Jakarta — Momen ketika bayi tiba-tiba tersenyum saat tertidur sering kali membuat orang tua gemas. Ekspresi tersebut bahkan kerap dianggap sebagai tanda bahwa si kecil sedang menikmati mimpi yang menyenangkan.
Namun, dari sudut pandang ilmiah, senyum bayi ketika tidur tidak sesederhana itu. Ekspresi yang muncul secara tiba-tiba tersebut justru berkaitan erat dengan aktivitas otak, sistem saraf, serta karakteristik tidur bayi yang masih berkembang.
Sebuah studi yang dimuat dalam jurnal Sleep Medicine mencoba mengamati lebih jauh fenomena tersebut. Peneliti memantau pola tidur 12 bayi baru lahir yang sehat selama tiga jam dengan bantuan rekaman video dan metode polysomnography (PSG).
Selama pengamatan, peneliti menemukan 377 kejadian senyum. Hampir seluruhnya, yakni 98,4 persen, terjadi ketika bayi berada dalam kondisi yang disebut active sleep.
Tahap tidur tersebut merupakan periode ketika tubuh bayi masih menunjukkan berbagai aktivitas meskipun ia tampak sedang terlelap. Gerakan mata, kedutan pada wajah atau anggota tubuh, gerakan mengisap, meringis, hingga tersenyum dapat terjadi pada fase ini.
Temuan penelitian juga memperlihatkan adanya hubungan antara kemunculan senyum dengan rapid eye movements (REM), yaitu gerakan mata cepat yang menjadi salah satu ciri aktivitas tidur tertentu.
Senyum Bayi Tidak Selalu Berarti Bahagia
Penting untuk memahami bahwa tidak semua senyum pada bayi memiliki makna yang sama.
Pada masa awal kehidupannya, bayi dapat memperlihatkan spontaneous smile atau senyum spontan. Ekspresi ini dapat muncul tanpa adanya rangsangan dari orang lain, termasuk ketika bayi sedang tidur.
Jenis senyum tersebut berbeda dengan social smile. Senyum sosial biasanya muncul sebagai respons terhadap lingkungan, misalnya ketika bayi melihat wajah seseorang, mendengar suara, atau mendapatkan interaksi dari orang di sekitarnya.
Ketika memasuki usia sekitar 2 hingga 3 bulan, pola tersebut mulai berubah. Senyum spontan cenderung semakin berkurang, sementara senyum sosial menjadi lebih sering terlihat ketika bayi mulai merespons interaksi dengan lingkungan.
Karena itu, senyum yang terlihat pada bayi baru lahir saat tertidur tidak bisa langsung diartikan sebagai ekspresi kebahagiaan. Senyum tersebut dapat merupakan bagian dari aktivitas saraf yang berlangsung secara alami ketika bayi tidur.
Apakah Ada Hubungannya dengan Mimpi?
Senyum saat tidur juga sering memunculkan dugaan bahwa bayi sedang bermimpi. Dugaan tersebut muncul karena bayi memiliki fase active sleep yang menunjukkan beberapa karakteristik menyerupai tidur REM pada orang dewasa.
Pada manusia dewasa, fase REM sering dikaitkan dengan aktivitas bermimpi. Akan tetapi, hal tersebut tidak berarti setiap bayi yang berada dalam kondisi serupa sedang mengalami mimpi tertentu.
Terlebih lagi, pengalaman subjektif bayi ketika tidur belum dapat diamati secara langsung. Sampai saat ini, tidak ada dasar yang cukup untuk memastikan bahwa senyum spontan bayi merupakan respons terhadap mimpi lucu, menyenangkan, atau pengalaman tertentu dalam tidurnya.
Penelitian mengenai perkembangan bayi justru menunjukkan bahwa aktivitas jaringan saraf berperan dalam munculnya ekspresi spontan tersebut. Aktivitas pada area otak, termasuk korteks, dapat berkaitan dengan perkembangan kemampuan bayi menghasilkan senyum.
Jadi, jika orang tua melihat buah hati mereka tersenyum ketika sedang pulas, tidak perlu buru-buru menyimpulkan bahwa si kecil sedang bermimpi indah.
Senyum tersebut kemungkinan merupakan salah satu bentuk aktivitas spontan tubuh yang muncul ketika sistem saraf bayi sedang berkembang. Meski terlihat sederhana, ekspresi kecil itu menjadi bagian dari proses kompleks perkembangan otak dan tubuh pada masa awal kehidupan.(BY)












