Jakarta – Praktisi human resources sekaligus kreator konten, Vina Muliana, menyoroti perubahan cara dunia kerja dalam menilai kandidat. Menurutnya, penilaian tidak lagi hanya berfokus pada nilai akademik seperti Indeks Prestasi Kumulatif (IPK), melainkan sudah bergeser ke aspek yang lebih luas.
Hal tersebut ia sampaikan dalam sesi GenZone pada acara iNews Media Group Campus Connect yang digelar di Universitas Jenderal Soedirman, Rabu (6/5/2026). Dalam pemaparannya, Vina menjelaskan bahwa IPK kini hanya berfungsi sebagai salah satu indikator awal dalam proses seleksi kerja.
Ia menegaskan bahwa meskipun IPK masih diperhitungkan, terutama pada tahap administrasi seperti di instansi pemerintah dan BUMN, angka tersebut tidak lagi menjadi penentu utama kelolosan kandidat.
Biasanya, pelamar tetap harus memenuhi standar minimal IPK tertentu, misalnya 3,0, agar bisa lanjut ke tahap seleksi berikutnya. Namun setelah itu, proses penilaian akan jauh lebih mendalam dan tidak hanya berpatokan pada angka.
Menurut Vina, IPK tinggi memang dapat memberi gambaran awal mengenai kedisiplinan dan kemampuan manajemen waktu seseorang selama masa studi. Kandidat dengan nilai di atas 3,5, misalnya, sering diasosiasikan memiliki kemampuan akademik yang baik.
Meski demikian, ia menekankan bahwa capaian akademik tidak cukup untuk menggambarkan kualitas seseorang secara menyeluruh. Karena itu, tahap wawancara menjadi bagian penting untuk menggali pengalaman, aktivitas, dan karakter pelamar selama masa kuliah.
Vina juga menyoroti bahwa tidak jarang IPK tinggi hanya mencerminkan fokus pada akademik tanpa diimbangi dengan pengembangan keterampilan lain seperti organisasi, komunikasi, atau pengalaman kerja.
Oleh karena itu, dunia kerja saat ini lebih cenderung mencari kandidat yang memiliki keseimbangan antara prestasi akademik, pengalaman praktis, dan kemampuan interpersonal. Kombinasi tersebut dinilai lebih sesuai dengan kebutuhan industri yang terus berkembang dan semakin dinamis.(BY)












