Patahkan Stigma, Mila Arlinda Sukses Bangun Usaha Peternakan Modern dari Nol

Mila Arlinda, seorang perempuan muda berusia 28 tahun, berhasil membangun usaha peternakan modern bernama Kerabat Ternak.
Mila Arlinda, seorang perempuan muda berusia 28 tahun, berhasil membangun usaha peternakan modern bernama Kerabat Ternak.

Tuban – Dunia peternakan yang selama ini kerap dipandang sebagai bidang usaha yang didominasi laki-laki berhasil dipatahkan oleh Mila Arlinda. Perempuan berusia 28 tahun tersebut kini sukses mengembangkan usaha peternakan modern Kerabat Ternak 1–3 yang dikenal di berbagai wilayah Jawa Timur.

Lulusan Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (UGM) angkatan 2020 itu membangun usahanya di Desa Kebonagung, Kecamatan Rengel, Kabupaten Tuban bersama sang suami, Sahroni. Dari usaha berskala kecil, kini bisnis mereka berkembang menjadi peternakan terpadu yang mencakup penggemukan, pembibitan, peternakan kambing perah, hingga penyediaan sarana produksi peternakan.

Perjalanan tersebut mengantarkan Kerabat Ternak memiliki perputaran usaha hingga ratusan juta rupiah.

Mila mengungkapkan bahwa pilihannya menempuh pendidikan di bidang peternakan sempat diragukan keluarga. Meski demikian, keraguan tersebut justru menjadi dorongan untuk membuktikan bahwa sektor peternakan memiliki prospek yang menjanjikan apabila dikelola secara profesional.

Lahir pada 1 Januari 1999 dari keluarga sederhana, Mila tumbuh dengan kebiasaan bekerja keras. Ayahnya berprofesi sebagai pengusaha kayu, sedangkan ibunya merupakan ibu rumah tangga yang menanamkan nilai kemandirian sejak kecil.

Ketertarikan Mila terhadap dunia peternakan muncul sejak duduk di bangku SMA. Pada 2014, ketika masih kelas XI, ia mulai memelihara lima ekor domba. Dari kandang sederhana itulah pengalaman beternaknya dimulai.

Usai menyelesaikan kuliah di Fakultas Peternakan UGM pada 2020, Mila memutuskan menekuni usaha peternakan secara penuh. Menurutnya, bekal pendidikan yang diperoleh selama kuliah sangat membantu dalam mengelola usaha karena tidak hanya mempelajari teori, tetapi juga praktik lapangan.

Ia menilai keberhasilan di sektor peternakan tidak cukup hanya mengandalkan ilmu di ruang kelas. Pengalaman langsung di lapangan menjadi faktor penting dalam memahami karakter ternak dan sistem manajemen yang tepat.

Selama menjalankan usaha, Mila juga menghadapi berbagai tantangan. Salah satunya adalah kematian ternak akibat penyakit. Namun setiap kejadian dijadikan bahan evaluasi agar kesalahan yang sama tidak kembali terulang.

Baca Juga  Pernah Diincar Timnas Indonesia, Nyoman Paul Aro Justru Sukses Jadi Penyanyi

Pengalaman tersebut membuatnya semakin memahami pengelolaan kesehatan kambing dan domba, mulai dari penanganan penyakit pernapasan akibat perubahan cuaca hingga berbagai infeksi lain yang umum menyerang ternak.

Kini Kerabat Ternak lebih mengutamakan kualitas dibanding sekadar menambah jumlah populasi. Perawatan kandang dilakukan secara rutin dengan memperhatikan kebersihan, kesehatan, serta kesejahteraan hewan.

Dalam memenuhi kebutuhan pakan, Mila mengelola lahan hijauan seluas sekitar 1,5 hektare. Selain rumput, ternaknya juga mendapatkan pakan tambahan berupa ampas tahu dan kangkung kering sebagai sumber nutrisi.

Strategi yang diterapkan lebih berfokus pada peningkatan kualitas genetika ternak. Berkat pendekatan tersebut, kambing unggulan mampu dipasarkan dengan harga antara Rp16 juta hingga Rp23 juta per ekor, sedangkan kambing lokal dijual sekitar Rp3 juta sampai Rp5 juta.

Selain melayani kebutuhan kambing kurban dan aqiqah, Kerabat Ternak juga mengembangkan usaha penyediaan sarana produksi peternakan, mulai dari susu cempe, vitamin ternak, hingga berbagai perlengkapan peternakan yang dipasarkan ke sejumlah daerah.

Musim Iduladha menjadi periode dengan penjualan tertinggi. Dalam dua bulan menjelang Hari Raya Kurban tahun 2024, omzet usaha disebut mencapai kisaran Rp500 juta hingga Rp700 juta. Di luar musim tersebut, penjualan bibit, layanan aqiqah, susu kambing, dan produk pendukung lainnya menghasilkan perputaran sekitar Rp50 juta setiap bulan, ditambah penjualan sarana produksi peternakan sekitar Rp75 juta.

Jangkauan pemasaran Kerabat Ternak kini tidak hanya berada di Tuban, tetapi juga meliputi Lamongan, Bojonegoro, serta sejumlah daerah lain di Jawa Timur.

Sejak 2023, Mila juga aktif membagikan edukasi seputar peternakan melalui media sosial, termasuk TikTok. Konten yang dibuat berisi informasi mengenai teknik budidaya, manajemen ternak, hingga pengalaman selama mengembangkan usaha. Upaya tersebut sekaligus menjadi sarana memperkenalkan konsep peternakan modern kepada masyarakat.

Baca Juga  Dapat Dollar dari Shutterstock, Tips Sukses Jadi Kontributor Visual

Keberadaan Kerabat Ternak juga memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar. Saat ini usaha tersebut mempekerjakan dua orang karyawan dan membina kelompok peternak sebagai wadah belajar sekaligus pengembangan usaha bersama.

Salah satu anggota kelompok ternak, Erma, mengaku terbantu terutama dalam pemasaran susu kambing. Menurutnya, keberadaan Kerabat Ternak memudahkan peternak kecil memperoleh akses pasar sekaligus menambah wawasan mengenai teknik beternak.

Hal serupa disampaikan Agung Setiawan, siswa praktik kerja lapangan dari SMK Negeri 4 Bojonegoro. Ia menilai pengalaman belajar langsung di peternakan memberikan banyak pengetahuan yang tidak diperoleh di ruang kelas.

Bagi Mila, keberhasilan usaha bukan hanya diukur dari besarnya keuntungan, tetapi juga dari kemampuan menghadirkan manfaat bagi masyarakat melalui edukasi, pemberdayaan, dan penciptaan lapangan pekerjaan.

Perjalanan yang dimulai dari memelihara lima ekor domba saat masih SMA kini mengantarkan Mila Arlinda menjadi salah satu peternak muda inspiratif di Jawa Timur. Konsistensinya mengembangkan peternakan berbasis ilmu pengetahuan, pengalaman lapangan, dan pemberdayaan masyarakat menjadi bukti bahwa sektor peternakan memiliki masa depan yang menjanjikan, termasuk bagi generasi muda dan perempuan.(BY)