Ekonomi Indonesia Melaju 5,29 Persen, Apindo Soroti Beban Produksi dan Lesunya Ekspor

Ekonomi Indonesia.
Ekonomi Indonesia.

JakartaAsosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menyambut baik pertumbuhan ekonomi nasional pada kuartal II-2026 yang mencapai 5,29 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Meski demikian, organisasi tersebut mengingatkan bahwa pelaku industri masih menghadapi tekanan besar sehingga momentum pertumbuhan perlu dijaga.

Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional (DPN) Apindo, Shinta Widjaja Kamdani, menyatakan bahwa pencapaian tersebut merupakan sinyal positif bagi perekonomian Indonesia. Menurutnya, keberhasilan ini harus dipertahankan bahkan ditingkatkan hingga akhir tahun melalui kebijakan yang mampu memperkuat sektor riil.

Di balik capaian tersebut, dunia usaha masih dibayangi kenaikan biaya produksi yang cukup tajam sepanjang kuartal kedua. Lonjakan harga energi akibat konflik di Selat Hormuz serta pelemahan nilai tukar rupiah meningkatkan biaya impor bahan baku, sehingga membebani aktivitas industri.

Shinta menjelaskan, kombinasi kedua faktor tersebut memicu tekanan inflasi dari sisi biaya produksi (cost-push inflation). Akibatnya, banyak perusahaan harus mengeluarkan biaya operasional yang lebih tinggi dibandingkan periode sebelumnya.

Baca Juga  AS Tingkatkan Produksi Tungsten di Larangan Tengah Cina

Selain menghadapi kenaikan biaya, industri juga mengalami perlambatan permintaan dari pasar internasional. Ketidakpastian perdagangan global, termasuk isu penyelidikan dagang Amerika Serikat terhadap Indonesia, ikut memengaruhi kinerja ekspor.

Di pasar domestik, kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) turut menekan daya beli masyarakat. Kondisi tersebut membuat konsumsi belum pulih sepenuhnya sehingga dunia usaha masih berhati-hati dalam melakukan ekspansi.

Apindo menilai berbagai tekanan tersebut menyebabkan sebagian besar sektor industri memilih menahan rencana pengembangan usaha. Walaupun masih ada beberapa sektor yang mencatat pertumbuhan, laju ekspansi dinilai belum cukup kuat untuk mendorong pemulihan industri secara menyeluruh.

Situasi tersebut juga tercermin dalam indeks PMI Manufaktur S&P Global Indonesia pada Juli 2026 yang berada di level 50,2, hanya sedikit di atas ambang batas ekspansi. Angka tersebut menunjukkan aktivitas manufaktur masih tumbuh, namun kecepatannya relatif terbatas.

Baca Juga  Pengamat Transportasi Sarankan Pemerintah Benahi Bandara IKN Sebelum Dijadikan Bandara Internasional

Karena itu, Apindo berharap pemerintah terus menjaga momentum pertumbuhan ekonomi melalui kebijakan yang mampu memperkuat sektor industri. Dengan dukungan yang tepat, tren pertumbuhan diharapkan menjadi lebih kokoh sehingga dunia usaha memiliki kepercayaan diri untuk kembali melakukan ekspansi.(BY)