Tolak Angin dan Strategi Menjaga Warisan Jamu di Tengah Gaya Hidup Modern

Lebih dari 60 tahun sejak awal racikannya, Tolak Angin membuktikan bahwa produk tradisional dapat berkembang dan mendunia tanpa kehilangan identitasnya.
Lebih dari 60 tahun sejak awal racikannya, Tolak Angin membuktikan bahwa produk tradisional dapat berkembang dan mendunia tanpa kehilangan identitasnya.

JakartaIndustri jamu Indonesia telah melewati perjalanan panjang. Di tengah munculnya berbagai produk kesehatan dan perubahan pola hidup masyarakat, tidak semua merek tradisional mampu bertahan sekaligus tetap mendapatkan tempat di hati konsumen. Tolak Angin menjadi salah satu contoh produk yang berhasil melewati perubahan tersebut.

Cikal bakal perjalanan Tolak Angin berawal dari usaha jamu dan rempah yang dirintis Rakhmat Sulistio atau Go Djing Nio di Yogyakarta pada 1935. Beberapa tahun kemudian, tepatnya pada 1940, racikan Tolak Angin mulai dikenal masyarakat dalam bentuk godogan.

Perkembangannya semakin besar setelah Sido Muncul mendirikan pabrik pertamanya di Semarang pada 1951. Dari usaha keluarga yang berbasis pada tradisi jamu, produk tersebut kemudian tumbuh menjadi salah satu produk herbal yang dikenal luas di Indonesia.

Beradaptasi dengan Konsumen Lintas Generasi

Salah satu tantangan bagi produk tradisional adalah mempertahankan relevansinya ketika selera dan kebiasaan konsumen terus berubah. Tolak Angin mencoba menjawab tantangan tersebut dengan mempertahankan karakter produknya sekaligus menyesuaikan cara produk tersebut diperkenalkan kepada masyarakat.

Produk ini tidak hanya digunakan oleh konsumen dari generasi yang lebih tua. Praktisnya bentuk konsumsi membuatnya turut diterima oleh masyarakat dengan aktivitas yang semakin dinamis, termasuk kalangan anak muda.

Direktur Marketing Sido Muncul, Maria Reviani Hidayat, menyebut Tolak Angin memiliki konsumen yang berasal dari berbagai kelompok usia dan latar belakang demografis.

Menurut Maria, keberadaan konsumen lintas generasi tersebut tidak terlepas dari manfaat yang ditawarkan, bentuk produk yang praktis, serta kemudahan dalam mengonsumsinya.

Kebutuhan masyarakat untuk menjaga kondisi tubuh di tengah aktivitas sehari-hari juga menjadi salah satu faktor yang membuat produk herbal seperti Tolak Angin tetap memiliki ruang di pasar.

Mendekatkan Jamu dengan Gaya Hidup Anak Muda

Perubahan gaya hidup menjadi salah satu faktor yang mendorong merek tradisional untuk mengubah pendekatan komunikasinya. Generasi muda kini memiliki aktivitas yang beragam, mulai dari olahraga, perjalanan, pekerjaan, hingga kegiatan hiburan yang membutuhkan mobilitas tinggi.

Situasi tersebut membuka peluang bagi produk herbal untuk hadir dengan pendekatan yang lebih relevan. Tolak Angin kemudian memperluas komunikasinya melalui berbagai kolaborasi dengan merek, komunitas, maupun kegiatan yang memiliki kedekatan dengan anak muda.

Sejumlah kolaborasi dilakukan bersama Tahilalats dan Brodo. Merek tersebut juga hadir dalam berbagai festival dan acara musik, antara lain Synchronize Fest, Bigu Fest, Semesta Berpesta, Lengger Bicara, serta Scream or Dance.

Baca Juga  Waspadai Suplemen Ilegal, Cek Izin, Kandungan, dan Klaimnya!

Strategi tersebut memperlihatkan bahwa produk dengan sejarah panjang tidak harus mempertahankan pola komunikasi yang sama seperti beberapa dekade sebelumnya.

Nilai tradisional tetap dapat dipertahankan, tetapi cara menyampaikannya perlu mengikuti perubahan karakter dan kebiasaan konsumen.

Menembus Pasar di Luar Indonesia

Perjalanan Tolak Angin tidak hanya berlangsung di pasar domestik. Produk herbal tersebut kini telah dipasarkan di 34 negara, termasuk Malaysia, Filipina, dan Jepang.

Menariknya, konsumennya di luar negeri tidak seluruhnya berasal dari masyarakat Indonesia yang tinggal di negara tersebut. Di sejumlah pasar, produk ini mulai dikenal dan dikonsumsi oleh masyarakat lokal.

