Jakarta – Hujan abu akibat aktivitas vulkanik tidak hanya mengganggu jarak pandang dan aktivitas masyarakat di luar ruangan. Partikel abu yang terbawa angin juga dapat masuk ke dalam rumah maupun kendaraan dan memengaruhi kualitas udara.
Di tengah kondisi tersebut, muncul pertanyaan apakah penggunaan pendingin ruangan atau air conditioner (AC) tetap aman dilakukan ketika abu vulkanik masih bertebaran.
Jawabannya bergantung pada seberapa parah hujan abu yang terjadi. Ketika paparan abu masih ringan dan seluruh akses udara dari luar ditutup, AC di dalam rumah pada umumnya masih dapat digunakan. Sebaliknya, ketika abu turun dengan intensitas tinggi, penggunaan AC perlu dipertimbangkan kembali karena dapat berdampak terhadap perangkat.
AC di rumah masih boleh digunakan saat abu ringan
Pada AC jenis split maupun AC jendela, sistem pendingin pada dasarnya mengolah dan mengedarkan udara yang berada di dalam ruangan. Karena itu, ketika pintu serta jendela tertutup dengan baik, kemungkinan abu dari luar masuk secara langsung ke ruangan dapat ditekan.
Meski demikian, kondisi tersebut tidak berarti rumah sepenuhnya bebas dari abu vulkanik. Jika terdapat celah yang memungkinkan udara luar masuk, partikel abu tetap berpotensi mencemari udara di dalam ruangan.
Situasinya menjadi berbeda ketika hujan abu berlangsung cukup tebal. Dalam kondisi seperti itu, AC sebaiknya tidak digunakan untuk sementara waktu, terutama karena adanya risiko terhadap unit pendingin yang berada di luar bangunan.
Partikel abu yang menempel dan menumpuk pada kondensor atau komponen eksternal AC dapat menghambat pelepasan panas. Jika dibiarkan, kondisi tersebut berpotensi membuat kompresor bekerja lebih berat dan mengganggu performa sistem pendingin.
Bersihkan AC setelah hujan abu berhenti
Membersihkan AC menjadi langkah penting setelah kondisi kembali aman. Hal ini berlaku baik ketika hujan abu yang terjadi tergolong ringan maupun berat, sebab partikel vulkanik yang menempel pada perangkat dapat terus menumpuk dan memengaruhi kinerjanya.
Pembersihan ringan dapat dilakukan menggunakan penyedot debu. Namun, pemilik AC perlu berhati-hati ketika menangani unit bagian luar.
Jangan sembarangan menyiram atau membasahi komponen eksternal. Air yang mengenai bagian seperti circuit board atau komponen kelistrikan dapat menimbulkan gangguan dan risiko korsleting.
Jika kondisi unit sangat kotor atau terdapat keraguan saat membersihkannya, pemeriksaan oleh teknisi dapat menjadi pilihan yang lebih aman.
Selain itu, perlu dipahami bahwa AC tidak secara otomatis menghilangkan abu yang terus masuk dari luar. Jika pintu atau jendela masih terbuka dan udara luar membawa partikel vulkanik ke dalam rumah, kualitas udara tetap dapat menurun meskipun AC terus menyala.
Bagaimana jika berada di dalam mobil?
Berada di dalam rumah tetap menjadi pilihan yang lebih aman ketika hujan abu vulkanik sedang berlangsung. Namun, dalam keadaan tertentu seseorang mungkin harus bepergian menggunakan kendaraan.
Jika perjalanan tidak dapat dihindari, jendela mobil sebaiknya tetap tertutup rapat. Ketika abu vulkanik turun cukup deras, penggunaan sistem AC kendaraan juga sebaiknya dihindari.
Pengoperasian AC mobil dapat memungkinkan udara dari luar masuk ke dalam kabin, tergantung pada pengaturan sistem ventilasinya. Dalam kondisi hujan abu yang pekat, sistem penyaringan kendaraan belum tentu mampu menahan seluruh partikel vulkanik.
Akibatnya, sebagian partikel berukuran kecil tetap berpotensi berada di dalam kabin dan terhirup oleh pengemudi maupun penumpang.
Air purifier bisa menjadi pilihan tambahan
Untuk membantu menjaga udara di dalam rumah, penggunaan air purifier juga dapat dipertimbangkan apabila perangkat tersebut tersedia.
Alat ini dirancang untuk membantu menangkap berbagai partikel yang berada di udara, seperti debu, asap, dan sejumlah polutan. Penggunaannya dapat menjadi salah satu langkah tambahan untuk mengurangi paparan partikel ketika kualitas udara di luar sedang buruk.
Paparan abu vulkanik sendiri perlu diwaspadai, terutama bagi orang yang memiliki gangguan pernapasan. Partikel abu dapat memperburuk keluhan pada penderita asma, rinitis alergi, maupun penyakit pernapasan kronis lainnya.
Bagi penderita asma atau alergi, menjaga agar udara di dalam rumah tetap bersih menjadi hal penting. Obat rutin sebaiknya tetap digunakan sesuai anjuran dokter, sementara obat darurat perlu tersedia apabila sewaktu-waktu gejala muncul atau memburuk.
Jika kondisi kesehatan mengalami penurunan setelah terpapar abu vulkanik, segera cari pertolongan medis.
Pada akhirnya, penggunaan AC selama hujan abu vulkanik tidak bisa disamaratakan. Saat abu masih ringan, AC di rumah dapat tetap digunakan dengan memastikan ruangan tertutup rapat. Namun, ketika hujan abu sangat tebal, mematikan AC untuk sementara dan melakukan pemeriksaan serta pembersihan setelah kondisi aman merupakan langkah yang lebih bijak.(BY)












