Pesantren Lama Antara Istiqamah dan Adaptif : Jaga Ruh Baca Zaman

Oleh: Prof. Dr. H. Duski Samad, M.Ag.
Santri 1973 – 1980

Padang – Pesantren lama mempunyai satu kekuatan yang tidak mudah digantikan lembaga pendidikan modern, Istiqamah. Puluhan bahkan ratusan tahun pesantren menjaga pengajian, kitab turats, adab kepada guru, kehidupan berjamaah, kesederhanaan, sanad keilmuan, dan pembentukan akhlak. Ketika berbagai model pendidikan datang dan pergi, pesantren tetap berdiri.

Istiqamah itulah yang membuat pesantren memiliki akar.

Namun, istiqamah tidak sama dengan mempertahankan semua cara lama. Nilai boleh tetap, tetapi metode dapat berubah. Prinsip harus dijaga, tetapi sistem harus diperbaiki. Ruh pesantren tidak boleh hilang, tetapi cara mengelolanya harus mampu membaca zaman.

Di sinilah, pesantren lama menghadapi tantangan besar. Bagaimana tetap istiqamah tanpa menjadi kaku, dan bagaimana menjadi adaptif tanpa kehilangan jati diri?

Kegelisahan itu terasa ketika sebagian pesantren lama menghadapi persoalan santri yang tidak bertahan lama. Ada yang masuk sejak awal, tetapi setelah menyelesaikan tiga tahun Tsanawiyah, memilih pindah ke sekolah atau pesantren lain.

Fenomena ini jangan hanya dibaca sebagai ketidaksetiaan santri. Pesantren juga perlu berani melakukan muhasabah.

Mengapa mereka pindah?

Boleh jadi persoalannya bukan pada kitab yang dipelajari atau nilai agama yang diajarkan. Tetapi pada ekosistem pendidikan yang belum sepenuhnya memahami kebutuhan generasi milenial, Gen Z, dan generasi sesudahnya.

Generasi hari ini tumbuh bersama teknologi digital. Mereka membutuhkan ruang dialog, lingkungan yang sehat dan nyaman, kesempatan berkreasi, fasilitas belajar yang memadai, pendampingan psikologis dan akademik, serta gambaran masa depan yang jelas.

Mereka tetap membutuhkan disiplin, tetapi tidak selalu dapat dibina dengan pola komunikasi satu arah dan pendekatan yang terlalu kaku.

Baca Juga  Mobil Tiba-Tiba Liar, Kecelakaan Tragis di Kendari Tewaskan Pengendara Motor

Pesantren lama sering kali kuat pada figur, tetapi belum tentu kuat pada sistem. Selama kiai atau buya yang kharismatik masih hadir, lembaga berjalan.

Persoalan muncul ketika generasi berganti. Nasab dapat meneruskan garis keluarga, tetapi tidak otomatis meneruskan kapasitas kepemimpinan. Yayasan dapat memberikan legalitas, tetapi legalitas saja tidak melahirkan kualitas.

Oleh karena itu, pesantren harus berani bergerak dari ketergantungan kepada figur menuju kekuatan sistem, tanpa menghilangkan figur ulama sebagai ruhnya.

Di sinilah makna adaptif menjadi penting.

Adaptif bukan berarti mengganti kitab kuning dengan teknologi. Justru keduanya dapat berjalan bersama. Santri dapat mengaji turats, sekaligus menguasai bahasa asing, AI, literasi digital, kewirausahaan, kepemimpinan, dan komunikasi publik.

Adaptif juga bukan berarti mengurangi adab kepada guru. Justru metode pembinaan adab perlu diperkuat dengan keteladanan dan dialog. Sehingga santri memahami mengapa ia harus beradab, bukan sekadar takut melanggar aturan.

Yang harus istiqamah adalah nilai. Yang harus adaptif adalah metode. Tauhid harus istiqamah, tetapi metode mengajarkannya boleh adaptif.

Tafaqquh fiddin harus istiqamah, tetapi kurikulumnya perlu membaca kebutuhan zaman. Adab harus istiqamah, tetapi pola pembinaannya harus memahami perkembangan generasi. Sanad harus dijaga, tetapi teknologi harus dikuasai.

Kiai tetap menjadi ruh, tetapi manajemen harus profesional. Kesederhanaan tetap menjadi karakter, tetapi fasilitas tidak boleh identik dengan ketertinggalan.

Pesantren lama, tidak boleh menjadi museum pendidikan Islam yang hanya membanggakan kejayaan masa lalu. Pesantren harus menjadi living tradition, tradisi yang tetap hidup karena mampu berdialog dengan perubahan.

Pengalaman menjadi santri pada 1973 – 1980 mengajarkan bahwa kesederhanaan, disiplin, ketekunan, dan penghormatan kepada guru mempunyai kekuatan besar dalam membentuk kepribadian.

Baca Juga  Empat Damkar Padamkan Kebakaran Pesantren Bustanul Yaqin

Nilai-nilai itu tidak boleh hilang. Tetapi santri tahun 2026 hidup dalam dunia yang sangat berbeda dengan santri tahun 1970-an.

Tidak adil, apabila generasi baru selalu diminta menyesuaikan diri sepenuhnya dengan pesantren. Sementara pesantren, tidak pernah bertanya apa yang harus diperbaiki agar mampu mendidik generasi baru.

Pesantren tidak perlu berubah menjadi sekolah modern yang kehilangan ruh. Sebaliknya, pesantren harus menunjukkan bahwa tradisi Islam justru mempunyai kemampuan besar untuk menghadapi modernitas.

Formula masa depannya sederhana. Istiqamah pada aqidah dan nilai. Istiqamah pada tafaqquh fiddin. Istiqamah pada adab dan sanad.

Adaptif dalam metode. Adaptif dalam manajemen. Adaptif dalam teknologi. Adaptif dalam memahami generasi.

Dengan cara itulah pesantren lama tidak sekadar bertahan, tetapi kembali menjadi pilihan.

Tidak sekadar memiliki santri yang datang, tetapi membuat santri betah, tumbuh, tamat, dan bangga menjadi alumninya.

Pesantren lama tidak harus meninggalkan masa lalu untuk memasuki masa depan. Ia hanya perlu membawa nilai terbaik masa lalu dengan kendaraan yang sesuai dengan zaman.

Istiqamah menjaga ruh. Adaptif menjaga keberlanjutan.

Dan ketika keduanya bertemu, pesantren akan tetap menjadi pusat ilmu, adab, kaderisasi ulama, dan peradaban umat dari satu generasi ke generasi berikutnya.(ds.08082026).