Investasi Meningkat, Prancis dan Arab Saudi Garap Energi hingga Teknologi Digital

Pemerintah dan pelaku usaha Prancis serta Arab Saudi sepakat meningkatkan investasi dalam pertemuan meja bundar yang digelar di Paris.
Pemerintah dan pelaku usaha Prancis serta Arab Saudi sepakat meningkatkan investasi dalam pertemuan meja bundar yang digelar di Paris.

Jakarta — Hubungan ekonomi antara Prancis dan Arab Saudi memasuki babak baru. Kedua negara sepakat memperluas peluang investasi dan mendorong kerja sama bisnis di sejumlah sektor strategis, termasuk energi, transportasi, logistik, kecerdasan buatan (AI), hingga infrastruktur digital.

Kesepakatan tersebut mengemuka dalam pertemuan meja bundar yang berlangsung di Paris pada Senin, 24 Agustus 2026. Forum yang diselenggarakan Kementerian Investasi Arab Saudi itu dihadiri perwakilan pemerintah, pelaku usaha, serta pimpinan perusahaan besar dari kedua negara.

Pertemuan tersebut menjadi bagian dari upaya mempererat hubungan perdagangan dan investasi yang terus berkembang antara Prancis dan Arab Saudi.

Dalam forum itu, pembahasan diarahkan pada empat agenda utama. Fokus pertama adalah pembiayaan dan pembangunan berbagai destinasi transformatif. Selanjutnya, kedua negara membahas cara mengubah kemitraan industri menjadi proyek konkret, memperkuat jaringan transportasi dan logistik, serta mengembangkan ekosistem digital berbasis AI dan infrastruktur teknologi.

Menteri Investasi Arab Saudi Fahad bin Abduljalil Al-Saif mengatakan hubungan kedua negara telah terjalin selama sekitar 100 tahun. Menurutnya, hubungan tersebut masih memiliki ruang yang luas untuk dikembangkan, terutama karena keunggulan industri dan teknologi Prancis dinilai sejalan dengan program transformasi ekonomi Arab Saudi.

“Kapabilitas Prancis di bidang teknologi, industri, keuangan, dan inovasi sejalan dengan ambisi Saudi Vision 2030,” ujar Al-Saif, sebagaimana dilaporkan Saudi Press Agency (SPA), Selasa (25/8/2026).

Besarnya peluang kerja sama tercermin dari perkembangan investasi Prancis di Arab Saudi. Stok investasi langsung Prancis di negara tersebut tercatat mencapai SAR63,9 miliar atau sekitar EUR16,3 miliar pada 2024. Nilainya telah meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan 2021.

Dengan capaian tersebut, Prancis menjadi negara dengan sumber investasi asing langsung terbesar keempat bagi Arab Saudi.

Selain itu, perusahaan-perusahaan asal Prancis telah memperoleh 651 izin investasi yang mencakup 18 sektor usaha. Di sisi lain, Arab Saudi mencatat arus masuk investasi asing langsung sekitar SAR23,9 miliar atau setara EUR6,1 miliar pada kuartal pertama 2026. Nilai tersebut meningkat 2,4% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Baca Juga  Kolaborasi Pegadaian dan Universitas Riau Hadirkan Ruang Kreatif Berbasis Teknologi

Al-Saif menilai program Saudi Vision 2030 telah membuka semakin banyak ruang bagi perusahaan Prancis. Beberapa sektor yang dinilai prospektif antara lain energi, layanan keuangan, manufaktur berteknologi maju, infrastruktur digital, transportasi dan logistik, pariwisata, serta industri gim.

Transformasi ekonomi tersebut juga terlihat dari meningkatnya kontribusi sektor nonmigas. Saat ini, kegiatan ekonomi di luar sektor minyak dan gas telah menyumbang lebih dari separuh produk domestik bruto (PDB) Arab Saudi.

