Jakarta – Pejuang bulu tangkis Denmark, Hans Kristian Vittinghus, tak bisa menyembunyikan tangisnya saat mengetahui bahwa Istora Senayan tidak akan lagi menjadi tuan rumah Indonesia Open. Pemain tunggal putra berusia 37 tahun ini mengungkapkan rasa emosionalnya setelah mendengar keputusan resmi Pengurus Besar Bulu Tangkis Indonesia (PBSI) untuk memindahkan turnamen bergengsi BWF Super 1000 ke Indonesia Arena, Jakarta.
Indonesia Open 2023 menjadi edisi terakhir yang digelar di Istora Senayan, menjadikan momen ini berarti sangat istimewa bagi Vittinghus. Air mata tak terbendung pun mengalir ketika dia menyadari bahwa penampilannya dalam Indonesia Open 2023 akan menjadi yang terakhir di tempat yang telah menjadi bagian penting dari perjalanan karirnya.
“Dalam keadaan sangat emosional. Bahkan, saya menitikkan air mata sedikit selama pemanasan. Namun, saya berhasil mengendalikan emosi dan memberikan penampilan terbaik. Setelah pertandingan, air mata tak terelakkan kembali mengalir. Tapi, tidak apa-apa, ini menunjukkan betapa berartinya bagi saya,” ungkap Hans Kristian Vittinghus dengan suara serak.
Istora Senayan memiliki tempat khusus di hati Vittinghus. Atmosfer yang unik dan berbeda dari arena-arena bulu tangkis lainnya membuatnya merasa terkesan. Ia mengakui bahwa Istora Senayan adalah tempat yang paling sering ia mainkan selama karirnya dan merasa sedih karena tidak akan kembali lagi.
“Tempat ini sangatlah istimewa bagiku. Saya pikir inilah tempat yang paling sering saya mainkan sepanjang karirku. Jadi, saya merasa sedih bahwa saya tidak akan kembali ke sini,” ucap Vittinghus dengan perasaan pilu.
“Penggemar di sini jauh lebih bersemangat daripada di tempat lain di dunia. Ini adalah rumahnya bulu tangkis, dan saya adalah seorang pecinta bulu tangkis sejati. Ini adalah tempat terbaik untuk bermain,” tambahnya dengan penuh kebanggaan.
Tak terhitung berapa kali Vittinghus telah bermain di Indonesia sejak debutnya pada Indonesia Open 2008. Meskipun beberapa kali Indonesia Open diadakan di tempat lain, seperti Bali pada tahun 2021, Istora Senayan tetap menjadi tempat paling berkesan bagi pebulu tangkis berusia 37 tahun ini.
“Saya telah merasakannya sejak tahun 2008. Dan hari ini, saya masih merasakan keistimewaannya setiap saat. Anda benar-benar perlu mengalaminya sendiri untuk benar-benar memahaminya,” ungkap Vittinghus dengan suara penuh kenangan.
“Dalam 15 tahun terakhir, saya telah bermain dalam 15 Indonesia Open dan enam Indonesia Masters. Jadi, saya telah berada di sini lebih dari 20 kali,” tutup Vittinghus dengan rasa syukur.
Keputusan PBSI untuk memindahkan Indonesia Open ke Indonesia Arena mengakhiri babak baru dalam sejarah bulu tangkis di Istora Senayan. Meskipun ada rasa kehilangan, para penggemar dan atlet akan terus menyimpan kenangan tak terlupakan di tempat yang telah menjadi saksi perjuangan dan prestasi gemilang.(by)












