Inovasi Baru! Mi Instan Cup Ini Bisa Dinikmati dengan Air Dingin

Kini, solusi menikmati mi instan di tengah cuaca panas muncul, yakni mi instan cup yang bisa diseduh cukup dengan air dingin.
Kini, solusi menikmati mi instan di tengah cuaca panas muncul, yakni mi instan cup yang bisa diseduh cukup dengan air dingin.

Jakarta – Menikmati mi instan berkuah saat cuaca terik sering kali terasa kurang nyaman karena kuah panas dianggap tidak cocok dengan suhu udara yang tinggi. Melihat kondisi tersebut, produsen mi instan asal Jepang, Nissin, menghadirkan inovasi baru berupa mi instan cup yang dapat disajikan menggunakan air dingin.

Dikutip dari Sora News 24, produk tersebut diberi nama Hiyashi Cup Noodle. Kata hiyashi dalam bahasa Jepang berarti “dingin”, sesuai dengan konsep penyajiannya yang berbeda dari mi instan pada umumnya.

Apabila biasanya mi instan harus diseduh menggunakan air mendidih, produk terbaru ini cukup ditambahkan air dingin yang telah didinginkan di lemari es. Setelah didiamkan sekitar lima menit, mi akan mengembang dengan tekstur yang tetap kenyal dan siap disantap.

Nissin menyebut inovasi tersebut sebagai mi instan cup dingin pertama yang dikembangkan perusahaan. Untuk mewujudkannya, produsen itu membutuhkan waktu penelitian dan pengembangan selama lima tahun.

Selama proses tersebut, Nissin menciptakan teknologi khusus yang memungkinkan mi menyerap air dingin secara optimal. Teknologi yang dikenal sebagai cold rehydration itu bahkan telah dipatenkan dan menjadi kunci utama lahirnya produk terbaru tersebut.

Baca Juga  Air Kelapa Bisa Dikonsumsi Rutin, tapi Ini Batas Aman yang Perlu Diketahui

Meski telah diperkenalkan kepada publik, Hiyashi Cup Noodle baru akan mulai dipasarkan di Jepang pada 20 Juli 2026. Produk ini diharapkan menjadi pilihan baru bagi pencinta mi instan yang ingin menikmati sajian berkuah tanpa harus menggunakan air panas.

Di sisi lain, mi instan masih menjadi salah satu makanan paling populer di dunia meskipun sering mendapat sorotan terkait kandungan gizinya. Produk ini umumnya mengandung kadar garam, lemak, dan bahan hasil pengolahan yang relatif tinggi sehingga kerap dikaitkan dengan berbagai risiko kesehatan apabila dikonsumsi secara berlebihan.

Terlepas dari anggapan tersebut, permintaan terhadap mi instan terus meningkat. Nilai pasar mi instan global diperkirakan akan mencapai sekitar 98,46 miliar dolar Amerika Serikat pada 2032.

Data konsumsi dunia juga menunjukkan bahwa masyarakat menghabiskan sekitar 123 miliar porsi mi instan setiap tahun. China masih menjadi negara dengan konsumsi tertinggi, yakni lebih dari 43,8 miliar bungkus per tahun, sedangkan Indonesia berada di posisi kedua dengan sekitar 14,68 miliar porsi setiap tahunnya.

Baca Juga  Oarfish Sepanjang 2,7 Meter Terdampar di California, Sering Dikaitkan dengan Gempa

Para peneliti menilai tingginya popularitas mi instan tidak lepas dari karakteristik rasanya. Kombinasi kadar garam, lemak, kalori, dan gula yang tinggi pada makanan ultra-proses membuat mi instan memiliki tingkat hyperpalatability, yaitu kondisi ketika makanan mampu memberikan sensasi rasa yang sangat menarik sehingga mendorong seseorang untuk terus ingin mengonsumsinya.(BY)