Jakarta – Badan Pusat Statistik (BPS) kembali menunjukkan kemampuannya beradaptasi dengan perkembangan teknologi dengan meraih penghargaan dalam ajang Digital Innovation Awards 2026 yang digelar oleh iNews Media Group di iNews Tower, Jakarta, pada Jumat (22/5/2026).
Penghargaan tersebut diberikan atas keberhasilan BPS dalam memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) serta sumber data alternatif untuk meningkatkan kualitas dan akurasi data statistik nasional. Dalam ajang tersebut, BPS memenangkan kategori Digital Innovation in Public Services.
Transformasi digital yang dilakukan BPS kini telah menyentuh seluruh proses kerja, mulai dari tahap perencanaan, pengumpulan data, hingga penyajian kepada publik. Pemanfaatan teknologi modern menjadi kunci dalam menghasilkan data yang lebih cepat, efisien, dan akurat, terutama di tengah kompleksitas dinamika sosial saat ini.
Penggunaan AI telah diterapkan dalam berbagai kegiatan, termasuk sensus dan survei rutin. Teknologi ini membantu mempercepat proses pengumpulan, pengolahan, analisis, hingga penyebarluasan data kepada masyarakat.
Direktur Metodologi Statistik dan Sains Data BPS, Setia Pramana, menjelaskan bahwa penerapan AI telah dilakukan secara menyeluruh di setiap tahapan statistik. Hal ini memungkinkan proses kerja menjadi lebih efisien sekaligus menghasilkan data yang lebih informatif bagi publik.
Selain AI, BPS juga memanfaatkan Mobile Positioning Data (MPD) sebagai sumber data baru di luar metode survei konvensional. Dengan menggandeng operator seluler seperti Telkomsel, Indosat, dan XL Axiata, BPS mampu memantau pergerakan masyarakat, termasuk wisatawan domestik dan mancanegara, mobilitas antarwilayah, hingga pola perjalanan komuter di kawasan perkotaan.
Inovasi juga diterapkan di sektor pertanian melalui pemanfaatan citra satelit untuk memantau kondisi lahan, khususnya tanaman padi. Teknologi ini dikembangkan bersama BRIN, akademisi, serta lembaga internasional seperti FAO dan Perserikatan Bangsa-Bangsa. Dengan metode ini, pemantauan pertumbuhan tanaman dapat dilakukan secara jarak jauh, mulai dari masa tanam hingga panen.
Pendekatan berbasis teknologi tersebut diharapkan dapat mengurangi ketergantungan pada survei lapangan yang memerlukan biaya besar serta beban responden yang tinggi. Sejak beberapa tahun terakhir, berbagai inovasi ini telah diuji secara bertahap untuk memastikan keandalan metodologi yang digunakan.
Menurut Setia, penggunaan data berbasis ponsel telah dimulai sejak 2018, sementara teknologi satelit mulai diterapkan beberapa tahun terakhir. Ke depan, metode ini diharapkan dapat menjadi sumber utama dalam penyusunan data produktivitas pertanian setelah melalui proses validasi dengan metode konvensional.
Ia juga menegaskan bahwa inovasi tersebut berdampak signifikan terhadap peningkatan akurasi data dan efisiensi birokrasi. Data yang lebih presisi memungkinkan pemerintah merumuskan kebijakan yang lebih tepat sasaran, termasuk dalam menjaga ketahanan pangan nasional.
Penghargaan ini menjadi dorongan bagi BPS untuk terus berinovasi dan meninggalkan metode lama yang kurang relevan. Pengakuan dari publik dan media dinilai sebagai bukti bahwa langkah transformasi digital yang dilakukan telah berada di jalur yang tepat.(BY)












