Islam Agama Fitrah, Kemudahan dan Keseimbangan

Oleh: Duski Samad
Peserta Umrah Tamu Khadim Al-Haramain Al-Syarifain Raja Salman 1448 H / 2026 M

Catatan dari Materi Khutbah Khatib Masjid Nabawi Jumat, 10 Juli 2026
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Alhamdulillāh, pada pertemuan bersama Khatib Masjid Nabawi, menyampaikan tema yang sangat penting bagi kehidupan umat Islam, yaitu bahwa Islam adalah agama kemudahan (يُسر), kelapangan (سعة), dan keseimbangan (وسطية). Agama ini diturunkan Allah sesuai dengan fitrah manusia, bukan untuk memberatkan, tetapi untuk mengantarkan manusia menuju kebahagiaan dunia dan akhirat.

Khatib mengawali dengan mengingatkan firman Allah SWT: وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا
“Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan jalan keluar baginya.”
(QS. At-Talaq: 2)

Takwa adalah kunci kemudahan hidup. Semakin dekat seseorang kepada Allah, semakin Allah bukakan jalan keluar dari berbagai persoalan yang dihadapinya.

Khatib menegaskan bahwa Islam dibangun di atas fitrah manusia (فطرة الله). Karena itu, seluruh syariat tidak bertentangan dengan tabiat manusia, tetapi menyempurnakan dan mengarahkannya.

Islam tidak menghilangkan kebutuhan manusia terhadap istirahat, rekreasi, keluarga, bekerja, ataupun menikmati keindahan dunia.

Semua itu dibolehkan selama berada dalam batas-batas syariat dan menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah.

Beliau kemudian mengingatkan pentingnya berjalan di muka bumi sebagaimana firman Allah SWT : قُلْ سِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَانظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الَّذِينَ مِن قَبْلُ
“Katakanlah: Berjalanlah di bumi, lalu perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang terdahulu.”

Perjalanan (safar), ziarah, dan pengamatan terhadap sejarah bukan sekadar wisata, tetapi sarana mengambil pelajaran (i’tibar), memperkuat keimanan, dan memperluas wawasan.

Syekh juga menjelaskan bahwa rekreasi dalam Islam (الترويح في الإسلام) bukanlah tujuan hidup, melainkan perpindahan dari satu amal kepada amal yang lain. Seorang Muslim boleh beristirahat agar kembali memiliki kekuatan untuk beribadah, bekerja, menuntut ilmu, membaca Al-Qur’an, berziarah, dan memberi manfaat kepada sesama.

Beliau mengingatkan agar manusia tidak tertipu oleh kehidupan dunia yang dihiasi berbagai kenikmatan. Banyak orang hanya mengambil sisi-sisi Islam yang ringan dan menyenangkan, tetapi meninggalkan kewajiban serta tanggung jawabnya. Padahal Islam adalah agama yang utuh; kemudahan tidak berarti mengabaikan syariat.

Makna keluwesan (اليُسر) dan keseimbangan (الوسطية) dalam Islam semakin terasa ketika pada salat Jum’at di Masjid Nabawi, imam membaca Surah Quraisy pada rakaat pertama dan Surah An-Nasr pada rakaat kedua. Pemilihan kedua surah tersebut seakan melengkapi tema khutbah Syekh.

Baca Juga  Jelang Nikah, Atta-Aurel Keluarkan Single Duet

Allah SWT berfirman:
لِإِيلَافِ قُرَيْشٍ ۝ إِيلَافِهِمْ رِحْلَةَ الشِّتَاءِ وَالصَّيْفِ ۝ فَلْيَعْبُ رَبَّ هَٰذَا الْبَيْتِ ۝ الَّذِي أَطْعَمَهُمْ مِنْ جُوعٍ وَآمَنَهُمْ مِنْ خَوْفٍ
“Karena kebiasaan orang-orang Quraisy, yaitu kebiasaan mereka bepergian pada musim dingin dan musim panas. Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan Pemilik rumah ini (Ka’bah), yang telah memberi mereka makanan untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari rasa takut.” (QS. Quraisy: 1–4)

Surah ini menunjukkan bahwa Islam tidak memisahkan antara ibadah dan kehidupan dunia. Aktivitas ekonomi, perjalanan, perdagangan, keamanan, dan kesejahteraan merupakan nikmat Allah yang harus mengantarkan manusia kepada penghambaan kepada-Nya. Dunia tidak ditinggalkan, tetapi dijadikan jalan menuju akhirat.

Kemudian pada rakaat kedua dibacakan Surah An-Nasr إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ ۝ وَرَأَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُونَ فِي دِينِ اللَّهِ أَفْوَاجًا ۝ فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ ۚ إِنَّهُ كَانَ تَوَّابًا
“Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan engkau melihat manusia masuk agama Allah berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia Maha Penerima tobat.”(QS. An-Nasr: 1–3)

Surah ini mengajarkan bahwa ketika keberhasilan dan kemenangan diraih, seorang Mukmin tidak larut dalam kebanggaan diri, melainkan memperbanyak tasbih, tahmid, dan istighfar.

