Padang — Proyek pembangunan Flyover Panorama I di kawasan Sitinjau Lauik terus mengalami kemajuan. Memasuki minggu ke-56 pelaksanaan, capaian pekerjaan fisik tercatat sudah berada di angka 16,4 persen.
Badan usaha pelaksana, PT Hutama Panorama Sitinjau Lauik (HPSL), menjelaskan bahwa beberapa pekerjaan utama pada tahap awal telah berhasil dituntaskan, terutama pada bagian struktur bawah seperti abutment dan pilar jembatan. Saat ini, bentuk awal Jembatan 1 sudah mulai terlihat seiring dimulainya pekerjaan struktur atas.
Salah satu tahapan penting yang telah dilakukan adalah pemasangan girder atau balok utama jembatan pada awal April. Proses ini menjadi tonggak penting karena menandai beralihnya pekerjaan dari struktur bawah menuju struktur atas. Sejumlah bentang jembatan juga telah terpasang di lapangan.
Dalam pernyataan resminya pada Jumat (24/4/2026), HPSL menyampaikan bahwa pekerjaan saat ini difokuskan pada pemasangan besi tulangan, pembuatan bekisting, serta pengecoran bagian penghubung antar girder. Tahapan tersebut merupakan persiapan sebelum masuk ke proses pengecoran lantai jembatan.
Pihak HPSL menegaskan bahwa seluruh kegiatan konstruksi dilaksanakan dengan pengawasan ketat guna memastikan mutu bangunan tetap terjaga serta keselamatan kerja sesuai standar yang berlaku.
Selain pembangunan fisik, proses pengadaan lahan juga masih berlangsung. Dari total 31 bidang tanah yang dibutuhkan, sebagian sudah memasuki tahap konsinyasi. Hingga pertengahan April, tercatat 12 bidang telah masuk dalam proses penawaran konsinyasi.
Sisa lahan yang belum diselesaikan relatif kecil, sekitar lima bidang dengan total luas kurang lebih 0,07 hektare. Sebagian sudah didaftarkan ke Pengadilan Negeri Padang, sementara sisanya masih dalam proses penanganan oleh Badan Pertanahan Nasional.
HPSL menegaskan bahwa seluruh proses pembebasan lahan dilakukan oleh pemerintah melalui instansi terkait dengan mengedepankan prinsip kehati-hatian, transparansi, serta tetap menghormati hak masyarakat dan kearifan lokal.
Pembangunan flyover ini diharapkan dapat menjadi solusi bagi kondisi jalan Sitinjau Lauik yang dikenal memiliki medan curam dan tikungan tajam dengan risiko kecelakaan tinggi. Selain meningkatkan aspek keselamatan, proyek ini juga diharapkan memperlancar konektivitas antara Kota Padang dan Solok.
Dengan adanya peningkatan konektivitas tersebut, distribusi logistik diperkirakan menjadi lebih efisien dan waktu perjalanan lebih singkat, sehingga dapat mendukung pertumbuhan ekonomi di Sumatera Barat.
Proyek Flyover Panorama I Sitinjau Lauik sendiri memiliki panjang sekitar 2,774 kilometer dengan nilai investasi mencapai Rp2,793 triliun. Pembangunan ditargetkan selesai dalam waktu 2,5 tahun sebelum memasuki masa operasi selama 10 tahun.
HPSL menyatakan optimisme bahwa proyek ini dapat selesai sesuai jadwal dengan dukungan dari seluruh pihak terkait.(des*)












