Jakarta – Canva resmi memperkenalkan pembaruan terbesar sejak pertama kali diluncurkan pada 2013 melalui kehadiran AI Canva 2.0. Inovasi ini menandai transformasi Canva dari sekadar alat desain menjadi platform terpadu yang mendukung alur kerja bisnis dengan bantuan kecerdasan buatan.
Dengan sistem terbaru ini, pengguna tidak hanya membuat desain, tetapi juga dapat mengelola ide hingga eksekusi kampanye secara otomatis dalam satu ekosistem.
Salah satu fitur unggulannya adalah desain berbasis percakapan, di mana pengguna cukup menggunakan perintah suara atau teks alami untuk menghasilkan karya. Teknologi ini mampu memahami konteks, sehingga proses revisi dapat dilakukan berkelanjutan tanpa harus mengulang dari awal.
Selain itu, hadir pula kemampuan orkestrasi agen yang memungkinkan AI bertindak layaknya rekan kerja. Dalam satu instruksi kompleks, sistem dapat menyusun strategi, memilih alat yang tepat, hingga menghasilkan materi kampanye siap pakai di berbagai platform.
Fitur kecerdasan berbasis objek juga memberikan kemudahan dalam pengeditan detail. Pengguna bisa mengubah elemen tertentu seperti gambar, teks, atau font tanpa memengaruhi keseluruhan desain.
Canva turut menghadirkan memori cerdas yang mampu mempelajari preferensi gaya dan identitas merek. Dengan begitu, setiap desain yang dibuat akan otomatis konsisten dengan karakter brand pengguna.
Tak hanya fokus pada desain, AI Canva 2.0 juga memperluas fungsi sebagai pusat alur kerja terintegrasi. Platform ini kini dapat terhubung dengan berbagai layanan seperti Slack, Gmail, Google Drive, Zoom, hingga HubSpot.
Melalui integrasi ini, pengguna dapat mengubah hasil rapat menjadi dokumen ringkasan atau mengonversi email menjadi materi promosi secara instan. Ditambah lagi, fitur otomatisasi memungkinkan tugas-tugas rutin seperti penjadwalan konten atau persiapan rapat dilakukan secara otomatis di latar belakang.
Canva juga memperkenalkan kemampuan pembuatan spreadsheet berbasis AI serta pengeditan file HTML secara visual tanpa perlu keahlian coding.
Di balik teknologi ini, tim Frontier AI Lab mengembangkan model multimodal milik sendiri, seperti Canva Proteus untuk transfer gaya, Canva Lucid Origin untuk pembuatan gambar, serta Canva I2V untuk video. Model-model ini diklaim lebih cepat dan efisien dibandingkan teknologi serupa.
Ekosistem Canva semakin diperkuat melalui kolaborasi dengan Anthropic dan integrasi dengan ChatGPT, sehingga hasil generasi AI dapat langsung disempurnakan dalam editor Canva.
Khusus bagi pengguna di Indonesia, Canva menghadirkan fitur offline yang memungkinkan pembuatan desain tanpa koneksi internet. Setelah tersambung kembali, seluruh pekerjaan akan otomatis disinkronkan.
AI Canva 2.0 mulai tersedia pada 16 April 2026 dalam tahap uji coba terbatas untuk satu juta pengguna pertama, sebelum diluncurkan secara bertahap ke seluruh pengguna dalam beberapa pekan ke depan.(BY)












