Saat Isu Perempuan Disalahpahami, Kalis Mardiasih Kena Serangan Netizen

Kalis Mardiasih (kanan) mengaku kerap menghadapi berbagai tantangan selama menjadi kreator konten.
Kalis Mardiasih (kanan) mengaku kerap menghadapi berbagai tantangan selama menjadi kreator konten.

JakartaPenulis dan aktivis perempuan Kalis Mardiasih mengungkapkan bahwa menjadi kreator konten yang mengangkat isu perempuan tidak lepas dari berbagai tantangan. Menurutnya, kesulitan terbesar justru muncul ketika topik yang dibahas berkaitan dengan figur publik atau selebritas.

Hal tersebut disampaikannya dalam acara Creatorverse di ICC Unsoed 2026 yang digelar di Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Kamis (7/5/2026).

Ia menilai bahwa respons publik terhadap konten yang menyentuh kehidupan selebritas cenderung lebih sensitif dibanding isu lain, bahkan politik sekalipun.

Kalis juga membagikan pengalamannya saat menanggapi pernyataan Atta Halilintar yang pernah mengungkap keinginan memiliki banyak anak bersama Aurel Hermansyah. Dalam pembahasannya, ia sebenarnya menyoroti hak perempuan dalam menentukan jumlah anak serta aspek kesehatan reproduksi.

Baca Juga  Pesawat Rimbun Air Terjatuh di Papua, Tiga Kru Tewas

Namun, menurutnya, narasi yang berkembang di media justru mengarah pada kesan bahwa dirinya menyerang pasangan tersebut. Padahal, fokus utama kontennya adalah edukasi terkait hak perempuan, bukan kritik personal terhadap individu.

Akibat kesalahpahaman itu, ia sempat menerima banyak respons negatif. Akun media sosial hingga kontak pribadinya dibanjiri pesan dari penggemar, bahkan hingga dari luar negeri.

Situasi serupa terjadi ketika ia mengangkat kasus kekerasan dalam rumah tangga yang melibatkan Rizky Billar dan Lesti Kejora. Konten yang dibuatnya bertujuan memberikan pemahaman bahwa isu KDRT bukan sekadar urusan pribadi, melainkan persoalan publik yang memiliki payung hukum.

Meski demikian, video tersebut sempat menuai kritik karena dianggap mencampuri ranah privat. Kalis menegaskan bahwa banyak orang keliru memahami pesan yang ia sampaikan.

Baca Juga  Tanpa Thom Haye, Siapa Pengatur Serangan Timnas Indonesia di FIFA Series 2026?

Ia menekankan bahwa tujuannya bukan untuk menyerang tokoh tertentu, melainkan mengajak masyarakat lebih sadar terhadap persoalan sosial yang lebih luas, khususnya yang berkaitan dengan hak perempuan.(BY)