Investasi menjadi salah satu instrumen penting yang digunakan pemerintah Saudi untuk memperluas basis ekonomi sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap sektor migas.

Di bidang energi, kerja sama Prancis dan Arab Saudi sebelumnya banyak berkaitan dengan minyak, gas, dan petrokimia. Namun, peluang kemitraan kini semakin luas karena Arab Saudi mulai memberikan perhatian lebih besar pada energi bersih dan sumber energi terbarukan sebagai bagian dari agenda transisi energi.

Bidang jasa keuangan juga menjadi salah satu sektor yang berpotensi berkembang. Reformasi sistem keuangan Arab Saudi dinilai membuka peluang bagi investor internasional dalam berbagai kegiatan, mulai dari layanan finansial dan asuransi hingga merger dan akuisisi.

Sektor gim dan esports turut menjadi perhatian. Al-Saif menyebut rata-rata pendapatan per pemain di Arab Saudi sekitar 7% lebih tinggi dibandingkan rata-rata dunia dan mencapai sekitar 4,5 kali rata-rata kawasan Timur Tengah dan Afrika.

Besarnya pasar yang didominasi generasi muda tersebut dinilai dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan kekayaan intelektual lokal, produksi konten, penciptaan tenaga kerja dengan keahlian khusus, serta membangun perusahaan yang mampu menembus pasar internasional.

Arab Saudi juga ingin memperkuat perannya sebagai pusat operasional perusahaan global di kawasan. Melalui program Regional Headquarters (RHQ), lebih dari 750 perusahaan telah membuka basis regional di negara tersebut. Dari jumlah itu, 39 perusahaan berasal dari Prancis dan tersebar di delapan sektor.

Al-Saif menilai keberadaan kantor pusat regional tersebut dapat semakin memperkuat posisi Arab Saudi sebagai penghubung bagi perusahaan internasional yang ingin mengelola bisnisnya di kawasan.

Baca Juga  Ekspor Pinang Indonesia Tembus USD49,1 Juta, Bidik Pasar Iran dan India

Ia pun meminta perusahaan Prancis untuk melihat secara lebih spesifik proyek-proyek yang tersedia di Arab Saudi dan menyesuaikannya dengan kemampuan teknologi, modal, serta keahlian yang mereka miliki.

Di sisi lain, Menteri Ekonomi dan Keuangan Prancis Roland Lescure menilai hubungan strategis dengan Arab Saudi penting bagi kepentingan ekonomi kedua negara, khususnya dalam memperkuat ketahanan energi dan jaringan logistik.

Menurut Lescure, Arab Saudi memiliki posisi penting dalam menjaga stabilitas pasar energi dunia. Letak geografisnya yang menghubungkan kawasan Timur Tengah dengan Eropa juga memberikan nilai strategis dalam pengembangan jaringan energi dan logistik.

Prancis juga melihat peluang untuk memperbesar investasi di negaranya. Kehadiran kantor Dana Investasi Publik (PIF) Arab Saudi di Paris dinilai menjadi salah satu indikasi meningkatnya minat investasi Saudi di Prancis.

Lescure turut melihat adanya kesamaan arah antara program Saudi Vision 2030 dan France 2030. Menurut dia, pola hubungan bisnis kedua negara kini mulai bergeser. Perusahaan Prancis tidak lagi hanya berperan sebagai pemasok barang dan jasa, tetapi semakin diarahkan menuju kerja sama produksi serta kemitraan jangka panjang.

Perkembangan tersebut berjalan seiring dengan meningkatnya aktivitas perdagangan bilateral. Nilai perdagangan antara Prancis dan Arab Saudi mencapai SAR44,2 miliar sepanjang 2025.

Dengan pertumbuhan investasi, perdagangan, dan jumlah perusahaan yang terlibat, Paris dan Riyadh kini memiliki peluang untuk memperluas kemitraan ekonomi dari hubungan dagang menuju kolaborasi industri dan teknologi yang lebih mendalam.(BY)