HAVANA – Pemerintah Kuba kembali melontarkan kritik keras terhadap Amerika Serikat (AS) dengan menuduh adanya kebijakan embargo energi yang dinilai sengaja dibuat untuk melemahkan perekonomian negara tersebut sekaligus memperburuk kondisi kehidupan masyarakatnya.
Presiden Kuba, Miguel Díaz-Canel Bermúdez, menyampaikan bahwa kebijakan embargo yang semakin diperketat, termasuk pembatasan pasokan energi seperti minyak, telah memberikan dampak serius terhadap stabilitas ekonomi Kuba. Ia menilai langkah tersebut sebagai bentuk tekanan politik dari negara besar terhadap negara kecil.
Menurut Díaz-Canel, tindakan tersebut bukan hanya sekadar sanksi ekonomi, tetapi merupakan bagian dari upaya sistematis untuk menekan dan menyulitkan kehidupan rakyat Kuba.
Pernyataan tersebut muncul setelah adanya ancaman dari Presiden Amerika Serikat saat itu, Donald Trump, yang menyebutkan bahwa Washington siap mengambil langkah lebih jauh terhadap Kuba. Selain itu, AS juga memperketat kebijakan sanksi dengan membatasi transaksi keuangan internasional yang melibatkan individu maupun entitas Kuba yang masuk dalam daftar hitam.
Pemimpin Kuba tersebut menilai bahwa ancaman terkait kemungkinan tindakan militer terhadap negaranya kini berada pada tingkat yang jauh lebih serius dibanding sebelumnya.
“Ancaman terhadap Kuba dari Presiden Amerika Serikat telah meningkat ke level yang sangat berbahaya dan belum pernah terjadi sebelumnya,” ungkapnya melalui platform media sosial X, seperti dikutip pada Rabu (6/5/2026).
Ia juga mengajak komunitas internasional untuk memberikan perhatian terhadap situasi yang sedang berlangsung tersebut. Menurutnya, kebijakan yang diterapkan AS lebih banyak menguntungkan kelompok tertentu yang memiliki kepentingan ekonomi dan politik.
Selain itu, Donald Trump juga menandatangani kebijakan yang memungkinkan penerapan tarif terhadap negara-negara yang memasok minyak ke Kuba, sekaligus menetapkan kondisi darurat nasional dengan alasan ancaman terhadap keamanan Amerika Serikat.
Menanggapi hal tersebut, pemerintah Kuba menegaskan kembali bahwa kebijakan embargo energi yang diberlakukan AS bukan hanya bentuk tekanan ekonomi, tetapi juga berdampak langsung pada kehidupan masyarakat sehari-hari di negara tersebut.(BY)












