Padang Pariaman – Halaman Kantor Kecamatan Batang Anai dan Aula Kecamatan 2×11 Kayu Tanam di Kabupaten Padang Pariaman, mendadak berubah menjadi kumpulan warga, pada Sabtu pagi (28/2/2026).
Wajah-wajah yang pernah diguncang badai ekonomi dan bencana berdiri dengan satu perasaan yang sama berharap. Di tangan mereka, secarik harapan senilai Rp8 juta digenggam erat. Bukan sekadar uang, melainkan peluang untuk bertahan hidup.
Sebesar Rp9.384.000.000 dana Bantuan Stimulan Sosial Ekonomi (BSSE) tahun 2026 resmi mengalir kepada 1.173 keluarga penerima manfaat (KPM) di Padang Pariaman, Sumatera Barat.
Setiap keluarga menerima Rp5 juta untuk stimulus ekonomi dan Rp3 juta untuk isian hunian. Total Rp8 juta.
Pertanyaannya sederhana namun menggelitik Cukupkah angka itu untuk membangunkan usaha kecil yang lama mati suri?
Bagi sebagian warga, dana itu akan berubah menjadi etalase baru di depan kedai, menjadi kompor pengganti yang lama rusak, atau menjadi tambahan stok dagangan agar lapak kembali ramai.
Bagi yang lain, uang itu adalah penyelamat agar dapur tetap menyala dan anak-anak masih bisa bersekolah tanpa dihantui tunggakan. Di tengah himpitan hidup, Rp8 juta bisa terasa seperti napas pertama setelah lama tenggelam.
Tak semua mampu menyembunyikan perasaan. Ada yang menangis tertunduk, ada pula tawa pecah bersama di sela-sela kerumunan. Ibu-ibu saling berpelukan, bapak-bapak tersenyum kaku menahan haru.
Mereka yang pernah kehilangan usaha, rumah rusak, bahkan terpaksa berutang demi menyambung hari. Kini berdiri dengan campuran cemas dan optimisme. BSSE datang di saat banyak keluarga nyaris menyerah.
Program ini, menurut Bupati Padang Pariaman, John Kenedy Azis, bukanlah bantuan karitatif semata. “Ini stimulus agar masyarakat bangkit dan kembali produktif,” tegasnya di hadapan warga.
Pernyataan itu disambut tepuk tangan, tetapi publik tentu menunggu lebih dari sekadar seremoni dan foto simbolis. Mereka menanti bukti bahwa dana ini benar-benar menjadi bahan bakar kebangkitan ekonomi rakyat kecil.
Data dari Kementerian Sosial Republik Indonesia mencatat 1.173 KPM di Padang Pariaman sebagai penerima.
Kecamatan Batang Anai menjadi yang tertinggi dengan 630 penerima, disusul 2×11 Kayu Tanam sebanyak 232 KPM, sementara sisanya tersebar di kecamatan lain dengan angka di bawah 100.
Deretan angka itu bukan statistik dingin, ia adalah potret nyata beban sosial yang tak bisa lagi diabaikan.
Penyaluran dana dilakukan bekerja sama dengan PT Pos Indonesia Cabang Pariaman untuk menjamin ketertiban dan transparansi. Kini sorotan publik tertuju pada keberlanjutan program ini.
BSSE 2026 telah diluncurkan dengan gegap gempita. Namun akankah ia benar-benar menjadi titik balik kebangkitan ekonomi warga, atau sekadar penawar luka sesaat di tengah kerasnya realitas hidup?(sri).












