Kebahagian yang Tercabut di Era Digital : Hamka, Post-Truth, VUCA, Kerentanan Sosial, dan Keserakahan Manusia

Oleh: Duski Samad

Guru Besar Ilmu Tasawuf UIN Imam Bonjol

Kebahagiaan adalah kebutuhan dasar manusia yang tidak pernah kehilangan relevansinya. Peradaban berubah, teknologi semakin canggih, artificial intelligence berkembang cepat, dan komunikasi berlangsung hampir tanpa batas ruang dan waktu.

Namun pertanyaan mendasarnya tetap sama. Apakah semua kemajuan itu telah membuat manusia semakin bahagia?

Pertanyaan ini penting ketika membaca disertasi Jamaldi tentang “Rasionalitas Kebahagiaan dalam Pemikiran Tasawuf Hamka dan Relevansinya dengan Sosial Kultural di Era Digital“.

Hamka memberikan perspektif bahwa kebahagiaan tidak cukup dipahami sebagai kesenangan, kenyamanan, kekayaan, popularitas, atau keberhasilan material.

Kebahagiaan atau sa‘ādah mempunyai akaryang lebih dalam. Tauhid, kebersihan jiwa, kematangan akhlak, pengendalian diri, kebermaknaan hidup, dan kedekatan kepada Allah.

Ironisnya, manusia digital justru hidup pada zaman ketika sarana mencari kesenangan semakin banyak, sementara ketenteraman batin terasa semakin mahal.

Post-Truth dan Hilangnya Pegangan Kebenaran.

Salah satu karakter masyarakat digital adalah menguatnya fenomena post-truth. Fakta objektif tidak selalu menjadi faktor utama dalam membentuk pendapat.

Emosi, sentimen kelompok, kepentingan, pengulangan informasi, dan sesuatu yang viral dapat lebih menentukan apa yang dianggap benar.

Akibatnya, masyarakat tidak hanya menghadapi banjir informasi. Tetapi juga krisis kemampuan membedakan informasi, pengetahuan, opini, manipulasi, dan kebenaran.

Keadaan ini mempunyai konsekuensi psikologis dan spiritual. Orang mudah marah karena informasi yang belum tentu benar. Mudah membenci karena potongan video. Mudah menghakimi karena narasi viral. Dan, mudah kehilangan kepercayaan kepada orang lain.

Kebahagiaan sulit tumbuh dalam kehidupan yang dipenuhi kecurigaan, kebencian, kecemasan, dan permusuhan.

Di sinilah konsep muhasabah Hamka memperoleh relevansi baru. Muhasabah manusia digital tidak cukup hanya menghitung kesalahan pribadi, tetapi juga melakukan audit terhadap informasi.

Apakah yang saya baca benar, apakah yang saya sebarkan bermanfaat, dan apakah komentar saya mendatangkan maslahat atau justru melukai orang lain?

VUCA dan Manusia yang Kehilangan Kepastian

Manusia kontemporer juga hidup dalam situasi VUCA. Volatility, Uncertainty, Complexity, dan Ambiguity. Perubahan berlangsung cepat. Masa depan sulit dipastikan. Persoalan semakin kompleks. Dan, berbagai keadaan tidak mudah dijelaskan secara hitam-putih.

Artificial intelligence mengubah pekerjaan dan pendidikan. Perubahan ekonomi dapat memengaruhi kehidupan keluarga. Konflik global berdampak pada harga kebutuhan sehari-hari.

Baca Juga  Omne by FWD, Solusi Praktis Kelola Asuransi di Era Digital

Perubahan iklim meningkatkan ancaman ekologis.Teknologi baru bahkan dapat membuat keahlian yang hari ini dianggap penting kehilangan relevansinya dalam waktu singkat.

Manusia akhirnya menghadapi paradoks. Informasi semakin banyak, tetapi kepastian semakin sedikit. Konektivitas semakin tinggi, tetapi ketenteraman tidak otomatis meningkat.

Sabar, tawakal, qana‘ah, dan ridha dalam pemikiran Hamka menjadi kekuatan menghadapi situasi tersebut. Tawakal bukan menyerah. Sabar bukan pasif. Qana‘ah bukan menolak kemajuan. Semuanya adalah kemampuan menjaga pusat kendali batin ketika dunia di luar diri terus berubah.

Kerentanan Sosial Membuat Bahaya Menjadi Korban

Kesulitan memperoleh kebahagiaan semakin besar ketika manusia hidup dalam kerentanan sosial. Kemiskinan, ketimpangan, pendidikan rendah, lingkungan rusak, lemahnya perlindungan sosial, dan tata kelola yang buruk menyebabkan sebagian masyarakat jauh lebih mudah menjadi korban ketika terjadi krisis.

Bahaya alam tidak selalu identik dengan bencana sosial. Banjir, gempa, longsor, kabut asap, kekeringan. Atau krisis ekonomi menjadi semakin merusak ketika bertemu dengan masyarakat yang rentan.

