jutaan Warga Terdeteksi Berisiko Diabetes hingga Stroke

Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) 2026 mengungkap tingginya angka obesitas di Indonesia.
Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) 2026 mengungkap tingginya angka obesitas di Indonesia.

Jakarta – Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang dijalankan pemerintah mengungkap masih tingginya persoalan berat badan berlebih di masyarakat. Dari puluhan juta warga yang telah mengikuti pemeriksaan, sekitar 11 juta orang teridentifikasi mengalami obesitas.

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat hingga 31 Juli 2026 jumlah peserta CKG telah mencapai 73 juta orang. Angka tersebut melampaui total partisipasi program pada 2025 yang berada di kisaran 70 juta peserta.

Direktur Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas Kemenkes, dr. Maria Endang Sumiwi, MPH, menyampaikan bahwa obesitas menjadi salah satu temuan utama dalam proses pemeriksaan kesehatan masyarakat.

Menurutnya, kondisi tersebut perlu mendapatkan perhatian serius karena berat badan berlebih dapat meningkatkan risiko munculnya berbagai penyakit tidak menular, termasuk diabetes, gangguan jantung, serta stroke.

“Dari hasil skrining, persoalan berat badan menjadi salah satu perhatian. Sebanyak 11 juta orang diketahui mengalami obesitas,” ujar Endang dalam Media Briefing Evaluasi, Capaian, dan Langkah Strategis Program CKG, Selasa (4/8/2026).

Baca Juga  PKK Pariaman Targetkan Prestasi Terbaik di Lomba Dasawisma Sumbar 2026

Selain masalah obesitas, pelaksanaan CKG juga menemukan sejumlah faktor risiko penyakit kronis lainnya. Dari sekitar 52 juta peserta dewasa yang menjalani pemeriksaan tekanan darah, terdapat 4,9 juta orang mengalami hipertensi dan 5,5 juta peserta berada dalam kategori prehipertensi.

Endang mengingatkan bahwa kondisi tekanan darah tinggi yang tidak dikontrol dapat berkembang menjadi penyakit serius seperti stroke, penyakit jantung, hingga gangguan fungsi ginjal.

Pemeriksaan kesehatan tersebut juga mendeteksi hampir 992 ribu orang dengan diabetes serta sekitar 1,9 juta peserta yang masuk kategori prediabetes. Sementara itu, sebanyak 205 ribu orang diketahui mengalami gangguan kadar lemak darah atau dislipidemia.

Kemenkes menilai hasil pemeriksaan melalui program CKG menjadi sumber data penting untuk mengetahui gambaran kesehatan masyarakat secara lebih luas. Data tersebut nantinya digunakan sebagai dasar dalam memperkuat strategi pencegahan penyakit tidak menular.

Baca Juga  Mercedes-Benz Luncurkan AMG GT 63 PRO dan GLC 200 4MATIC di GIIAS 2026

Ke depan, pemerintah tidak hanya berfokus pada kegiatan pemeriksaan awal, tetapi juga memastikan masyarakat yang memiliki faktor risiko atau telah terdiagnosis penyakit kronis memperoleh tindak lanjut berupa pengobatan dan pemantauan kesehatan secara berkala.

Upaya tersebut diharapkan mampu mencegah komplikasi berat akibat penyakit kronis, seperti stroke, serangan jantung, dan gagal ginjal, melalui penanganan yang lebih cepat.(BY)