Rupiah Berpotensi Melemah, Ibrahim Prediksi Kurs di Kisaran Rp18.040–Rp18.090

Rupiah Hari Ini.
Rupiah Hari Ini.

Jakarta – Nilai tukar rupiah kembali berada di zona merah pada penutupan perdagangan Senin (19/10/2026). Mata uang Indonesia tersebut terkoreksi 19 poin atau sekitar 0,11 persen sehingga berakhir di posisi Rp18.046 per dolar Amerika Serikat (AS).

Pelemahan rupiah dipengaruhi kombinasi perkembangan geopolitik internasional, prospek kebijakan moneter AS, serta meningkatnya ketidakpastian di pasar keuangan domestik. Sejumlah faktor tersebut membuat investor lebih berhati-hati dalam menentukan arah investasinya.

Analis pasar uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menilai dinamika kebijakan Washington terhadap Moskow menjadi salah satu faktor eksternal yang perlu dicermati. Presiden AS Donald Trump diketahui menerbitkan perintah eksekutif untuk menunda pemberlakuan sejumlah sanksi terhadap Rusia, menjelang waktu pelaksanaannya.

Selain itu, Trump juga mengurungkan rencana pemberian tarif kepada negara-negara yang membeli minyak Rusia. Dalam risetnya, Ibrahim menjelaskan bahwa keputusan tersebut berkaitan dengan kepentingan nasional AS.

Langkah Washington itu berlangsung sekitar satu pekan setelah Trump menyepakati impor diesel dari Rusia. Pada saat yang sama, ia menyalahkan serangan Ukraina terhadap infrastruktur Rusia sebagai salah satu penyebab meningkatnya harga bahan bakar di pasar global.

Kebijakan pelonggaran sanksi tersebut tidak lepas dari kritik. Sejumlah anggota Kongres AS, baik dari kubu Republik maupun Demokrat, mempertanyakan keputusan pemerintah yang dinilai berpotensi mengubah pendekatan Washington terhadap Rusia.

Di sisi lain, pemerintah AS masih menghadapi persoalan mahalnya harga bahan bakar yang berlangsung selama beberapa bulan. Kondisi tersebut menjadi tantangan politik tersendiri bagi Partai Republik menjelang pemilihan paruh waktu.

Ketidakpastian geopolitik membayangi kebijakan The Fed

Tekanan inflasi global juga masih menjadi perhatian pasar. Kekhawatiran terhadap kesinambungan pasokan energi dari Timur Tengah belum mereda, terutama karena perundingan antara AS dan Iran belum menunjukkan kemajuan berarti. Ketegangan Arab Saudi dengan kelompok Houthi di Yaman turut menambah risiko terhadap stabilitas kawasan.

Perkembangan tersebut membuat prospek kebijakan suku bunga Federal Reserve atau The Fed tetap menjadi sorotan. Pelaku pasar memperkirakan bank sentral AS masih berpeluang menaikkan suku bunga sebelum penghujung 2026.

Baca Juga  BPN Sebut Ada 242 Kasus Mafia Tanah Sejak 2018 hingga 2021

Sejumlah pejabat The Fed juga menyampaikan sinyal bahwa opsi pengetatan moneter belum sepenuhnya tertutup. Meski demikian, belum terdapat indikasi kuat bahwa kenaikan suku bunga akan diputuskan dalam pertemuan 27–28 Oktober mendatang.

Ketua The Fed, Kevin Warsh, dalam pernyataannya di Bangkok pada Jumat, menegaskan bahwa dirinya tidak ingin memberikan sinyal yang mendahului keputusan rapat berikutnya. Sikap tersebut menunjukkan bahwa arah kebijakan masih akan bergantung pada perkembangan data ekonomi.

Pada pekan ini, perhatian investor juga tertuju pada publikasi klaim awal tunjangan pengangguran mingguan serta data awal indeks manajer pembelian atau Purchasing Managers’ Index (PMI) AS. Kedua indikator itu dapat memberikan gambaran tambahan mengenai kondisi perekonomian dan memengaruhi ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter.

