Helat Nasional Ormas Islam dan “Baun” Uang (Sebuah Narasi Kegelisahan Moral Seruan Kembali ke Jalan Lurus)

Oleh: Duski Samad
Pengasuh Majelis Profetik Indonesia

Padang – Tulisan ini hadir dari pengalaman dan penyaksian banyak ormas Islam yang patut disadarkan walau juga harus dicatat pula sudah banyak pula yang benar-benar murni dan bersih.

Paradok pesan tanha’anil munkar tentang korupsi seperti dianggap biasa oleh mereka yang menyuarakan anti korupsi. Artinya tabligh, dakwah, apapun nama kegiatan tentang pencegahan penyimpangan, korupsi dan sejenis jadi lenyap tak berbekas, ketika teladan tidak ada.

Akhir ini mulai mengeliat jelang helat nasional ormas Islam, ada satu fenomena yang kerap berulang, namun jarang dibicarakan secara jujur. Di permukaan, yang terlihat adalah semangat ukhuwah, musyawarah, dan konsolidasi umat.

Namun di bawah permukaan, bergerak arus lain yang tak kalah kuat. Kasak-kusuk kandidat dan tim yang turun ke bawah, mengetuk pintu demi pintu. Bukan sekadar menyampaikan visi, tetapi mengamankan dukungan dengan cara-cara yang sering kali jauh dari nilai-nilai dakwah.

Di titik ini, kita mulai bertanya. Apakah ini masih ruang musyawarah umat. Atau telah berubah menjadi arena kontestasi yang disusupi logika kekuasaan?

Lebih menggelisahkan lagi adalah ketika praktik-praktik tersebut tidak tampil apa adanya, tetapi dibungkus dengan istilah-istilah suci agama. Uang yang sejatinya diberikan untuk mengamankan dukungan suara, dengan ringan dilabeli sebagai infaq, sadaqah, atau hibah. Seolah-olah, dengan mengganti nama, hakikatnya ikut berubah.

Padahal Islam sangat tegas. Infaq adalah pemberian karena Allah, tanpa pamrih kekuasaan. Sadaqah adalah amal kebajikan yang lahir dari keikhlasan, bukan strategi. Hibah adalah pemberian tanpa syarat, bukan investasi dukungan.

Baca Juga  Peningkatan Perputaran Uang Judi Online Terbesar Terjadi dari 2020 ke 2021

Ketika pemberian itu bersyarat. Mengikat pilihan, mempengaruhi suara, maka ia tidak lagi berada dalam wilayah ibadah. Tetapi telah bergeser ke wilayah yang sangat dekat dengan riswah, yang secara tegas dilaknat dalam hadits Nabi.

Yang lebih mengkhawatirkan, fenomena ini tidak selalu ditolak secara tegas. Dalam banyak kasus, ia justru dinormalisasi secara diam-diam. Pimpinan tertinggi, ulama, dan cendekiawan dalam ormas, yang seharusnya menjadi penjaga moral. Kadang memilih diam, membiarkan, atau menganggapnya sebagai “realitas yang tak terhindarkan”.

Di sinilah bahaya terbesar muncul. Bukan semata pada perbuatannya, tetapi pada hilangnya sensitivitas moral. Ketika yang salah tidak lagi dianggap salah, maka organisasi sedang berjalan menuju krisis yang lebih dalam. Krisis nurani.

Akibatnya tidak berhenti pada satu momentum. Proses suksesi yang tidak bersih akan melahirkan kepemimpinan yang rapuh secara moral. Teladan umat pun perlahan lenyap.

Kepercayaan mulai terkikis. Dan organisasi yang seharusnya menjadi rumah persatuan, berubah menjadi ruang yang tak pernah sepi dari konflik, saling curiga, bahkan dalam istilah yang getir “berbaun korupsi”.

Ini bukan sekadar kritik organisasi. Ini adalah peringatan peradaban.

Al-Qur’an telah mengingatkan bahwa azab tidak selalu turun hanya kepada pelaku kezaliman, tetapi bisa menimpa secara kolektif ketika penyimpangan dibiarkan tanpa koreksi. Ketika yang benar dibungkam, dan yang salah dibiarkan, maka kerusakan menjadi sistemik.

Baca Juga  Tarif Nol Persen Jadi Momentum Industri Nasional Perluas Pasar AS

Karena itu, jalan keluar tidak bisa setengah-setengah. Ia harus dimulai dari kesadaran yang jujur: bahwa ada yang keliru dalam praktik kita. Dari sana lahir taubat, menghentikan yang salah, bukan sekadar memperhalus istilahnya.

Lalu diikuti dengan rujuk kepada yang benar. Mengembalikan seluruh proses kepada nilai amanah, kejujuran, dan keikhlasan sebagaimana diajarkan oleh Al-Qur’an dan diteladankan oleh para ulama.

Helat nasional ormas Islam harus kembali menjadi ruang yang bersih. Boleh sederhana, tetapi bermartabat. Boleh terbatas, tetapi penuh keberkahan. Sebab, umat tidak membutuhkan pemimpin yang menang karena uang, tetapi pemimpin yang lahir dari kepercayaan.

Dan sebelum semuanya terlambat, kita perlu mengatakan dengan jernih dan tegas.

Jjangan biarkan dakwah kehilangan ruhnya hanya karena kita gagal menjaga amanahnya. Jangan biarkan helat umat berubah menjadi transaksi, lalu kita menyebutnya ibadah.

Kembalilah. Sadar. Taubat. Rujuk.

Sebab jika tidak, yang hilang bukan hanya kepercayaan. Tetapi juga keberkahan, dan pada akhirnya, arah perjuangan itu sendiri.(ds).