Padang – Islam di Minangkabau bukan hadir lewat pedang, melainkan melalui pertemuan budaya dan spiritual yang harmonis. Di Nagari Ulakan, berdiri sebuah monumen kayu yang menjadi saksi sejarah: Surau Gadang Syekh Burhanuddin.
Berdiri sejak 1680, surau ini bukan sekadar bangunan tua, melainkan fondasi identitas religius masyarakat Minang hingga kini.
Amsaidi Lutan, Wakil Khalifah Surau Gadang Tanjung Medan, menceritakan kisah Pono, seorang pemuda Ulakan yang menempuh perjalanan ke Aceh untuk menimba ilmu dari ulama besar, Syekh Abdurrauf as-Singkili. Selama sekitar 30 tahun di Serambi Mekkah, Pono mendalami ajaran Islam dan Tarekat Syattariyah sebelum kembali ke kampung halamannya.
“Surau ini adalah surau pertama yang beliau dirikan dan sekaligus yang tertua di Minangkabau,” ungkap Amsaidi Lutan.
Syekh Burhanuddin memahami betul kekuatan adat Minangkabau. Alih-alih menentang tradisi, ia menempatkan Islam sebagai pengisi nilai dalam adat yang sudah ada, sebuah pendekatan yang kemudian melahirkan filosofi hidup Minang: Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah.
Surau Gadang: “Universitas” Pertama Minangkabau
Jauh sebelum sistem sekolah modern hadir di Sumatera Barat, Surau Gadang telah menjadi pusat intelektual. Para santri duduk melingkar mengelilingi guru (sistem halakah), membangun pendidikan berbasis asrama pertama di wilayah ini.
Lulusan Surau Gadang kemudian menyebar ke seluruh Luhak Nan Tigo, mendirikan surau baru dengan corak Syattariyah yang sama. Pada 1700-an, ajaran ini menjadi dominan di daratan maupun pesisir Minangkabau.
Melahirkan Mentalitas Merdeka
Dalam pengajarannya, Syekh Burhanuddin menekankan konsep Wujudiyah, kedekatan spiritual antara hamba dan Sang Pencipta. Konsep ini tidak hanya menumbuhkan kesalehan, tetapi juga mentalitas yang merdeka dan berani menghadapi penjajah. Tokoh besar seperti Tuanku Imam Bonjol pun memiliki akar pendidikan spiritual dari tradisi ilmu yang dirintis di Ulakan, meski kemudian bergeser ke gerakan Paderi yang lebih puritan.
Warisan yang Tetap Hidup
Hingga kini, ribuan orang setiap tahun melakukan tradisi Basapa, berziarah ke makam Syekh Burhanuddin untuk mengenang momen ketika Islam pertama kali menyatu dengan identitas Minangkabau.
Perjalanan Syattariyah di Minangkabau:
1650-an: Pono berangkat ke Aceh menimba ilmu pada Syekh Abdurrauf as-Singkili.
1680: Kembali ke Ulakan dan mendirikan Surau Gadang.
1700-an: Syattariyah menjadi ajaran dominan di Luhak dan pesisir.
Surau Gadang bukan sekadar arsitektur yang tegak kembali setelah gempa 2009. Ia adalah monumen keberanian Syekh Burhanuddin, simbol bagaimana Islam di Sumatera Barat lahir dan berkembang dengan karakter Minangkabau yang khas.(des*)












