Jakarta – Menteri Pertanian sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas), Andi Amran Sulaiman, mencatat capaian besar dalam sektor pangan nasional dengan keberhasilan menuju swasembada beras. Saat ini, cadangan beras Indonesia dilaporkan telah melampaui angka 5 juta ton.
Anggota Komisi IV DPR RI, Rajiv, mengaku terkejut sekaligus mengapresiasi kinerja tersebut. Menurutnya, pencapaian ini sangat luar biasa karena target swasembada beras yang sebelumnya ditetapkan Presiden Prabowo dalam waktu empat tahun, ternyata dapat dikejar hanya dalam sekitar 1,5 tahun oleh Menteri Amran.
“Ini pencapaian yang sangat luar biasa. Target swasembada beras empat tahun bisa dipercepat menjadi 1,5 tahun,” ujar Rajiv dalam keterangannya, Selasa (28/4/2026).
Ia juga menyoroti peningkatan produksi beras nasional yang disebut naik sekitar 13,29 persen pada tahun sebelumnya. Bahkan, produksi bulanan kini mencapai sekitar 5,7 juta ton, yang membuat ketahanan pangan Indonesia dinilai cukup aman hingga sembilan bulan ke depan.
“Di tengah kondisi global yang tidak menentu dan ancaman krisis pangan, Indonesia justru berada dalam posisi aman dengan cadangan yang cukup hingga 324 hari ke depan. Produksi bulanan kita juga stabil di angka 5,7 juta ton,” tambahnya.
Rajiv menilai Kementerian Pertanian saat ini bekerja cukup progresif melalui berbagai program strategis, seperti penguatan swasembada jagung dan gula, peningkatan produksi komoditas perkebunan seperti kopi dan kakao, serta program intensifikasi dan ekstensifikasi lahan pertanian.
Selain itu, Kementan juga dinilai aktif dalam mendukung sektor pertanian melalui penyediaan benih unggul, alat dan mesin pertanian, subsidi pupuk, hingga pengembangan hilirisasi di sektor perkebunan dan peternakan.
Meski begitu, Rajiv mengingatkan agar capaian tersebut tidak membuat pemerintah lengah. Ia menyebut adanya peringatan dari BMKG terkait potensi ancaman fenomena “Godzilla El Nino” yang dapat memicu musim kemarau panjang dan kondisi lebih kering dari biasanya.
“Semua keberhasilan ini akan diuji oleh perubahan cuaca dan iklim. Kementerian Pertanian harus tetap waspada menghadapi potensi El Nino ekstrem yang bisa mengganggu produksi pangan,” tutup Rajiv.(BY)












