Tekno  

Angka Kelahiran Dunia Turun, Smartphone dan Media Sosial Jadi Sorotan

Ilustrasi.
Ilustrasi.

Jakarta – Penggunaan smartphone yang semakin masif serta menurunnya interaksi langsung antarindividu diduga menjadi salah satu faktor yang memengaruhi turunnya angka kelahiran secara global, terutama di kalangan generasi muda. Hal ini dilaporkan oleh Financial Times berdasarkan analisis peneliti dan data demografi.

Studi yang menggabungkan data kependudukan serta tren pencarian di Google menunjukkan adanya penurunan angka kelahiran yang cukup signifikan di berbagai negara setelah teknologi ponsel pintar mulai digunakan secara luas. Pola ini terlihat meskipun sebelumnya tren demografis di sejumlah wilayah cenderung stabil, seperti dilaporkan pada Sabtu (16/5/2026).

Dalam laporan tersebut, profesor ekonomi Universitas Pennsylvania, Jesus Fernandez-Villaverde, menyebut penurunan angka kelahiran sebagai salah satu isu besar pada era modern. Ia menilai bahwa berbagai tantangan sosial dan ekonomi saat ini tidak lepas dari dampak jangka panjang menurunnya tingkat kelahiran.

Sejumlah peneliti juga mulai mengaitkan kebiasaan menggunakan smartphone dan media sosial secara berlebihan dengan berkurangnya interaksi tatap muka, yang kemudian berdampak pada keputusan memiliki anak di berbagai negara seperti Amerika Serikat, Inggris, Brasil, hingga Korea Selatan.

Baca Juga  Xiaomi Ubah Tampilan HyperOS, Ikon Glowing, UI Transparan, dan Animasi Lembut

Salah satu kajian yang dikutip Financial Times berasal dari Nathan Hudson dan Hernan Moscoso-Boedo dari Universitas Cincinnati. Penelitian tersebut menganalisis perubahan angka kelahiran di AS dan Inggris seiring meningkatnya penggunaan jaringan 4G dan penetrasi smartphone.

Para peneliti menyimpulkan bahwa kehadiran ponsel pintar mengubah pola aktivitas sosial anak muda, termasuk mengurangi waktu pertemuan langsung. Di beberapa negara seperti Amerika Serikat, Inggris, dan Australia, angka kelahiran di kelompok usia muda relatif stabil pada awal 2000-an, namun mulai menurun setelah 2007, ketika smartphone mulai populer.

Tren penurunan serupa juga terlihat di berbagai wilayah lain. Prancis dan Polandia mengalami penurunan sejak 2009, disusul Meksiko, Maroko, dan Indonesia sekitar 2012. Sementara itu, negara-negara seperti Ghana, Nigeria, dan Senegal mencatat penurunan yang cukup tajam pada periode 2013 hingga 2015.

Laporan Eurostat yang dirilis baru-baru ini juga memperkirakan bahwa populasi Uni Eropa akan mengalami penurunan sekitar 11 persen atau setara 53 juta orang dalam 75 tahun mendatang. Jumlah penduduk diprediksi mencapai puncak sekitar 453 juta pada 2029 sebelum turun di bawah 400 juta pada akhir abad ini, seiring tingkat kesuburan yang menurun hingga sekitar 1,3 anak per perempuan.

Baca Juga  Layar Berkedip? Ini Penyebab dan Solusi di DisplayPort

Di sisi lain, beberapa negara mulai mengambil langkah untuk memperkuat kembali interaksi sosial. Rusia, misalnya, pada 2024 menerapkan aturan yang membatasi penggunaan ponsel di lingkungan sekolah, dengan pengecualian hanya untuk kondisi darurat.(BY)