Kebahagiaan tidak dapat dijadikan proyek individual semata. Tidak memadai meminta orang miskin untuk qana‘ah, apabila ketidakadilan dibiarkan. Tidak cukup meminta korban untuk sabar, sementara penyebab struktural penderitaan tidak diperbaiki.

Tasawuf yang hidup harus mempertemukan ketenteraman batin dengan keadilan sosial.

Keserakahan Mencabut Kebahagiaan.

Di balik sebagian kerentanan sosial terdapat masalah moral yang lebih dalam, yaitu keserakahan manusia. Kebutuhan mempunyai batas, sedangkan keserakahan tidak mengenal kata cukup. Kekayaan ingin terus ditambah, kekuasaan ingin diperpanjang, sumber daya ingin dikuasai, dan popularitas ingin dipertahankan.

Al-Qur’an memberikan peringatan penting dalam QS.Sad ayat 26. Nabi Dawud yang diberi kekuasaan sebagai khalifah diperintahkan untuk memutuskan perkara secara benar dan tidak mengikuti hawa nafsu. Karena, hawa nafsu dapat menyesatkan manusia dari jalan Allah.

Pesannya sangat relevan dengan kehidupan kontemporer. Masalahnya bukan kekuasaan, kekayaan, teknologi, atau dunia itu sendiri. Persoalan muncul ketika semuanya dikendalikan oleh hawa nafsu yang kehilangan batas moral.

Ketika keserakahan memasuki kekuasaan, lahirlah korupsi dan penyalahgunaan kewenangan. Ketika memasuki ekonomi, lahirlah eksploitasi dan ketimpangan. Ketika memasuki pengelolaan alam, lahirlah kerusakan ekologis. Ketika memasuki ruang digital, perhatian, emosi, bahkan kelemahan psikologis manusia dapat berubah menjadi komoditas.

Keserakahan segelintir orang, akhirnya dapat menciptakan kerentanan bagi banyak orang. Ketika kerentanan meningkat, kebahagiaan masyarakat semakin sulit diperoleh.

Baca Juga  Informasi Lengkap Cek BSU BPJS Ketenagakerjaan 2025

Dari Rasionalitas Instrumental Menuju Transendental

Dialog pemikiran Hamka dengan teori Max Weber menjadi menarik dalam konteks ini. Rasionalitas instrumental bertanya. Bagaimana tujuan dapat dicapai secara efektif? Rasionalitas nilai bertanya. Apakah tujuan dan tindakan itu baik dan benar?

Hamka membawa pertanyaan itu lebih jauh. Untuk siapa dan untuk apa seluruh kehidupan akhirnya dijalankan?

Maka dapat dibangun tiga lapis kesadaran. Rasionalitas instrumental, rasionalitas nilai, dan rasionalitas transendental. Teknologi, kekayaan, kekuasaan, media sosial, dan AI hanyalah instrumen. Instrumen menjadi maslahat atau mudarat bergantung kepada nilai yang mengarahkannya.

Rasionalitas transendental menempatkan manusia sebagai khalifah, bukan pemilik mutlak kehidupan. Kekuasaan harus tunduk kepada keadilan, kekayaan kepada kemaslahatan, dan teknologi kepada martabat manusia.

Zuhud Digital dan Jalan Kembali kepada Kebahagiaan

Membaca Hamka pada zaman digital, bukan berarti meninggalkan teknologi. Yang diperlukan adalah zuhud digital. Teknologi berada di tangan, tetapi tidak menguasai hati.

Media sosial digunakan tanpa menjadikan likes sebagai ukuran harga diri. Kekayaan dicari tanpa menjadikannya tujuan hidup. Popularitas tidak menjadi sumber identitas. Artificial intelligence dimanfaatkan tanpa menyerahkan tanggung jawab moral manusia kepada mesin.

Qana‘ah membatasi keserakahan, muhasabah mengendalikan narsisme, sabar mengurangi impulsivitas, tawakal menghadapi ketidakpastian, dan zuhud membebaskan manusia dari perbudakan kepemilikan.

Kebahagiaan sufistik Hamka bukan jalan melarikan diri dari dunia yang rapuh. Ia adalah kemampuan hidup di dalam dunia, mengelolanya dengan akal, membatasinya dengan akhlak, menghadapi ketidakpastiannya dengan tawakal, memperbaiki ketidakadilannya dengan tanggung jawab sosial, dan mengarahkannya kepada ridha Allah.

Era digital sesungguhnya tidak kekurangan kecerdasan. Yang semakin langka adalah kejernihan menentukan untuk apa kecerdasan, kekayaan, kekuasaan, dan teknologi digunakan.

Kebahagiaan tercabut ketika hawa nafsu menguasai manusia. Kebahagiaan bertumbuh ketika tauhid mengendalikan hawa nafsu, akhlak mengendalikan kekuasaan, dan kemaslahatan menjadi tujuan kehidupan bersama.(*/sa).