Pasbar  

Pemkab Pasaman Barat dan Tanoto Foundation Perkuat Sinergi Turunkan Stunting

Oplus_16908288

Pasbar, fativa.id – Pemerintah Kabupaten Pasaman Barat, Sumatera Barat (Sumbar), memperkuat kolaborasi dengan Tanoto Foundation dalam mempercepat pencegahan dan penurunan angka stunting melalui penguatan program lintas sektor dan perubahan perilaku masyarakat.

Komitmen tersebut dibahas dalam pertemuan Pemerintah Kabupaten Pasaman Barat bersama Tanoto Foundation di Aula Rumah Dinas Bupati Pasaman Barat, Selasa (3/11/2026).

Bupati Pasaman Barat Yulianto menegaskan bahwa penanganan stunting membutuhkan komitmen dan kerja sama berkelanjutan antara pemerintah daerah, mitra pembangunan, tenaga kesehatan, serta masyarakat.

Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI), prevalensi stunting balita di Pasaman Barat tercatat sebesar 26,6 persen pada 2024. Sementara itu, berdasarkan data elektronik Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (e-PPGBM) 2026, angkanya tercatat sebesar 10,5 persen.

“Ini menjadi tugas besar kita bersama untuk memastikan seluruh anak di Pasaman Barat mendapatkan asupan gizi yang baik, pelayanan kesehatan berkualitas, serta pola pengasuhan yang tepat. Upaya ini harus terus diperkuat agar penanganan stunting berjalan optimal,” ujar Yulianto.

Dia juga menyampaikan apresiasi kepada Tanoto Foundation atas komitmen dan dukungan dalam memperkuat upaya pencegahan serta penurunan stunting di Pasaman Barat sejak 2021.

Kepala Bappelitbangda Pasaman Barat Joni Hendri menjelaskan bahwa strategi percepatan penurunan stunting dilakukan melalui penguatan aksi konvergensi lintas sektor dan Komunikasi Perubahan Sosial dan Perilaku (Social and Behaviour Change Communication/SBCC).

Baca Juga  Pemkab Pasaman Barat Beri Bantuan pada Rumah Rusak Akibat Gempa

“Melalui aksi konvergensi, program berbagai organisasi perangkat daerah (OPD) diintegrasikan agar intervensi kesehatan, pemenuhan gizi, penyediaan air bersih, sanitasi layak, dan edukasi pengasuhan dapat menjangkau keluarga sasaran secara tepat,” jelasnya.

Sementara itu, pendekatan SBCC bertujuan mendorong perubahan perilaku masyarakat melalui edukasi yang partisipatif dan sesuai dengan kondisi sosial budaya setempat.

Menurutnya, perhatian utama diarahkan pada pemenuhan gizi selama 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), mulai dari masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun. Periode tersebut merupakan fase penting yang menentukan pertumbuhan dan perkembangan anak.

Upaya pencegahan dilakukan melalui pemenuhan gizi ibu hamil, pemberian ASI eksklusif selama enam bulan, pemberian makanan pendamping ASI (MPASI) bergizi dan kaya protein hewani, serta pemantauan pertumbuhan anak secara rutin di posyandu.

Selain itu, edukasi masyarakat juga difokuskan pada penerapan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), kebiasaan mencuci tangan menggunakan sabun, serta pemanfaatan air bersih dan sanitasi yang layak.

Regional Lead Tanoto Foundation, Medi Yusia, menyampaikan bahwa kolaborasi dengan Pemerintah Kabupaten Pasaman Barat merupakan langkah strategis untuk memastikan intervensi pencegahan dan penurunan stunting berjalan secara berkelanjutan, terintegrasi, dan tepat sasaran.

Baca Juga  Diduga Kecanduan Judol dan Ancam Keluarga Pakai Pisau, Seorang Remaja di Pasbar Diamankan Polisi

Medi menilai keberhasilan penanganan stunting membutuhkan keterlibatan seluruh unsur, mulai dari pemerintah pusat dan daerah, organisasi filantropi, akademisi, media, hingga masyarakat.

“Penguatan kapasitas petugas di garis depan, seperti kader posyandu, bidan desa, dan tenaga penyuluh kesehatan, juga menjadi perhatian penting karena mereka berinteraksi langsung dengan keluarga sasaran,” katanya.

Melalui penguatan kolaborasi tersebut, Pemerintah Kabupaten Pasaman Barat bersama Tanoto Foundation berharap upaya percepatan penurunan stunting semakin optimal dalam mewujudkan generasi yang sehat, cerdas, dan berdaya saing menuju Indonesia Emas 2045. (Wsn)