Agam – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkapkan bahwa musim kemarau panjang menjadi penyebab utama kekeringan di sejumlah wilayah Sumatera Barat. Meskipun pada awal September diperkirakan sudah memasuki masa peralihan ke musim hujan, curah hujan yang turun masih belum merata.
JFT PMG Madya Stasiun Klimatologi Sumbar, Rizky A. Saputra, menjelaskan kondisi kekeringan yang terjadi saat ini merupakan dampak langsung dari kemarau panjang. Tidak meratanya frekuensi dan intensitas hujan memperburuk situasi di beberapa daerah.
Menurutnya, hasil pemantauan BMKG menunjukkan angin monsun Australia masih cukup dominan hingga memengaruhi wilayah Samudra Hindia. Akibatnya, suplai uap air untuk pembentukan awan hujan berkurang, sehingga intensitas hujan di pesisir Sumbar menurun.
“Lamanya musim kemarau kali ini disebabkan kuatnya hembusan angin dari Australia yang mengurangi pembentukan uap air di Samudra Hindia. Hal ini berdampak pada berkurangnya curah hujan,” jelas Rizky.
Ia menambahkan, kondisi kemarau yang biasanya hanya melanda daerah timur seperti Dharmasraya, Sawahlunto, Solok, atau Lima Puluh Kota, kini juga mulai dirasakan hingga ke wilayah pesisir pantai Sumbar. Salah satunya Kabupaten Agam yang mengalami krisis air bersih akibat kemarau panjang.
“Wilayah pesisir yang sebelumnya jarang terdampak kini juga mulai mengalami kekeringan. Ini memperlihatkan meluasnya dampak kemarau tahun ini,” ujarnya.
Selain kekeringan, kemarau panjang juga meningkatkan risiko terjadinya kebakaran hutan dan lahan. Rizky menyebut hal ini tidak terlepas dari dampak perubahan iklim yang membuat durasi musim menjadi semakin sulit diprediksi.
Ia menambahkan, meski September sudah memasuki periode peralihan musim, distribusi hujan belum merata. “Dalam sepuluh hari pertama September, hujan hanya turun sesekali. Ada wilayah yang diguyur hujan lebat, seperti Solok, tetapi daerah lain sama sekali tidak,” katanya.(des*)