Peningkatan mobilitas masyarakat internasional serta perkembangan media sosial turut membuka peluang bagi produk-produk Indonesia untuk dikenal lebih luas.

Tolak Angin bahkan menjadi salah satu produk yang kerap diperkenalkan kepada wisatawan asing sebagai produk herbal khas Indonesia yang menarik untuk dicoba.

Bagi Sido Muncul, penerimaan tersebut menjadi gambaran bahwa produk lokal memiliki peluang untuk berkembang di pasar internasional selama mampu menawarkan sesuatu yang mudah dipahami, relevan, dan sesuai dengan kebutuhan konsumen.

Berinovasi Tanpa Meninggalkan Identitas

Memiliki sejarah panjang tidak berarti sebuah merek harus berhenti berinovasi. Pada 2025, Tolak Angin menjalankan sejumlah program kolaborasi melalui kampanye bertajuk “Kolaborasi Pintar”.

Salah satu bentuknya dilakukan bersama Brodo dan Tahilalats melalui produk sepatu yang menggabungkan unsur kualitas, nilai lokal, serta kreativitas.

Tolak Angin juga memperluas bentuk komunikasinya melalui mini series berjudul “Angin Angan” yang mengangkat pesona Wakatobi.

Di sektor minuman, kolaborasi dilakukan bersama Chatime dengan menghadirkan Coco Angin, yang menawarkan perpaduan cita rasa chocolate mint.

Rangkaian kolaborasi tersebut menjadi bagian dari upaya membawa produk herbal ke dalam medium yang lebih dekat dengan kehidupan konsumen masa kini. Pendekatan semacam ini sekaligus memungkinkan merek dengan akar tradisional berinteraksi dengan audiens yang mungkin tidak terlalu dekat dengan budaya minum jamu konvensional.

Meski cara berkomunikasi berubah, aspek kualitas produk tetap menjadi perhatian. Sido Muncul menyatakan bahwa pengembangan produknya melibatkan proses riset serta berbagai pengujian, termasuk pengujian khasiat dan toksisitas.

Dalam materi penelitian yang dikutip, penggunaan Tolak Angin cair pada dosis yang diuji dilaporkan tidak menimbulkan gangguan terhadap sejumlah fungsi organ yang diamati.

Baca Juga  KONI Sumbar Siapkan Strategi Efisiensi di Tengah Pemotongan Anggaran Rp533 Miliar

Upaya menjaga kualitas tersebut berjalan beriringan dengan pencapaian merek. Pada 2025, Tolak Angin tercatat meraih sejumlah penghargaan, termasuk Indonesia Original Brand 2025 kategori Herbal Supplement, Solo Best Brand and Innovation Award 2025, serta Indonesia Brand Expansion Award 2025.

Pertumbuhan di Kanal Digital

Perubahan perilaku konsumen juga terlihat dari semakin pentingnya kanal digital dalam aktivitas belanja. Tolak Angin turut mencatat perkembangan pada penjualan melalui platform online.

Berdasarkan data yang disampaikan, penjualan online Tolak Angin sepanjang 2020 hingga 2025 meningkat hingga 99 persen. Sementara itu, jika dibandingkan periode 2022 hingga 2025, pertumbuhannya mencapai 73 persen.

Angka tersebut menunjukkan bahwa distribusi dan kebiasaan konsumsi produk herbal ikut mengalami perubahan seiring berkembangnya perdagangan digital.

Tradisi yang Terus Menyesuaikan Diri

Perjalanan Tolak Angin menunjukkan bagaimana produk yang berangkat dari tradisi dapat terus bertahan ketika mampu membaca perubahan zaman.

Dari racikan jamu yang mulai diperkenalkan pada masa lalu, Tolak Angin berkembang menjadi produk yang menyasar konsumen dari berbagai kelompok usia. Kehadirannya juga diperluas melalui kolaborasi dengan industri kreatif, festival, komunitas, hingga pasar internasional.

Kisah tersebut menunjukkan bahwa menjaga warisan tidak selalu berarti mempertahankan semuanya dalam bentuk yang sama. Identitas dapat tetap dijaga, sementara cara produk berinteraksi dengan masyarakat terus diperbarui.

Bagi Tolak Angin, kombinasi antara tradisi, inovasi, kualitas, serta kemampuan memahami perubahan perilaku konsumen menjadi bagian penting dari perjalanan panjangnya.

Pada akhirnya, kebutuhan masyarakat terhadap produk yang mendukung aktivitas sehari-hari terus berkembang seiring perubahan gaya hidup. Di tengah kondisi tersebut, perjalanan Tolak Angin menjadi salah satu gambaran bagaimana produk herbal lokal dapat mempertahankan akar tradisional sekaligus membuka ruang bagi generasi dan pasar yang baru.(BY)