Jakarta – Cara seorang pedagang mi ayam menambahkan saus merah dan penyedap rasa dalam jumlah banyak ke dalam satu porsi makanan menjadi perhatian di media sosial. Video tersebut memicu perbincangan karena takaran bumbu yang terlihat jauh lebih banyak dibandingkan penggunaan pada umumnya.
Sorotan warganet bukan hanya tertuju pada monosodium glutamate (MSG) atau yang populer disebut micin, tetapi juga pada saus yang dituangkan dalam jumlah besar.
Penggunaan bumbu dalam jumlah berlebihan memang perlu diperhatikan apabila menjadi bagian dari pola makan sehari-hari. Pasalnya, sejumlah produk saus dapat menyumbang natrium dan gula, sementara bahan tambahan pangan di dalam produk olahan juga memiliki ketentuan penggunaan yang harus dipatuhi.
Spesialis penyakit dalam sekaligus konsultan ginjal dan hipertensi, Prof. Dr. dr. Endang Susalit, SpPD-KGH, FINASIM, mengatakan dampak terhadap kesehatan tidak bisa langsung disimpulkan hanya dari satu kali konsumsi.
Menurutnya, persoalan yang lebih perlu diwaspadai adalah ketika makanan dengan kandungan garam dan gula tinggi dikonsumsi berulang kali dalam jangka panjang.
“Kalau hanya sekali sebulan sih mungkin nggak terlalu pengaruh ya. Tapi kalau hampir tiap hari makan seperti itu, ya lama-lama akibat gulanya tadi diabetes, akibat garam itu bisa tensinya naik. Akibatnya itu dua-dua keadaan itu bisa menyebabkan penyakit ginjal kronik tadi,” ujar Endang, dikutip Senin (10/8/2026).
MSG Tidak Otomatis Berbahaya
MSG merupakan garam natrium dari asam glutamat yang digunakan untuk memberikan cita rasa gurih atau umami pada makanan. Keberadaan MSG dalam makanan tidak dengan sendirinya berarti makanan tersebut berbahaya.
Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) mengategorikan MSG sebagai bahan yang secara umum aman digunakan dalam makanan. Lembaga tersebut juga mencatat bahwa penelitian pada orang yang mengaku sensitif terhadap MSG belum secara konsisten membuktikan bahwa MSG menjadi penyebab keluhan tertentu.
Meski demikian, jumlah konsumsi tetap perlu diperhatikan karena MSG mengandung natrium. Asupan natrium yang terlalu tinggi dapat berkontribusi terhadap peningkatan tekanan darah.
FDA juga mencatat adanya laporan keluhan seperti sakit kepala, mual, kemerahan, kesemutan, jantung berdebar, atau mengantuk setelah konsumsi MSG dalam jumlah besar pada sebagian orang. Namun, hubungan sebab-akibat tersebut tidak terbukti konsisten pada penelitian terkontrol.
Dengan demikian, penggunaan MSG dalam batas wajar tidak tepat jika langsung dianggap sebagai penyebab penyakit. Yang lebih penting adalah melihat keseluruhan pola makan dan jumlah natrium yang dikonsumsi.
Saus Juga Perlu Diperhatikan
Selain penyedap rasa, konsumsi saus dalam jumlah besar juga dapat meningkatkan asupan tertentu dalam satu kali makan. Komposisi setiap produk tentu berbeda, tetapi saus dapat mengandung natrium maupun gula.
Jika dikonsumsi sesekali, keberadaan gula dan natrium dalam saus bukan berarti otomatis menimbulkan penyakit. Namun, kebiasaan mengonsumsi makanan tinggi gula dan garam secara terus-menerus dapat menjadi persoalan bagi kesehatan.
Bahan tambahan pangan seperti pengawet juga penggunaannya diatur oleh regulator. Di Indonesia, ketentuan mengenai bahan tambahan pangan tercantum dalam berbagai regulasi BPOM. Database resmi BPOM, misalnya, mencantumkan penggunaan natrium benzoat dan kalium benzoat untuk kategori saus dengan batas maksimum tertentu.
Artinya, keberadaan bahan tambahan pangan pada produk olahan tidak serta-merta menunjukkan produk tersebut berbahaya. Hal yang penting adalah jenis bahan, jumlah yang digunakan, serta kepatuhan terhadap batas yang telah ditetapkan.
Risiko Lebih Besar Jika Jadi Kebiasaan
Endang kembali mengingatkan bahwa persoalan utama bukan semata-mata pada satu porsi makanan, melainkan pola konsumsi yang berlangsung terus-menerus.
“Jadi ada zat-zat tertentu yang dalam makanan tadi, yang biasanya kita identifikasi garam sama gula biasanya. Itu yang jelas mengganggu tubuh itu pun untuk jangka panjang,” jelasnya.
Asupan natrium yang terlalu tinggi dapat meningkatkan risiko tekanan darah tinggi. Di sisi lain, pola konsumsi gula berlebihan juga dapat meningkatkan risiko gangguan metabolisme, termasuk diabetes.
Hipertensi dan diabetes sendiri merupakan kondisi yang dapat meningkatkan risiko terjadinya penyakit ginjal kronis. Karena itu, menjaga pola makan menjadi salah satu bagian penting untuk mengurangi faktor risiko tersebut.
“Kalau sekali-sekali mungkin nggak masalah, sekali-sekali dalam dua bulan, tiga bulan. Tapi kalau rutin itu terus sehingga masukkan garam dan gula tadi bertumpuk, lama-lama organ tubuh yang menerima itu nggak siap, nggak tahan. Timbul penyakit baru,” kata Endang.
Pada akhirnya, makanan seperti mi ayam tetap dapat dinikmati. Namun, konsumsi bumbu, saus, dan makanan tinggi garam atau gula sebaiknya tidak berlebihan dan tidak dijadikan kebiasaan setiap hari.
Yang perlu diperhatikan bukan sekadar ada atau tidaknya micin dalam makanan, melainkan seberapa banyak dikonsumsi dan seberapa sering pola tersebut dilakukan.(BY)












