Asap Karhutla Diduga Selimuti Payakumbuh

Kabut asap karhutla mulai menyelimuti langit Kota Payakumbuh
Kabut asap karhutla mulai menyelimuti langit Kota Payakumbuh

PayakumbuhKabut asap dengan intensitas cukup tebal mulai menyelimuti sejumlah daerah di Sumatera Barat dalam beberapa hari terakhir. Kota Payakumbuh dan Kabupaten Limapuluh Kota menjadi wilayah yang cukup terdampak kondisi tersebut.

Asap yang memenuhi udara menyebabkan jarak pandang masyarakat menurun. Kondisi langit juga terlihat berkabut sehingga suasana di luar ruangan tampak lebih buram. Pada siang hari, cahaya matahari bahkan terlihat kemerahan karena tertutup konsentrasi asap dan partikel di udara.

Dampak kabut asap mulai dirasakan masyarakat, terutama mereka yang beraktivitas di luar ruangan. Sejumlah pengguna jalan mengaku mengalami mata perih, tenggorokan terasa gatal atau sakit, hingga kesulitan bernapas ketika berkendara.

Situasi tersebut membuat sebagian warga memilih mengurangi kegiatan di luar rumah sebagai langkah untuk meminimalkan paparan asap.

Baca Juga  Idul Adha 1447 H, DPRD Payakumbuh Sebut Partisipasi Kurban Cerminkan Gotong Royong Warga

Salah seorang pengendara di Payakumbuh, Ralma, mengatakan kondisi udara terasa semakin tidak nyaman sejak pagi hingga siang hari.

“Kalau berkendara, mata terasa perih dan tenggorokan juga cepat sakit. Pandangan pun terlihat semakin kabur,” katanya, Rabu (2/9/2026).

Diduga Berasal dari Karhutla di Wilayah Tetangga

Kabut asap yang menyelimuti Payakumbuh dan Limapuluh Kota diduga berkaitan dengan asap dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Sumatera, termasuk Provinsi Riau dan Jambi.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebelumnya menyebut beberapa wilayah Sumatera Barat berpotensi mengalami kondisi udara kabur akibat pengaruh asap karhutla yang terjadi di kawasan regional. Limapuluh Kota dan Kota Bukittinggi termasuk daerah yang berpotensi terdampak.

Baca Juga  PLN Kerahkan Personel Amankan Kelistrikan Gelaran Pacuan Kuda di Payakumbuh

Masyarakat diimbau mengurangi kegiatan di luar ruangan selama kondisi udara memburuk. Jika harus beraktivitas di luar rumah, warga disarankan menggunakan masker yang sesuai standar kesehatan.

Masyarakat yang mengalami keluhan serius, khususnya gangguan pernapasan, juga diminta segera mendapatkan pemeriksaan di fasilitas pelayanan kesehatan terdekat.(des*)