Dengan demikian, Quraisy mengajarkan keseimbangan dalam memanfaatkan nikmat dunia, sedangkan An-Nasr mengajarkan kerendahan hati ketika memperoleh keberhasilan.

Kedua surah ini memperkuat pesan bahwa Islam adalah agama yang luwes tanpa kehilangan prinsip, mudah tanpa meremehkan syariat, serta seimbang antara dunia dan akhirat, antara usaha dan tawakal, antara aktivitas dan ibadah.

Syekh kemudian mengutip firman Allah SWT فَإِذَا فَرَغْتَ فَانصَبْ ۝ وَإِلَىٰ رَبِّكَ فَارْغَبْ
“Apabila engkau telah selesai dari suatu urusan, maka bersungguh- sungguhlah dalam urusan yang lain. Dan hanya kepada Tuhanmulah engkau berharap.”(QS. Al-Insyirah: 7–8)

Ayat ini mengajarkan bahwa kehidupan seorang Muslim harus selalu produktif. Setelah menyelesaikan satu amal, ia berpindah kepada amal berikutnya dengan niat mencari rida Allah.

Di akhir khutbahnya, Syekh mengingatkan agar tidak menyia-nyiakan umur. Waktu adalah nikmat yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban. Nikmat kesehatan, kesempatan, ilmu, perjalanan, dan pertemuan dengan orang-orang saleh hendaknya dimanfaatkan untuk memperbanyak amal kebajikan.

Beliau juga mengingatkan bahwa seorang Muslim tidak cukup hanya berbuat baik kepada dirinya sendiri, tetapi juga harus menjadi sumber kebaikan bagi orang lain. Dengan ungkapan yang indah beliau berkata وأحسن إلى من أحسن إليك “Berbuat baiklah kepada orang yang telah berbuat baik kepadamu.”

Baca Juga  Raja Ampat dan Ancaman Tambang, DPR Dorong Keseimbangan Ekonomi & Lingkungan

Akhlak Islam dibangun di atas rasa syukur, penghargaan, dan membalas kebaikan dengan kebaikan yang lebih baik. Bahkan kepada orang yang belum berbuat baik sekalipun, seorang Muslim tetap dituntut menjaga akhlak mulia dan mengharap balasan hanya dari Allah SWT.

Pertemuan ini semakin meneguhkan keyakinan bahwa Islam bukan agama yang sempit dan memberatkan, melainkan agama yang memadukan ibadah, ilmu, amal, rekreasi yang bermanfaat, ziarah, membaca Al-Qur’an, dan pengabdian kepada masyarakat dalam satu kesatuan kehidupan yang harmonis.

Perpaduan antara khutbah Syekh dan bacaan imam pada malam itu menjadi pelajaran yang sangat mendalam. Seolah-olah lisan menyampaikan nasihat, sementara Al-Qur’an meneguhkannya dengan ayat-ayat-Nya. Inilah salah satu keindahan tradisi ilmiah di Masjid Nabawi.

Sebagai penutup, Syekh memanjatkan doa yang penuh harapan bagi umat Islam:
اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِينَ، وَاجْعَلْ بِلَادَ الْمُسْلِمِينَ آمِنَةً مُطْمَئِنَّةً، وَأَصْلِحْ لَنَا دِينَنَا الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتِي فِيهَا مَعَاشُنَا، وَوَفِّقْ أُمَّةَ الْمُسْلِمِينَ لِكُلِّ خَيْرٍ.
“Ya Allah, muliakanlah Islam dan kaum Muslimin. Jadikanlah negeri-negeri kaum Muslimin aman dan tenteram. Perbaikilah agama kami yang menjadi penjaga seluruh urusan kami. Perbaikilah kehidupan dunia kami yang menjadi tempat penghidupan kami. Dan berilah taufik kepada umat Islam untuk meraih segala kebaikan.”

Doa tersebut mengingatkan bahwa kemuliaan umat tidak hanya bergantung pada kekuatan materi, tetapi terutama pada kokohnya agama, persatuan, keamanan, dan taufik Allah SWT.

Dari Kota Nabi dipanjatkan harapan agar umat Islam di seluruh dunia senantiasa berada dalam lindungan-Nya, hidup dalam kedamaian, serta mampu menghadirkan Islam sebagai agama fitrah, kemudahan, dan keseimbangan bagi seluruh alam.
اللهم فقهنا في الدين، واجعلنا من عبادك المتقين، وأعز الإسلام والمسلمين، ووفق أمة محمد صلى الله عليه وسلم لكل خير. آمين يا رب العالمين.