Harga Cabai Sumbar Diprediksi Tinggi 1,5 Bulan

Harga cabai keriting di sejumlah wilayah Sumbar mengalami lonjakan
Harga cabai keriting di sejumlah wilayah Sumbar mengalami lonjakan

Solok – Harga cabai keriting di sejumlah wilayah Sumatera Barat (Sumbar) mengalami lonjakan dan kini mencapai Rp120 ribu per kilogram. Kenaikan tersebut salah satunya terjadi di Kabupaten Solok, yang dipengaruhi menurunnya pasokan akibat produksi petani yang terganggu.

Kepala Dinas Pangan Provinsi Sumatera Barat, Iqbal Ramadi Payana, membenarkan adanya kenaikan harga cabai keriting yang menjadi salah satu kebutuhan dapur masyarakat.

Ia mengatakan harga cabai keriting di Kabupaten Solok saat ini telah mencapai Rp120 ribu per kilogram.

“Kami sudah menerima informasi terkait kenaikan harga cabai keriting yang biasa dibeli masyarakat. Di Solok harganya sudah mencapai Rp120 ribu per kilogram,” ujar Iqbal, Minggu (4/10/2026).

Menurutnya, kenaikan harga tidak hanya terjadi di Kabupaten Solok. Sejumlah daerah lain di Sumbar juga mengalami kondisi serupa. Bahkan, harga cabai di beberapa daerah yang selama ini menjadi sumber pasokan dari luar Sumbar turut mengalami peningkatan.

Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, Dinas Pangan Sumbar telah melakukan koordinasi guna mencari daerah alternatif yang dapat memasok cabai dengan harga lebih terjangkau.

“Kami sebelumnya sudah melakukan rapat untuk mencari solusi, termasuk menjajaki kemungkinan pasokan cabai dari daerah lain,” katanya.

Baca Juga  BMKG Ingatkan Potensi Hujan Lebat di Sumbar

Beberapa daerah yang telah dihubungi antara lain Kediri, Malang, dan Kerinci. Namun, hasil komunikasi menunjukkan harga cabai di wilayah tersebut juga sedang mengalami kenaikan.

“Kami sudah menghubungi Kediri, Malang dan beberapa daerah lainnya, termasuk Kerinci. Namun kondisinya hampir sama, harga juga sedang naik,” jelas Iqbal.

Dengan kondisi tersebut, pemerintah belum dapat mendatangkan cabai dari luar daerah dengan harga yang lebih rendah. Meski demikian, pencarian sumber pasokan alternatif masih terus dilakukan.

Jika nantinya ditemukan daerah yang mampu menyediakan cabai dengan harga lebih kompetitif, pemerintah akan berupaya mendatangkannya ke Sumatera Barat.

Iqbal menjelaskan, kenaikan harga saat ini tidak terlepas dari terganggunya produksi di tingkat petani. Perubahan cuaca yang tidak menentu menyebabkan sebagian tanaman cabai mengalami gangguan hingga terjadi gagal panen.

“Cuaca yang tidak menentu membuat banyak petani cabai mengalami gagal panen,” ujarnya.

Di sisi lain, biaya produksi yang harus ditanggung petani juga meningkat. Kondisi cuaca yang kurang bersahabat membuat kebutuhan pupuk bertambah untuk menjaga tanaman tetap produktif. Sementara itu, harga pupuk juga mengalami kenaikan.

Meningkatnya ongkos produksi tersebut akhirnya ikut berdampak terhadap harga cabai saat dipasarkan.

Baca Juga  Gubernur Sumbar Ingatkan Calon Mahasiswa Jaga Integritas di Al-Azhar

“Pasokannya berkurang, sementara modal yang dikeluarkan petani meningkat. Kondisi itu membuat harga cabai ikut naik,” kata Iqbal.

Dinas Pangan Sumbar terus memantau perkembangan harga dan ketersediaan cabai di berbagai daerah. Pemerintah juga masih membuka peluang mendatangkan pasokan dari wilayah lain apabila terdapat sumber dengan harga yang lebih terjangkau.

Iqbal memperkirakan harga cabai masih berpotensi tinggi hingga sekitar satu setengah bulan ke depan. Ia mengingatkan agar kondisi terbatasnya pasokan tidak dimanfaatkan untuk melakukan penimbunan.

“Situasi ini diperkirakan berlangsung sekitar 1,5 bulan ke depan. Kami berharap tidak ada pihak yang melakukan penimbunan,” tegasnya.

Ia juga mengimbau masyarakat agar tidak panik dan membeli cabai sesuai kebutuhan. Menurutnya, stabilitas harga akan sangat dipengaruhi oleh ketersediaan pasokan, pulihnya produksi petani, serta kemungkinan masuknya cabai dari daerah lain dengan harga yang lebih terjangkau.(des*)