Sentimen pasar domestik masih rapuh

Dari dalam negeri, Ibrahim menyoroti wacana perubahan klasifikasi pasar Indonesia menjadi Standalone Market oleh MSCI. Meski rencana tersebut masih berada dalam tahap usulan dan kajian, ketidakpastian mengenai kemungkinan penerapannya telah menjadi salah satu perhatian investor.

Tekanan juga datang dari kenaikan harga minyak dunia yang telah menembus US$110 per barel. Kombinasi isu pasar modal dan mahalnya energi berpotensi meningkatkan persepsi risiko terhadap aset keuangan Indonesia.

Dalam situasi tersebut, investor cenderung mengambil sikap defensif sembari menunggu kejelasan arah kebijakan dan perkembangan pasar.

Upaya penegakan aturan oleh otoritas bursa terhadap pihak-pihak yang diduga melanggar ketentuan juga menjadi faktor yang perlu diperhatikan. Dalam jangka pendek, langkah tersebut berpotensi memicu pergerakan pasar yang lebih tajam serta meningkatkan kehati-hatian investor.

Namun, apabila dilaksanakan secara konsisten dan transparan, penegakan hukum dinilai dapat memperkuat tata kelola pasar modal. Dalam jangka panjang, hal itu berpeluang memulihkan kredibilitas bursa sekaligus meningkatkan kepercayaan investor.

Bursa juga mengumumkan perubahan batas auto rejection dari 15 persen menjadi 7 persen. Kebijakan yang berlaku mulai Senin hingga akhir tahun tersebut ditujukan untuk membantu investor menghadapi pergerakan harga saham.

Perubahan itu berlangsung setelah otoritas regulator menjatuhkan denda administratif dengan nilai keseluruhan mencapai Rp2,1 triliun kepada sejumlah pihak yang berkaitan dengan aktivitas perdagangan dan penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO) tiga perusahaan besar.

Baca Juga  Perjuangan Petani Pisang Cavendish, Dari Tantangan Modal hingga Sukses Ekonomi

Peluang kenaikan suku bunga BI turut dicermati

Selain perkembangan pasar modal, kebijakan Bank Indonesia (BI) menjadi faktor penting dalam menentukan pergerakan rupiah berikutnya.

BI memiliki sejumlah instrumen untuk menjaga kestabilan nilai tukar, termasuk intervensi melalui pasar non-deliverable forward (NDF), domestic non-deliverable forward (DNDF), serta instrumen pendukung lainnya.

Meski demikian, kemampuan intervensi dalam meredam gejolak akan bergantung pada besarnya tekanan terhadap rupiah dan kecepatan pemulihan kepercayaan pasar. Apabila tekanan eksternal terus meningkat, BI perlu mempertimbangkan langkah tambahan untuk mempertahankan stabilitas mata uang domestik.

Salah satu opsi yang menjadi perhatian adalah penyesuaian suku bunga acuan. Suku bunga yang lebih tinggi dapat membantu mempertahankan daya tarik aset berdenominasi rupiah di tengah persaingan imbal hasil global.

Ibrahim memperkirakan BI berpeluang menaikkan suku bunga acuan dalam pertemuan Oktober hingga mencapai 6 persen. Namun, realisasi langkah tersebut tetap bergantung pada evaluasi kondisi ekonomi dan stabilitas nilai tukar.

Rupiah diperkirakan bergerak fluktuatif

Mempertimbangkan berbagai sentimen tersebut, Ibrahim memperkirakan rupiah masih menghadapi tekanan pada perdagangan berikutnya. Pergerakan mata uang domestik diprediksi berlangsung fluktuatif dengan kecenderungan melemah.

Untuk perdagangan selanjutnya, rupiah diproyeksikan berada pada kisaran Rp18.040 hingga Rp18.090 per dolar AS.

Sementara itu, dalam periode satu pekan ke depan, nilai tukar rupiah diperkirakan bergerak dalam rentang Rp17.850 hingga Rp18.200 per dolar AS.

Perkembangan kebijakan suku bunga The Fed, dinamika geopolitik, harga minyak dunia, serta respons Bank Indonesia akan menjadi sejumlah faktor utama yang menentukan arah rupiah dalam jangka pendek.(BY)