Jakarta – Anemia akibat kekurangan zat besi masih menjadi persoalan kesehatan yang perlu mendapat perhatian serius. Kondisi ini tidak hanya memengaruhi kesehatan fisik anak, tetapi juga dapat berdampak pada perkembangan otak, kemampuan berpikir, hingga prestasi belajar di kemudian hari.
Risiko anemia bahkan dapat muncul sejak periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), yaitu sejak masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun. Oleh sebab itu, upaya pencegahan sejak dini dinilai sangat penting agar anak dapat tumbuh sehat dan berkembang secara optimal.
Data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menunjukkan bahwa sebanyak 27,7 persen ibu hamil di Indonesia mengalami anemia. Sementara itu, prevalensi anemia pada anak balita mencapai 23,8 persen, sehingga kondisi ini masih menjadi tantangan kesehatan masyarakat.
Pakar Gizi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Dian Novita Chandra, menjelaskan bahwa sebagian besar kasus anemia di Indonesia dipicu oleh kurangnya asupan zat besi dari makanan sehari-hari. Menurutnya, kebutuhan zat besi sebaiknya dipenuhi melalui pola makan bergizi seimbang, terutama dari sumber protein hewani seperti daging, ikan, dan hati yang kaya kandungan zat besi.
Selain itu, vitamin C juga memiliki peran penting karena mampu meningkatkan penyerapan zat besi di dalam tubuh. Kombinasi konsumsi zat besi dan vitamin C dinilai dapat membantu tubuh menyerap mineral tersebut secara lebih efektif.
Dian juga menyarankan agar orang tua mempertimbangkan produk pangan yang telah difortifikasi, seperti susu pertumbuhan, sebagai pelengkap untuk membantu memenuhi kebutuhan nutrisi harian anak. Langkah tersebut dapat menjadi salah satu cara mendukung kecukupan zat gizi, terutama apabila asupan dari makanan belum sepenuhnya mencukupi.
Di samping pemenuhan gizi, pemeriksaan atau skrining risiko kekurangan zat besi juga dianjurkan dilakukan secara rutin sejak masa kehamilan. Dengan deteksi dini, potensi anemia dapat diketahui lebih awal sehingga penanganan dapat diberikan sebelum kondisinya semakin berat.
Pandangan serupa disampaikan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifatul Choiri Fauzi. Ia menilai tingginya angka anemia pada ibu hamil dan anak masih menjadi pekerjaan rumah yang membutuhkan keterlibatan berbagai pihak.
Menurutnya, salah satu penyebab masih tingginya kasus anemia adalah kurangnya pemahaman masyarakat mengenai pentingnya pemenuhan gizi seimbang bagi ibu dan anak. Karena itu, edukasi tentang pola makan bergizi harus terus diperkuat melalui kolaborasi pemerintah, tenaga kesehatan, dunia usaha, dan masyarakat.
Dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional 2026, Danone Indonesia bersama sejumlah pemangku kepentingan meningkatkan program edukasi mengenai anemia defisiensi besi sekaligus mendorong pelaksanaan skrining risiko sejak dini.
Healthcare Nutrition Director Danone Indonesia, Vera Saw, mengatakan bahwa kekurangan zat besi masih menjadi salah satu faktor yang dapat menghambat tumbuh kembang anak Indonesia. Oleh karena itu, peningkatan kesadaran masyarakat, edukasi yang mudah dipahami, serta deteksi dini dinilai sangat penting untuk menekan angka kejadian anemia.
Sebagai bagian dari komitmennya, Danone Indonesia menyampaikan telah mendukung lebih dari 1,25 juta proses skrining melalui aplikasi digital eNutri sejak 2025. Perusahaan juga menargetkan penambahan hingga 14 juta skrining pada tahun 2030. Selain itu, berbagai kegiatan edukasi gizi dan pemeriksaan risiko anemia terus dilakukan bersama tenaga kesehatan serta komunitas bagi ibu hamil, ibu menyusui, dan anak di berbagai daerah.
Melalui kolaborasi yang berkelanjutan, diharapkan semakin banyak keluarga memahami pentingnya pemenuhan zat besi sejak dini sehingga anak-anak Indonesia dapat tumbuh sehat, aktif, dan mencapai potensi terbaiknya.(BY)












