Jakarta – Gelombang aksi unjuk rasa yang berlangsung di berbagai wilayah dalam beberapa hari terakhir mulai terasa dampaknya pada roda perekonomian nasional. Tekanan terlihat dari anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), pelemahan rupiah, keluarnya modal asing, hingga sejumlah pusat bisnis yang terpaksa menghentikan operasional.
Sejumlah pengusaha memilih menutup sementara toko demi melindungi pekerja dan menghindari potensi kerugian. Bahkan, beberapa gerai masih belum kembali dibuka lantaran aksi massa masih terjadi di beberapa titik utama.
Berikut rangkuman dampak demonstrasi besar terhadap perekonomian Indonesia, Senin (1/9/2025):
- Apindo Keluarkan Imbauan Waspada
Ketua DPP Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) DKI Jakarta, Solihin, menyampaikan pihaknya telah memberikan peringatan kepada pelaku usaha untuk meningkatkan kewaspadaan menyusul masih adanya demonstrasi di Jakarta.
Menurutnya, kegiatan perdagangan jelas terganggu akibat situasi tersebut. Bahkan, sejumlah anggota Apindo di Jakarta memilih memulangkan pegawainya lebih awal.
“Keselamatan tetap jadi prioritas. Kami tidak memaksa semua toko tutup, tetapi meminta pelaku usaha menilai kondisi di lapangan masing-masing,” jelas Solihin.
- Sejumlah Toko Tutup
Lebih lanjut, Solihin menyebut banyak pemilik usaha di kawasan Jakarta Pusat memutuskan menutup gerai pada Jumat (29/8/2025). Penutupan ini dilakukan sebagai langkah pencegahan agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
“Kondisinya memang sedang rawan, jadi langkah penutupan sementara ini wajar dilakukan,” ujarnya.
- Pasar Saham dan Rupiah Tertekan
Gejolak politik di jalanan juga berdampak langsung pada pasar modal. IHSG pada penutupan pekan lalu terkoreksi 1,53% atau turun 121 poin ke posisi 7.830,49. Nilai kapitalisasi pasar pun menyusut hingga Rp195 triliun hanya dalam satu hari perdagangan.
Hal serupa dialami rupiah yang ikut melemah. Ketua Umum BPP Hipmi, Akbar Himawan Buchari, menilai bila aksi massa terus berlanjut, tekanan terhadap perekonomian nasional bisa semakin dalam.
“Jika situasi ini tidak segera mereda, dampaknya ke sektor keuangan dan investasi bisa lebih serius,” ungkapnya.(BY)












