Jakarta — Nilai tukar rupiah kembali berada di zona merah pada perdagangan Selasa (1/9/2026). Mata uang Garuda berakhir di posisi Rp17.744 per dolar AS, melemah 22 poin atau sekitar 0,12 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya.
Analis pasar uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menilai tekanan terhadap rupiah tidak terlepas dari perkembangan eksternal, khususnya meningkatnya kembali ketegangan di kawasan Timur Tengah. Ancaman Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk melakukan serangan lanjutan ke Iran menjadi salah satu faktor yang diperhatikan pelaku pasar.
Ketegangan tersebut muncul setelah Amerika Serikat dan Iran sebelumnya terlibat dalam aksi saling serang secara langsung. Situasi itu kembali menimbulkan kekhawatiran terhadap stabilitas kawasan serta kelancaran perdagangan dan pasokan energi dunia.
Menurut Ibrahim, berbagai upaya diplomasi untuk meredakan situasi belum menunjukkan perkembangan signifikan. Qatar dan Oman, misalnya, masih berupaya menjadi mediator dalam pembahasan mengenai pembukaan kembali Selat Hormuz.
Selat tersebut merupakan salah satu jalur strategis bagi perdagangan energi global karena sebelum konflik berlangsung, sekitar seperlima pasokan minyak dunia melewati kawasan itu. Iran menutup jalur pelayaran tersebut setelah serangan Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari.
Risiko terhadap lalu lintas kapal juga masih menjadi perhatian. United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO) melaporkan pada Selasa bahwa sebuah kapal tanker yang sedang meninggalkan Selat Hormuz terkena tiga proyektil. Tidak terdapat laporan mengenai korban jiwa maupun pencemaran lingkungan akibat insiden tersebut.
Dari Amerika Serikat, arah kebijakan Federal Reserve turut menjadi perhatian investor. Pernyataan Ketua The Fed, Kevin Warsh, dalam Simposium Jackson Hole dinilai bernada hawkish sehingga memperkuat spekulasi bahwa kenaikan suku bunga dapat dilakukan dalam waktu dekat, bahkan paling cepat pada September.
Ekspektasi tersebut turut memperkuat dolar AS dan mendorong kenaikan imbal hasil surat utang pemerintah Amerika Serikat untuk tenor pendek. Berdasarkan CME FedWatch, probabilitas kenaikan suku bunga The Fed pada September kini berada di kisaran 66 persen. Angka tersebut meningkat cukup tajam dibandingkan sekitar 38 persen sebelum pidato Warsh.
Pelaku pasar selanjutnya akan mencermati sejumlah indikator ekonomi AS, termasuk data PMI Manufaktur dan JOLTS Job Openings. Namun, perhatian terbesar sepanjang pekan ini diperkirakan tertuju pada laporan ketenagakerjaan utama Amerika Serikat, Nonfarm Payrolls (NFP), yang dijadwalkan terbit pada Jumat.
Tekanan dari Dalam Negeri
Dari sisi domestik, kondisi sektor manufaktur Indonesia juga belum sepenuhnya memberikan sentimen positif bagi rupiah. Data S&P Global menunjukkan PMI Manufaktur Indonesia pada Agustus 2026 turun menjadi 49,8 dari 50,2 pada bulan sebelumnya.
Angka di bawah level 50 mengindikasikan aktivitas manufaktur kembali mengalami kontraksi. Dengan demikian, perbaikan yang sempat terjadi pada Juli tidak berlanjut pada Agustus.
Pelemahan tersebut terutama dipengaruhi oleh penurunan produksi dan jumlah tenaga kerja yang terserap industri. Berdasarkan survei S&P Global, output dan ketenagakerjaan sektor manufaktur Indonesia mengalami penurunan dalam lima dari enam periode survei terakhir.
Di tengah tekanan sektor manufaktur, perkembangan inflasi domestik menunjukkan adanya perubahan arah. Pada Agustus 2026, Indonesia mencatat inflasi bulanan sebesar 0,21 persen. Sebelumnya, pada Juli, indeks harga konsumen mengalami deflasi sebesar 0,14 persen.
Secara tahunan, inflasi pada Agustus tercatat 3,19 persen. Sementara itu, tingkat inflasi sepanjang tahun berjalan mencapai 1,86 persen. Indeks Harga Konsumen juga meningkat dari 111,73 pada Juli menjadi 111,97 pada Agustus 2026.
Sementara itu, sektor perdagangan luar negeri masih memberikan kontribusi positif. Indonesia kembali mencatat surplus neraca perdagangan pada Juli 2026 sebesar USD120 juta setelah mengalami defisit USD450 juta pada Juni.
Kinerja ekspor juga menunjukkan pertumbuhan. Nilai ekspor Indonesia pada Juli mencapai USD26,22 miliar, meningkat 6,05 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Namun, ekspor migas masih mengalami penurunan. Nilainya tercatat sebesar USD0,79 miliar atau turun 14,58 persen secara tahunan. Sebaliknya, ekspor nonmigas tumbuh 6,84 persen menjadi USD25,45 miliar.
Dengan mempertimbangkan berbagai faktor tersebut, Ibrahim memperkirakan pergerakan rupiah pada perdagangan berikutnya masih akan berlangsung volatil. Rupiah diproyeksikan berada dalam rentang Rp17.740 hingga Rp17.790 per dolar AS, dengan peluang kembali mengalami tekanan pelemahan.(BY)












