Utang RI Membengkak, Risiko Kurs Jadi Sorotan

Ilustrasi.
Ilustrasi.

Jakarta – Posisi utang luar negeri (ULN) Indonesia kembali mencatat rekor baru. Bank Indonesia (BI) melaporkan, total ULN Indonesia mencapai US$459,3 miliar pada akhir Agustus 2026. Dengan menggunakan kurs referensi Rp17.898 per dolar AS, jumlah tersebut setara dengan sekitar Rp8.220,55 triliun.

Data tersebut disampaikan BI pada Kamis (15/10/2026). Pencapaian ini menjadi posisi ULN tertinggi sepanjang sejarah Indonesia, sekaligus menegaskan pentingnya pengelolaan utang secara hati-hati di tengah ketidakpastian ekonomi global dan fluktuasi nilai tukar.

Konversi ke rupiah menggunakan kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) pada 14 Oktober 2026. Nilai ULN dalam rupiah dapat berubah mengikuti pergerakan kurs, meskipun jumlah kewajiban dalam dolar AS tetap sama.

Besarnya Utang Bukan Satu-satunya Indikator Risiko

Tingginya nominal utang luar negeri tidak serta-merta menggambarkan kondisi perekonomian suatu negara. Pinjaman dari luar negeri dapat dimanfaatkan untuk mendukung pembangunan, mendorong aktivitas dunia usaha, serta memenuhi kebutuhan pembiayaan pemerintah dan sektor swasta.

Baca Juga  Kunjungi Pasar Tanah Abang, Purbaya Yudhi Sadewa Pastikan Ekonomi RI Belum Menuju Krisis

Meski demikian, manfaat utang sangat ditentukan oleh penggunaan dana dan kemampuan pihak peminjam dalam memenuhi kewajibannya. Pinjaman yang digunakan untuk kegiatan produktif sehingga mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan menghasilkan devisa tentu berbeda risikonya dibandingkan utang yang tidak memberikan pendapatan memadai.

Potensi risiko juga perlu diperhatikan ketika kewajiban dalam mata uang asing meningkat, sedangkan pendapatan debitur sebagian besar berasal dari rupiah. Jika nilai rupiah melemah, beban pembayaran utang dalam mata uang domestik dapat bertambah, khususnya bagi debitur yang tidak memiliki pendapatan dolar AS atau perlindungan terhadap risiko perubahan kurs.

Oleh sebab itu, perkembangan ULN Indonesia perlu dianalisis bersama sejumlah indikator lain. Beberapa di antaranya mencakup perbandingan utang terhadap produk domestik bruto (PDB), porsi pinjaman pemerintah dan swasta, jangka waktu pelunasan, serta kemampuan perekonomian menghasilkan devisa.

Baca Juga  Pelaku Usaha Sambut Positif Penunjukan Irene Sebagai Wakil Dubes RI di Beijing

Nilai ULN yang setara dengan Rp8.220 triliun menunjukkan besarnya kewajiban eksternal Indonesia. Namun, untuk menilai tingkat risikonya secara menyeluruh, diperlukan pula informasi mengenai laju pertumbuhan utang, sumber pembiayaan, pemanfaatan pinjaman, dan kemampuan membayar kembali.

Tantangan bagi Indonesia bukan hanya membatasi pertambahan utang, tetapi juga memastikan setiap pinjaman dikelola secara efektif, memberikan manfaat ekonomi, dan tetap berada dalam batas kemampuan pembayaran nasional.(des*)