Adat Tak Lekang di Tengah Zaman! Yonaidi Resmi Sandang Gelar Datuk Rangkayo Mulie di Sialangan Gunuang Padang Alai

Padang Pariaman – Di tengah gempuran modernitas, Suku Koto tegakkan marwah adat lewat Batagak Gadang yang menggugah penuh makna, haru, dan kebanggaan nagari.

Di bawah langit biru yang teduh, suara talempong bertalu-talu, menggema hingga ke tepian kampung. Langkah para ninik mamak perlahan menapak menuju Balairung Adat Korong Sialangan, Nagari Gunuang Padang Alai, Kecamatan V Koto Timur, Padang Pariaman, pada Sabtu (4/10/2025).

Hari itu bukan sekadar Sabtu biasa.
Bagi Suku Koto, inilah hari sakral “Batagak Gadang Malewakan Gala Adat”, saat Yonaidi resmi menyandang gelar kehormatan “Datuk Rangkayo Mulie”.

Di tengah derasnya arus modernisasi, aroma tradisi masih kuat tercium. Balairung yang berdiri gagah di tengah nagari menjadi saksi hidup bahwa adat Minangkabau masih berdenyut di dada anak nagari, bukan sekadar cerita masa lalu.

“Kok tibo indak tersonsong, duduak indak pada tempatnyo, kami mohon maaf. Kepada Allah kito minta ampun,” tutur Buzamar Datuk Malintang, Ketua Pelaksana, dengan suara bergetar. Kalimat sederhana tapi sarat makna, menggambarkan ketulusan dan keanggunan adat yang hidup dalam kesantunan.

Batagak Gadang bukan sekadar seremoni gelar. Ia adalah regenerasi kepemimpinan, peneguhan marwah kaum, sekaligus pengingat tentang makna menjadi manusia yang dihormati karena budi, bukan karena posisi.

Gelar Datuk Rangkayo Mulie yang kini disandang Yonaidi menggantikan mamak kandungnya, Ibrahim, bukan hanya simbol kehormatan, tetapi juga amanah moral. Ibarahim yang menjalankan amanah Penghulu telah cukup lama. Lantas, ia melakukan “hiduik bakarilaan sebab lurah lah dalam, bukik lah tinggi”.

Ia dituntut menjadi nan gadang dek budi, nan tinggi dek baso, pemimpin yang bijak, rendah hati, dan menegakkan nilai-nilai luhur adat.

“Semoga gelar ini membawa berkah dan memperkuat semangat kebersamaan antar dunsanak,” ucap Buzamar penuh harap.

Suasana kian khidmat ketika doa adat dilantunkan, bersahut dengan denting talempong dan hentakan tari pasambahan.

Iringan seni Pencak Silat dari 14 kelompok di Padang Pariaman menambah semarak prosesi yang juga diselingi kegiatan olahraga berburu babi. Tradisi yang lekat dengan kehidupan anak nagari.

Wajah-wajah muda memandang kagum, seakan sedang mencatat dalam hati. Di sini akar budaya tak pernah patah. Mungkin suatu hari nanti, merekalah yang akan berdiri di Balairung itu, melanjutkan adat dan marwah kaum dengan kebanggaan yang sama.

Ketika senja perlahan turun di balik bukit, cahaya jingga memantul di dinding Balairung. Namun, cahaya sejati yang bersinar hari itu bukan dari langit.

Melainkan dari hati masyarakat Gunuang Padang Alai, yang meneguhkan bahwa adat bukan sekadar warisan, tapi napas kehidupan dan identitas yang tak lekang dimakan zaman.

Turut hadir memberi penghormatan, Gubernur Sumatera Barat yang diwakili Kepala Dinas Kebudayaan Dr. H.Jefrinal Arifin, SH, MH, utusan Ketua LKAAM Sumbar Fauzi Bahar Dt.Nan Sati, Wakil Wali Kota Pariaman Mulyadi, serta para dunsanak Suku Koto dari berbagai daerah yang tergabung dalam Payung Panji Suku Koton Sadunia (PPSKS) yang diketuai H. Damsuar Dt. Bandaro Putiah, MM.

Di tanah Minang, gelar boleh berganti, tapi adat dan harga diri tetap abadi.(sa)